Cara Menjadi Ibu Bahagia dari Kekuatan Diri yang Dimiliki – Sejak melangkah menjadi mahasiswi di Institut Ibu Profesional (IIP) tahun 2017 silam, saya semakin menyadari bahwa banyak hal yang harus berubah dari dalam diri, khususnya dalam pola pengasuhan anak dan bagaimana menjadikan rumah tetap menjadi tempat ternyaman untuk suami dan kedua anak saya yang masih dalam masa pertumbuhan serta harus memastikan saya tetap menjadi ibu bahagia.

Punya bayi lagi setelah 5 tahun lamanya, ternyata membuat saya semakin percaya bahwa kebahagiaan sebagai perempuan yang memilih resign dari pekerjaan sebagai dosen, semuanya ada di rumah dan pekerjaan yang saya tekuni di rumah (baca: nge-Blog). Keseharian yang mungkin di mata orang banyak di luar sana itu sangat membosankan, tetapi kalau dijalani dengan ikhlas, niat beribadah dan harapan menjadi penghuni surga, menjadi suntikan semangat tak tergantikan.

Lebay?! Whatever… 

Semakin bahagia ketika saat ini sudah berada di level Bunda Cekatan yang semakin menantang saya untuk memahami diri saya sebagai perempuan, istri dan ibu. Saya ditanya hal yang membuat bahagia sampai saat ini hingga tetap memilih untuk melepaskan kesempatan berada di ranah publik dan berkutat hampir 90% di ranah domestik saja. Dan pertanyaan itu kemudian bisa tergambar dari kuadran kekuatan berikut:

Dan di antara kuadran di atas, maka inilah kekuatan saya untuk menjadi ibu bahagia dengan dua anak dan pastinya satu suami:

Sederhana?! Memang karena kebahagiaan itu hadir sejatinya dari hal yang sederhana, hanya dengan memahami kekuatan diri sendiri. Ketika semua diterima, dijalani dan selalu mengharapkan keberkahan dari semuanya, semuanya akan mudah dihadapi. Meskipun saya sadari betul bahwa ada mimpi masa kecil yang sebenarnya ingin saya wujudkan juga. Ada harapan orang tua yang ingin saya wujudkan untuk membanggakan mereka.

Tetapi…

Ketika kembali menelaah semua itu, saya kemudian diperhadapkan pada pertanyaan:

  • “Untuk apa saya dilahirkan di dunia ini?”
  • “Apa yang Allah inginkan dengan jalan yang diberikan ini?”
  • “Mengapa cita-cita saya begitu tidak sejalan dengan kenyataan?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang harus terjawab dengan terus berjalan dengan kondisi saya seperti sekarang. Jika ingin meratapi harapan dan cita-cita yang tak mampu saya capai, mungkin saya tidak akan sejauh ini dalam melangkah. Maka dari itu saya tetap harus menciptakan kondisi menjadi ibu bahagia agar tetap seimbang antara menjadi perempuan, istri dan ibu.

Blogging

Sebagian orang sejak 2008 mengenal saya sebagai blogger. Debut pertama menjalani pekerjaan ini adalah saat 2011 saya diminta ke Manila, Filipina untuk menghadiri undangan dari Star Cruises. Setelahnya beragam lomba yang saya ikuti pun menjadi jalan rezeki waktu itu karena beberapa kali keluar sebagai pemenang. Di sini terlihat bahwa saya bahagia menjalaninya. That’s why setelah menikah, pasangan atau ayahnya anak-anak tidak pernah melarang saya melakukannya selama tugas utama saya sebagai ratu rumah tangga tidak terlewatkan.

Fotografi

Sejak menekuninya ketika duduk sebagai mahasiswi pascasarjana dulu, saya semakin tertarik dan akhirnya memberanikan diri untuk terus mengasah kemampuan. Beragam workshop saya ikuti dan tentunya tidak free begitu saja. Ada bujet yang dikeluarkan untuk mendapatkan ilmu seputar fotografi hingga akhirnya bertemu dengan berbagai karakter teman yang ada di dunia fotografi ini. Alhasil, sekarang saya membuka jasa foto produk dan sering ikut kontes foto ketika saya yakin bahwa seluruh kewajiban saya sudah terpenuhi dengan baik.

nge-Drakor

Ada yang bilang kalau nge-Drakor untuk ibu rumah tangga tuh sesuatu yang sia-sia. Eits, tunggu dulu! Sia-sia kalau semua dilakukan tanpa manajemen waktu yang baik. Tidak mungkin juga saya seharian hanya nonton sementara ada pekerjaan rumah yang perlu untuk disentuh dan diselesaikan. Banyak yang tidak tahu kalau nge-Drakor justru saya jadikan ajang untuk belanja ide tentang dunia fotografi, melihat tatanan rumah minimalis dan ada ide-ide segar dalam hal skenario. Merasa penasaran dan tersentuh ketika menikmati Drakor pun saya jadikan media untuk self-healing. Inilah cara menjadi ibu bahagia yang tidak perlu mengeluarkan biaya banyak.

Masak

Satu hal yang sangat saya suka meskipun belakangan ini sedikit terhalang dengan kondisi rumah kontrakan dengan dapur yang boleh dibilang tak mampu saya fungsikan. Nah, beruntung karena sebentar lagi pindah ke kontrakan yang insya Allah akan menjadikan kesenangan saya mengolah bahan di dapur terwujud sedikit demi sedikit. Sebab berada di dapur adalah cara menjadi ibu bahagia yang paling menantang karena memberikan kesenangan pada suami dan anak-anak pastinya.

Baca Buku

Ini sesuatu yang sudah menjadi hal suka dan bisa sejak kecil. Beruntung dilahirkan dengan dukungan orang tua akan hobi membaca ini. Tentunya mereka menyiapkan bujet untuk memfasilitasi suka baca buku saya tersebut. Karena 1 buku terkadang habis dilahap hanya dalam 1 hari bahkan cuma beberapa jam saja. That’s why almarhum Bapak selalu membawa buku dari perpustakaan untuk saya baca bahkan memberikan saya kesempatan membaca buku baru yang dibelinya terlebih dahulu untuk menggali seberapa paham saya akan bacaan tersebut. Paling bahagia kalau setiap mendapat peringkat tiga teratas di sekolah, jatah buku bebas untuk saya miliki meskipun saya juga tidak tega untuk serakah, haha. Pastinya, baca buku adalah cara menjadi ibu bahagia yang sederhana karena dengan membaca, saya bisa menutrisi otak, punya amunisi untuk mengajarkan sesuatu kepada anak karena bertambah kosakata, wawasan dan semacamnya, plus menjadi media saya untuk menghabiskan waktu ketika anak-anak tidur atau anteng bermain bersama ayah atau keluarga lainnya.

**

Well… masih banyak hal atau cara menjadi ibu bahagia yang bisa dilakukan adalah menemukan apa kekuatan diri dulu. Lalu, lakukan pemetaan, observasi dan evaluasi. Ketika hal tersebut tidak lagi mendatangkan kelapangan atau kebahagiaan di dalam dada, maka tinggalkan. Sederhana dan tidak perlu terlalu jauh mencari kebahagiaan itu. Sebab bahagia, ada pada diri.

Quote di atas sengaja saya buat agar yang membaca tidak selalu menjadikan harta benda sebagai sumber kebahagiaan tetapi menjadikannya media untuk memupuk kebahagiaan itu.