Kartu Pos Bunda – Salfa memiliki Bunda yang hobi surat-menyurat. Surat dan kartu pos yang Bunda Salfa terima disimpan dalam sebuah kardus besar. Salfa heran, saat ini sudah bisa telepon dan internet, tetapi Bunda masih menjalankan hobinya itu. Sampai suatu hari, Salfa memberanikan diri bertanya pada sang Bunda.

Kartu Pos Bunda

“Bunda, sekarang sudah moderen. Kenapa masih terus menulis surat dan kartu pos?” tanya Salfa sambil melihat jemari Bunda terus menulis.

“Ya, karena Bunda senang dan banyak manfaatnya,” jawab Bunda sambil terus menulis bahkan terlihat senyum-senyum sendiri.

“Manfaatnya apa?” tanya Salfa lagi semakin heran. Menurutnya surat dan kartu pos yang ada dalam tumpukan kardus itu tersimpan begitu saja. Bunda hanya membuka kardus ketika Pak Pos datang saja.

“Banyak!”, jawab Bunda singkat sembari tangannya masih terus menulis beberapa kartu pos yang ada di meja.

“Hmm… Bunda, Salfa ada PR dari sekolah.”

“Ya sudah dikerjakan dong, sayang. Tetapi kamu makan siang dulu.”

“Sudah kenyang, Bunda. Tadi di sekolah Bu Guru membagikan nasi kotak untuk dimakan bersama.”

“Oh, begitu. Kalau begitu ke kamar dan kerjakan PR-nya supaya nanti malam bisa lanjut belajar bahasa Arab-nya.” Bunda masih terus asyik dengan kartu pos nya

“PR-nya susah nih, Bunda. Bisa bantu Salfa?”

“Kok kamu tahu susah? Apa sudah coba dikerjakan sendiri? Tidak biasanya kamu menyerah kalau ada PR.” Bunda akhirnya melepaskan pena dan berbalik menatap Salfa yang masih duduk di depannya.

“Salfa disuruh menceritakan hal-hal menarik yang ada di negara Filipina. Salfa tidak tahu, Bunda. Mau ke warung internet (warnet) tetapi sepeda Salfa dipinjam Pak Maman pulang ke rumahnya, nanti malam baru datang lagi. Paketan internet di rumah ini juga habis dan baru di isi lagi oleh Ayah minggu depan setelah gajian. Salfa jadi bingung, Bunda.” Salfa bercerita sambil air matanya hampir tumpah. Dia paling tidak suka jika ada PR yang belum dikerjakan. Dia tidak akan ke sekolah jika demikian karena takut dihukum.

“Memangnya semua dikasi PR yang sama?”

“Tidak, Bunda. Setiap anak diberi nama negara yang berbeda. Ada yang dapat Jerman, Perancis, ada juga yang Indonesia. Kalau saya mendapatkan nama negara Filipina.”

“Filipina?! Hmm… sebentar. Kamu tunggu di sini yah.” Bunda lalu beranjak dari tempat duduk dan terlihat menuju ke sudut rumah dimana kardus besar berisi kartu pos itu diletakkan. Salfa makin bingung dengan apa yang dilakukan Bunda-nya.

“Salfa… coba ke sini sebentar.”

“Iya, Bunda. Apa yang bisa saya bantu?”

“Tolong pegang kartu-kartu ini dan bawa ke meja. Bunda merapikan dulu yang di sini.”

Sambil berjalan menuju meja, Salfa melihat kartu pos yang berada di bagian paling atas. Terlihat sebuah gambar mobil angkutan dengan aneka lampu yang menghias di sekitarnya. Tertulis kalimat: Jeepney, public utility vehicle in the Philippines di bawah gambar tersebut.

“Bunda… mobil ini dari Filipina?”

“Duduk dulu, Bunda ingin jelaskan sesuatu.”

Salfa mengangguk sembari matanya masih melihat gambar mobil di kartu pos tersebut. Bunda juga sudah selesai merapikan kardus dan segera duduk kembali.

“Kamu tadi tanya Bunda, kenapa Bunda masih suka berkirim kartu pos? Bunda juga sudah katakan kalau manfaatnya banyak, bukan? Nah, ini semua kartu pos Bunda yang datang langsung dari negara Filipina. Dulu Bunda pernah kenalan dengan petugas kebersihan di sana. Bunda akhirnya saling bertukar alamat dan saling berkirim kartu pos sampai sekarang. Sudah dua bulan dia tidak ada kabar lagi. Bunda juga tidak tahu dia di sana bagaimana. Yang pasti, Bunda selalu senang jika berkirim kabar lewat kartu pos ke sana.” Bunda bercerita sembari tersenyum. Bunda seperti mengingat-ingat hal-hal indah selama berkirim kartu pos.

“Wow, ini bisa membantu PR saya, Bunda.”

Salfa kegirangan dan semakin semangat. Dia melihat satu per satu kartu pos yang semuanya berasal dari Filipina itu. Ada banyak sekali dan semuanya bergambar indah dan unik, khas negara Filipina. Ada tempat bersejarah, makanan khas, tempat wisata, angkutan umum dan masih banyak lagi.

“Sudah percaya kalau hobi Bunda banyak manfaatnya?”

“Hehehe… iya Bunda. Kalau sudah besar ingin berkirim kartu pos juga deh.”

“Lho, kenapa tunggu kamu besar? Bunda memulai hobi ini dari kelas V SD lho. Dulu Bunda diajarin almarhum kakek Usman. Sekarang, teman kakek Usman masih ada di Jerman bersama keluarganya. Bunda juga mengabarkan kakek meninggal lewat kartu pos.”

“Oke, Bunda. Saya sisihkan uang jajan buat bei perangko dan kartu pos nya.” Salfa langsung beranjak ke kamar dengan membawa sejumlah kartu pos. PR-nya harus selesai sebelum malam.

***

Surabaya, 3 September 2016