Cara Mendidik Anak Balita Zaman Now – Kok balita? Bukan anak? Hmm… jawabannya sederhana, karena memang saat ini anak saya masih berusia balita. Saya tidak ingin membicarakan anak (apalagi anak orang lain) karena lagi-lagi karakteristik setiap anak berbeda. Mungkin ada yang bilang aktifnya anak saya sama dengan aktifnya anak si A, si B atau si C, tetapi tetap saja ada perbedaan yang bisa diperoleh jika dilihat lebih jauh. So, mari kita fokus dengan anak sendiri, hehe…

Salfa, itulah nama panggilannya yang terkadang menjadi Fafa. Usianya 3,5 tahun. Anaknya aktif, cerewet, pandai bernegosiasi bahkan sangat kritis terhadap sesuatu hal. Alhamdulillah karena dia tumbuh tanpa kekurangan fisik yang sebelumnya sudah sempat membuat saya takut. Ya, usia jelang satu tahun, sempat ada masalah di bagian pipinya sehinga nyaris saja dilakukan tindakan operasi. Dan Allah lagi-lagi mengabulkan doa saya.

Back to cara mendidik anak balita zaman now…

Sejujurnya, mendidik Salfa butuh ekstra tenaga, pengetahuan dan pastinya waktu. Banyak yang menyarankan agar Salfa disekolahkan PAUD, namun saya dan suami sependapat untuk belum mau menerjunkannya ke dunia sekolah, dunia yang penuh keteraturan yang “dipaksa”. Ya, usia Salfa belum akan paham dengan seperti itu. Karena usianya justru hanyalah bermain yang kemudian bisa diisi dengan bermain yang berkualitas.

Meskipun membutuhkan tenaga, waktu dan pengetahuan saat membersamainya, saya justru merasa tenang karena setidaknya saya memiliki teman berimajinasi, teman diskusi bahkan sesekali berdebat akan sesuatu hal. Dan di sinilah suka duka menjadi ibu yang setiap hari akan berbeda.

Penasaran bagaimana cara mendidik anak balita zaman now seperti Salfa, let’s check it out:

Playdate

Siapa bilang zaman sekarang sudah jarang tempat untuk melakukan kegiatan menyenangkan namun esensinya adalah belajar? Siapa bilang playdate harus berada di luar rumah atau luar kota? Playdate sejatinya adalah momen membersamai anak yang kegiatannya “terlihat bermain-main saja” namun sebenarnya ingin mengetahui sesuatu. Bisa di dalam rumah, tempat umum, tempat bersejarah bahkan di lingkungan tempat tinggal kita pun bisa.

Nah, karena kontrakan saya kecil, maka terkadang playdate yang saya lakukan pun sederhana, seperti membuat puzzle dari karton bekas, membuat balon udara sederhana dan masih banyak lagi yang lainnya. Dan sesekali kami ikut kegiatan komunitas playdate sebagai media untuk bersosialisasi juga.

Bahkan melakukan kegiatan Montessori yang sekarang sedang naik daun pun menjadi agenda kami, karena salah satu jalan untuk anak tetap enjoy meski belajar dari rumah adalah bervariatifnya apparatus pembelajaran dalam bingkai permainan yang diberikan.

Kenalkan Gadget Sesuai Porsi Kebutuhan

Siapa bilang anak tidak boleh dikenalkan gadget? Siapa bilang gadget hanya smartphone? Tidak perlu dipersempit pandangan dan pikiran kita soal gadget karena anak tidak tumbuh pada zaman kita, jadi sangat aneh saja jika ada yang sama sekali tidak mengenalkan gadget.

Takut kecanduan? Lha… itu sudah tugas kita sebagai orang tua untuk mengontrol, bukan? Dan perlu juga digaris bawahi bahwa tidak semua (meski sebagian kecil), anak yang kecanduan gadget akhirnya jadi “bermasalah”. Lagi-lagi diperlukan bimbingan.

Alhamdulillah Salfa sudah bisa mengerti kapan harus memegang gadget dan melihat apa saja di dalam gadget tersebut. Hasilnya? Salfa mampu bicara dengan jelas dan banyak kosakata di usia 1 tahun. Dan ini menjadi salah satu berita bahagia saya karena sempat Salfa jadi seperti kecanduan gadget. Setelah dilakukan pendekatan dari hati ke hati dan mencoba stimulasi yang lain sebagai terapi mengatur gadget timing, Alhamdulillah sudah mampu untuk mengerti kapan harus memegang gadget.

Bacakan Buku dengan Penuh Ekspresi

Membacakan buku ke anak ternyata memiliki dampak positif yang luar biasa besar. Kosakata anak menjadi meningkat, mampu berkomunikasi dengan ragam intonasi dan juga ekspresi, bahkan sudah sangat cinta dengan buku sehingga saat bangun tidur yang dicari adalah bukunya.

Nah, membacakan buku ini berarti sebagai orang tua zaman now sudah harus siap merogoh saku lebih dalam untuk menyediakan buku-buku bacaan bermanfaat sesuai usianya. Tidak perlu pelit dengan anak, toh itu rezeki anak yang dititipkan kepada kita. Tetapi, tetap juga tidak boros seenaknya ya. Emak-emak zaman now pasti tahulah maksud saya.

Komunikasi Produktif

Saya selalu menekankan kepada suami bahwa saat berkomunikasi dengan anak, sebaiknya selalu memposisikan anak sebagai orang yang ingin didengar. Pola-pola kalimat yang menekan, mengancam bahkan (maaf) menghina mungkin, sebaiknya dihindari. Begitupun dengan siapa saja.

Komunikasi produktif sudah menjadi contoh nyata dimana saya mampu mengetahui apa isi kepala dan perasaan Salfa. Saat dia sedih, marah, kesal memang masih dilampiaskan dengan ekspresi tantrum namun saya tidak letih untuk memberinya waktu melampiaskan semua itu daripada dipendam. Setelah reda, saya kemudian menanyakan ada apa dan kenapa sampai dia berbuat seperti itu.

Didik Anak Sesuai Fitrahnya

Hal ini yang sedang saya pelajari dan terus saya mencari ilmunya. Karena saya pernah mendapatkan semacam quote yang sangat menyentuh, berbunyi seperti ini:

Jangan Pernah Khawatirkan Rezeki Anakmu, Khawatirlah Jika Ia Kehilangan Fitrahnya

Nah dari situ saya semakin tercambuk untuk terus mengasah fitrah-fitrah yang sudah dibawa Salfa (dan anak-anak di dunia ini) sejak lahir. Contoh kecilnya adalah fitrah keimanan. Usia untuk memastikan fitrah keimanan anak benar-benar digali dan dididik dengan baik adalah 0-7 tahun. Salfa harus memahami siapa Tuhannya, mengapa lahir di bumi ini dan segala hal yang berhubungan dengan ruhaniyahnya. Sebab, jika di usia ini Salfa sudah mampu, maka usia 7 tahun, dimana usia anak sudah wajib untuk menegakkan shalat, sudah bukan lagi hal yang membuat orang tua pusing.

Dan apakah ini mudah? Oh tentu tidak. Tentu banyak tantangannya. Tak hanya internal tetapi juga eksternal. Menyerah? No way. Karena Salfa adalah bekal amal jariyah yang harus saya pastikan sehingga kelak bisa kembali bersama di surga.

Gabung Komunitas Parenting

Hidup ini harus bermasyarakat, bukan? Dengan bergabung dengan manusia satu dan manusia lainnya, saya jadi banyak referensi tentang bagaimana mendidik anak yang seharusnya. Memang sih ada yang berprinsip ilmu parenting bisa diperoleh dengan baca buku, browsing… tidak salah. Hanya saja ketika kita saling bertemu dengan saudara kita yang sesama pendidik anak, tentu akan lebih terasa berbeda saat mereka sharing atau memberikan solusi terhadap sebuah kasus pendidikan anak.

Well… seperti itulah cara saya. Intinya saya tidak tinggal diam. Terus belajar, membaca dan berinteraksi. Karena mendidik anak bukan soal 1 + 1 = 2.