Cegah Kekerasan Anak dari dalam Keluarga – Saya sepakat jika ada pakar parenting yang mengatakan bahwa segala hal yang terjadi di masyarakat kita sejatinya berawal dari dalam keluarga kita sendiri. Karena siapa yang membersamai kita sejak di dalam kandungan kalau bukan orang tua kita sendiri? Kan tidak mungkin tetangga sebelah…

Pendidikan yang baik dimulai sejak seorang ibu sudah dinyatakan hamil oleh ahlinya. Dari situlah seorang ibu kemudian harus menakar dirinya, apakah akan melahirkan anak yang baik atau tidak. Meski saya yakin semua jawabannya berharap anak yang baik. Tetapi, jika hanya berharap lalu tidak ada tindakan nyata? It is same with zero alias omong kosong belaka.

Anak yang sudah lahir justru menjadi bertambah tugas orang tua dalam hal mendidik. Karena anak sudah dilengkapi segala panca indera dan juga membawa fitrahnya masing-masing. Anak Bukan Kertas Kosong yang Kemudian Diisi oleh Ibu dan Bapak serta Keluarganya yang lain. Anak sudah hadir membawa bekal fitrah yang kemudian menjadi tugas orang tua untuk mengarahkan, mengembangkan dan memastikannya berfungsi dengan baik melalui beragam tahap perkembangan dan usia anak. Jika orang tua menyadari ini, maka insya Allah tidak akan ada informasi-informasi yang beredar jika anak terkena narkoba, pelecehan seksual dan beragam lainnya masalah yang seringkali membuat hati menjadi miris.

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur menjadi orang tua dengan kondisi anak-anak seperti sekarang? Kembali kepada orang tuanya. Mau membenahi atau membiarkannya dengan dalih toh semua sudah diatur Allah. Oh, tidak. Allah memang Maha Mengatur segala hal di bumi ini, namun Allah menciptakan akal pikiran pada diri manusia untuk dipakai. Dipakai membaca petunjuk yang sudah dituliskan berlembar-lembar pada kitab suci. Apalagi jika berhubungan soal anak. Allah bahkan mengkhususkan bab soal anak pada kisah Ismail dan ayahnya, Ibrahim. Betapa agama sudah memberikan beragam petunjuk, bahkan hadits-hadits soal anak dan orang tua serta pepatah-pepatah Arab soal hubungan anak dan orang tua sangat banyak. Tingga kita mau atau tidak menggunakan akal pikiran serta fisik kita untuk mengkaji dan mengkaji.

Maka, cegah kekerasan anak dari dalam keluarga saat ini juga dengan:

  • Kembali memperbaiki komunikasi produktif kita sebagai orang tua terhadap anak. Anak butuh didengar, dikuatkan, didukung bahkan ditunjukkan mana yang boleh dan mana yang tidak. Anak tidak butuh perintah yang menggelegar dari suara ancaman seorang ayah. Anak tidak butuh masukan dalam bentuk omelan panjang dari seorang ibu yang harusnya lemah-lembut.
  • Posisikan anak sebagaimana kebutuhannya. Untuk itu, orang tua harus paham bagaimana perasaan anak saat itu. Sedih, bahagia, bimbang, atau marah? Orang tua harus menjadikannya moment untuk lebih peka terhadap kondisi anak.
  • Main Bareng; terdengar sepele tetapi dampaknya sangat Apalagi anak yang masih balita seperti anak saya, Salfa. Main bareng adalah rutinitas yang mampu memberikan informasi kepada saya tentang apa yang dibutuhkannya saat itu. Bahkan seringkali kami belajar bagaimana menyelesaikan permasalahan bagi seseorang berwujud balita.
  • Ngobrol Bareng; sebagaimana yang saya sebutkan pada poin pertama di atas, komunikasi produktif itu tidak harus formal banget lho. Pakai Bahasa sehari-hari atau mungkin Bahasa yang disepakati di dalam rumah. Ngobrol apa saja dan tentang apa saja. Jangan ada yang disembunyikan asalkan memang topik yang dibicarakan tidak memerlukan hal yang perlu ditutupi. Bebaskan ekspresi tetapi tetap memperhatikan adab berbicara antara anak dan orang tua. Kalau saya sendiri selalu berusaha berbahasa seolah-olah saya masih seusia Salfa sehingga dirinya akan merasa bahwa ooo, Bunda sedang ingin ngobrol banyak denganku… dengan begitu, dia akan berupaya menampilkan segala macam kalimat yang ingin dikeluarkannya.
  • Memperkenalkan anak tentang siapa dirinya (mulai dari anggota tubuhnya bersama dengan fungsinya), untuk apa dilahirkan, apa saja yang harus diketahuinya, di dunia ini apa saja yang ada dan segala macam pengetahuan yang seharusnya sudah diperoleh dari orang tua, khususnya ibu. Bukankah sekolah pertama seorang anak adalah ibunya? Maka dengan begitu saya terus belajar, memberi asupan nutrisi pengetahuan dalam berbagai bentuk seperti buku, video, playdate dan beragam aktivitas lain yang sudah saya sebutkan di postingan Cara Mendidik Anak Balita Zaman Now.
  • Di media sosial sendiri, saya tidak pernah ikut-ikutan share video, berita atau apapun yang berbau hal negatif tentang anak. Cukup langsung melaporkannya sebagai tindak asusila kepada admin media sosial. Karena semakin saya ikut share, maka semakin marak terlihat hal negatif di dunia maya. Nah, jika itu terus ada dan tidak dihapus, kelak akan menjadi tontonan lagi untuk anak di masa depan yang boleh jadi kita sudah tidak membersamainya. Jika pondasi dari rumah tidak kuat, anak bisa terpengaruh. That’s why dari dalam keluarga sangat dibutuhkan untuk mencegah hal negatif tersebut.

Well… seperti itulah awal home education yang bagi saya pribadi untuk terus dipupuk. Kebersamaan anak dengan memasuki dunianya akan menjadikan anak lebih terbuka, merasa aman dengan kita orang tuanya sehingga tidak lagi mampu tergoda dengan dunia luar yang buruk (seperti Narkoba dan lain-lain).

Anak adalah bekal Amal Jariyah yang Sayang Sekali Jika Disia-siakan. Siapa lagi yang kelak akan membantu kita setelah mati jika bukan doa anak yang shalih? Maka, sudah berusaha sampai dimanakah kita untuk membuat anak kita menjadi seperti itu?