Benarkah Happy Innerchild itu Ada? – Sesaat saya tertegun sendiri membaca tulisan “Happy Innerchild”. Sejauh ini ternyata saya hanya terkungkung dengan paradigma innerchild itu hanyalah kenangan kesengsaraan di masa kecil. Betapa semua yang terjadi di masa kecil, khususnya yang sakit, sedih bahkan tidak pantas untuk disebutkan, saya mengira itu semua adalah “sampah” yang belum sempat terbuang dan sekarang aromanya mengganggu di masa kini.

Mengikuti Parade Webinar Sesi I yang diadakan oleh Ruang Pulih dengan menghadirkan kak Adjie dan dokter Rai, membuka mata saya bahwa semuanya diciptakan berpasangan, antara sedih dan bahagia. Begitu juga masa kecil. Sekecil apapun pasti ada happy innerchild yang perlu diangkat dan dijadikan motivasi hidup saat ini dan nanti.

Jujur sekali, masa kecil saya tidak seperti orang kebanyakan. Saya hanya tahunya belajar, di rumah, bermain dengan orang tertentu dan harus patuh apapun keputusan orang dewasa. Baik atau buruk, anak kecil hanya mengikuti. Saya tidak bisa marah karena ketika marah maka hukuman akan semakin parah.

Ulang Tahun dan Mama

Ketika saya mencoba mengingat masa lalu dengan mama, sesak yang ada. Ingin sekali mengulang masa itu dan mencoba berani mengatakan apa yang saya mau dan apa yang tidak mau. Saya ingin mama tahu bahwa ada sikapnya yang tidak bagus untuk tubuhku. Saya ingin mama tahu kalau saya sayang dengannya meskipun dengan cara berbeda. Dan itu adalah ulang tahun pertama dan terakhir yang saya rayakan dan dapat kado dari teman-teman.

Suatu ketika saya ingat betul mama sengaja membuatkan kue ulang tahun. Dibawa ke sekolah dan ulang tahun dirayakan bersama teman-teman sekelas waktu itu. Hanya saja, saya menganggap semua itu bukan bentuk mama sayang. Mama melakukannya karena segan dengan wali kelas saya waktu itu. Namun, saya percaya bahwa mama sayang meskipun juga sulit mengungkapkannya dengan cara yang lebih membuat saya tersentuh.

Benar begitu, kan Ma?

Selalu ke Toko Buku bersama Bapak

Pak, bagaimana kabarmu di alam sana? Masih tetap terangkah kuburmu dengan doa anak-anakmu?

Bapak…

Hari ini aku baru menyadari bahwa ternyata kenangan bersamamu lebih banyak bahagianya. Bahkan kesedihan karena dimarahi bapak tertutup dengan rasa cinta yang sangat besar. Kehilanganmu ternyata membuat semua kenangan manis itu mencuat seketika hingga membuat tubuh tak ingin beranjak ke masa kini apalagi masa depan. Semua karena saya senang terlindungi dengan kehangatan, wibawa dan kepintaranmu.

Bapak…

Ternyata jasamu begitu besar membuat fragmen-fragmen happy inner child yang baru saya sadari. Saya terlalu larut dalam drama sikap mama yang jauh berbeda dengan dirimu. Saya merasa terlalu berharga untuk disakiti sehingga ketika itu terasa, sungguh sangat tidak menerimanya dan akhirnya bermain-main dengan rasa sakit itu. Dramanya hingga kepergianmu pun tak kunjung pergi.

Saya masih ingat bagaimana bahagianya saya mendapatkan jatah buku bacaan ketika di toko buku. Betapa saya akan sangat manja ketika memperlihatkan buku yang kuinginkan. Bahkan seringkali ada kejutan di kasir karena ada buku-buku untuk saya yang telah dipilih langsung olehmu.

Itulah fragmen masa kecil yang bahagia sebenarnya. Harusnya aku angkat naik tinggi-tinggi agar sad inner child tidak menjadikan saya berada dalam keterkungkungan seperti ini karena tak kunjung selesai dramanya.

Namun, tahukah kamu wahai bapak, setelah mendengar dokter I Gusti Rai, Sp. KJ saya jadi terduduk dan merenungi bahwa saya tidak bisa sembuh dengan luka karena “merasa nyaman” dengannya. Saya sendiri yang menganggap itu wajar untuk disimpan dan dibuka sewaktu-waktu seperti kotak pandora. Tadinya pikiran mengatakan bahwa dengan menyimpan bisa menjadi sebagai pengingat diri untuk tidak demikian. Nyatanya, nyaris semua pengalaman pahit dengan mama justru seperti terulang antara saya dengan anak-anak sekarang. Dan itu sungguh membuat saya semakin sakit.

happy inner child

Happy Inner Child itu Nyata

Bagi yang tidak memahami, mungkin saja saya dianggap lebay atau apa saja yang berkenaan dengan itu. Namun, sejak malam 15 Agustus 2021 lalu, saya kemudian pelan-pelan membuka kotak pandora dan memanggil kenangan itu kemudian mengatakan bahwa Masa Kecil Saya TIDAK SEMUA Hanya Kesedihan Semata. 

Dengan ini saya mau memanggil semua kenangan manis itu untuk memeluk semua kenangan sedih dan pahit dan mengatakan: Sudahlah, Tidak Perlu Drama Lagi. Sudah Selesai dan Saatnya Hidup di Masa Kini. 

Mengasuh Diri dengan Sehat Mental dalam Rumah Tangga

Sekarang sudah berkeluarga dan tentunya ingin menorehkan hal bahagia juga pada masa kecil anak-anak saya. Pastinya tidak ingin mengulang hal pahit untuk mereka kenang sebagai sad inner child. Saya harus menemukan diri saya yang bahagia agar mereka tumbuh dan berkembang dengan baik dan bahagia juga. Saya tidak ingin menyesal ketika usia diberikan sampai tua.

Bagaimana kemudian saya mengasuh diri dan anak-anak? Sejauh ini saya pahami dengan memulainya dari kandungan. Kemudian saya melempar diri di masa mengandung anak pertama. Saya ingat bahwa ada kondisi yang seolah kehamilan itu menjadi beban dan sempat mengganggu impian untuk bekerja di ranah publik. Dan mungkin seperti itu juga yang dirasakan mama saya ketika mengandung saya di usia yang masih sangat muda dan harusnya masih sekolah.

Saya teringat perkataan dr. Rai bahwa kesehatan mental itu penting karena akan berpengaruh juga pada janin. Ibu yang kuat ketika hamil maka anak pun lahir tangguh. Begitu juga sebaliknya. Dan apa yang menjadi masalah di masa kini, bukan serta-merta pemicunya dari masa kini juga, bisa terkait dengan masa lalu bahkan saat dalam kandungan.

Dan semuanya itu kembali mengusik pikiran saya bahwa memang ternyata rumah tangga yang sudah berjalan kurun waktu 9 tahun ini sedikit banyaknya karena ada kondisi masa lalu. Saya masih terus belajar menjadi ibu yang sempurna padahal nyatanya seringkali saya bersikap mirip mama. Sikap yang tak diinginkan anak-anaknya bahkan suaminya sendiri.

***

Well, terima kasih Mba Intan Maria Lie dari Ruang Pulih yang sudah membuka mata saya bahwa happy inner child itu ada… Mari bahagia! Yuk bisa yuk!