Tung… itung… !

Reaksi pertama ketika judul  “Matematika Logis” ini muncul di WAG Kelas Surabaya 2, mereka langsung mengutarakan “angka atau bilangan”

Wajar sekali. Karena sejak dahulu kala, Matematika erat kaitannya dengan angka. Namun, pada level 6 ini semua diajak untuk memahami bahwa Matematika tidak melulu soal angka. Hal ini pun untuk kemudian menepis anggapan Matematika sebagai momok yang begitu menakutkan ketika dipelajari, baik di rumah maupun di sekolah.

Akhirnya semua baru tercerahkan bahwa Matematika di sekitar kita itu ternyata banyak sekali. Tak melulu angka. Bangunan ruang atau dalam bentuk dua dimensi, bisa menjadi bagian dari pembelajaran Matematika untuk si kecil. Bahkan membandingkan mana bentuk yang besar, kecil atau jumlah yang banyak dan sedikit, itu juga termasuk.

Banyak sekali permainan dengan metode Montessori yang mengandalkan Matematika Logis sebagai bentuk pembelajaran bagi yang mengikutinya. Sehingga sejak dini anak terkonsep dengan baik dan mencintai Matematika tanpa harus merasa terbebani dengan bejibun angka di depan mata.

*BONUS*

Ciri Anak yang Tumbuh dengan Metode Berpikir Matematika Logis:

Sebagai bonus, saya memberikan sedikit tambahan referensi bagaimana seorang anak itu tumbuh dengan kecerdasan matematika logis dalam dirinya, antara lain:

  • Banyak bertanya tentang segala hal. Tidak pernah cepat puas pada jawaban sederhana apalagi dengan satu sumber jawaban.
  • Senang berkesperimen. Bisa diperhatikan ketika si anak bermain atau mengerjakan sesuatu, baik sendiri atau bersama dengan temannya
  • Selalu ingin tahu asal mula sesuatu
  • Sangat teliti dalam memperhatikan proses kerja sesuatu dan menjadikannya bahan pertanyaan yang bisa jadi berlanjut terus-menerus
  • Suka memecahkan teka-teki
  • Suka dengan cerita-cerita yang membutuhkan insting detektif dalam diri

Dan masih ada ciri-ciri lainnya sesuai usia si anak pastinya. Ciri-ciri di atas bisa diamati pada anak. Jika memang dominan, maka sudah seharusnya para ibu untuk terus memberikan fasilitas yang sesuai untuk mendukungnya.

Suasana Kelas Surabaya 2

Karena menjadi level terakhir selama Semester I berlangsung, saya pun menjadi semakin bersemangat untuk menyelesaikan segala jenis “utang kerjaan” sebagai Fasil.

Teman-teman yang berada di level 6 juga ikut semakin semangat supaya tidak tereliminasi. Karena sungguh sangat disayangkan jika sudah setengah perjalanan lalu kemudian terhenti. Kecuali bagi yang memang memiliki uzur yang urgent maka apa boleh buat semuanya harus diikhlaskan untuk menghentikan perjalanan menuntut ilmu di kelas Bunda Sayang.

Memang masih banyak yang bertahan. Namun, yang bertahan pun juga semakin redup semangatnya dalam mengerjakan game yang diberikan. Bahkan ada yang harus mengalah pada kenyataan lagi kalau “telat submit” itu bukan jadi alasan untuk kemudian tetap bertahan di kelas.

Saya memang sedikit kasihan kepada mereka yang mengalami hal ini, tetapi sayang sekali saya harus tetap menjalankan aturan dan tegas menjadi salah satu bentuk perhatian kepada peserta Bunda Sayang lainnya untuk tidak lengah apalagi menunda-nunda waktu submit. Sebab, time flies so fast. Semuanya akan berjalan tanpa disadari semuanya sudah berada pada titik akhir.

Tim Solid Perangkat Kelas

Sebuah kapal akan terus melaju ketika seluruh awak kapalnya bekerja sama sesuai kewajiban dan haknya. Maka saya sangat berterima kasih karena seluruh Perangkat Kelas Surabaya 2 pada Bunda Sayang Batch #5 ini kompak dan disiplin. Saya saja sebagai Fasil ikut menjadi “terbangun” pada kelalaian yang berawal dari menunda-nunda.

Maka beruntunglah Fasil selanjutnya yang bekerja sama dengan mereka pada Semester II mendatang.

Perolehan Badge

Untuk peserta yang mendapatkan badge pada level ini sedikit bertambah dibandingkan pada level 5 lalu. Saya bersyukur karena semangat belajar dan bertahan mereka masih ada. Diperjuangkan dengan baik dan memang hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha, bukan? Ada beberapa peserta yang akhirnya tidak jadi di-remove karena mencegah diri dalam mengalami “gagal dapat badge 3 kali berturut-turut”.

Ada juga yang kemudian melesat sehingga mendapatkan badge OP dengan sekuat tenaga untuk memperbaiki kesalahannya pada dua level sebelumnya. Nah, dari sini nampak sekali kalau sesuatu diusahakan dengan kerja keras dan menyediakan waktu, pasti BISA! Setuju, bukan?!

***

Well… saya senang Semester I sudah terlewati dengan baik. Meskipun ada saja “seleksi alam” yang terjadi, rasanya itu sudah sunnatullah karena seperti itulah ritme semangat setiap orang berbeda-beda