Tak pernah menyangka bahwa saat ini profesi saya adalah seorang blogger dan full mommy. Bergelut dengan profesi tersebut sebenarnya bukan pilihan sejak saya mengenal yang namanya dunia pekerjaan. Di kepala saya saat masih SMA, saya ingin bekerja jadi dokter atau dosen. Setidaknya bermanfaat bagi orang lain.

Seolah alam menyambut keinginan tersebut, maka saya pun berusaha bagaimana caranya bisa berada pada salah satu profesi tersebut. Akhirnya dimuluskan untuk menjadi pengajar. Saat masih berstatus sebagai mahasiswa semester akhir, salah satu dosen mengangkat saya jadi asistennya mengajar di kelas tahun pertama. Bersyukur karena saya bisa mengulang untuk paham kembali mata kuliah.

Selain itu, ada tawaran juga mengajar di salah satu bimibingan yang ada di kota saya tinggal. Diminta mengajarkan ilmu Bahasa Inggris, Matematika dan Kimia. Saya sanggupi karena memang jenjang yang saya ajar mulai dari SD sampai SMA. Ilmunya masih saya kuasai saat itu. Jadwal yang saya ambil pun sesuai dengan jam kosong perkuliahan.

Keinginan berbagi ilmu tidak sampai di situ saja. Ada tawaran yang lebih menggiurkan lagi dari salah seorang teman. Beliau menawarkan saya untuk mengajar di kampus untuk mata kuliah Kimia. Saat itu pilihannya di Akademi Kebidanan dan Akademi Keperawatan. Saya pun tidak berpikir lama karena imbalannya bisa menutupi biaya kuliah S2 waktu itu. Saya bekerja sebaik mungkin.

Karena saya tipe petualang, rasanya ingin berkiprah lebih baik lagi dan jauh dari baying-bayang orang tua. Ya, selama sekolah hingga kuliah, orang tua seringkali meminta saya untuk segera menikah. Katanya pekerjaan saya akan lebih baik jika ada yang mendampingi. Tetapi saya masih menolak memikirkan pernikahan. Fokus saya karir.

Bahkan saya menerima tawaran menjadi dosen di luar pulau, tempat dimana saya begitu asing. Hidup sendiri di kamar kos dan beraktivitas sebagai pengajar.

Bertahan lama? Ah, rasanya tidak. Selama di pulau tersebut saya pun semakin kepo dengan dunia blogging. Dunia yang dikenalkan teman mengajar di bimbingan. Sekali menulis penghasilannya sangat besar. Dan itu membuat saya semakin semangat. Namun, bayaran itu belum datang seketika saya menulis di blog. Butuh waktu.

Seiring berjalannya waktu, semua perjalanan bekerja di ranah publik pun berangsur memudar. Alasannya bukan karena orang tua tidak mengizinkan, tetapi saya menikah dengan lelaki yang juga berada di pulau berbeda. Pertemuan karena dunia blogging membuat kami akhirnya memutuskan untuk menikah.

Mengapa tidak lanjut bekerja setelah menikah?

Hmm… bisa dibayangkan bagaimana kondisi pernikahan kami jika sang suami di Jawad an sang istri di Kalimantan? Apakah akan seharmonis yang selalu bertemu setiap hari? Rasanya tidak. Selalu ada hal pemicu selisih paham. Mulai dari komunikasi hingga kerinduan yang sama sekali tidak bisa kami bending. Maka memutuskan untuk ikut suami dan meninggalkan profesi dosen.

Sayang banget?!

Ah, tidak juga. Bukankah seorang perempuan bersuami surganya pada ridho suaminya? Memang sih suami tidak melarang saya bekerja.

Namun, saya tahu diri bahwa ada kewajiban besar yang harus dijalankan setiap hari sebagai istri.

Dan beruntungnya, saya masih bisa menulis dan ngeblog sampai sekarang karena bimbingan suami. Saya tetap bekerja meskipun di ranah domestik. Blog terurus, ada pemasukan dan anak pastinya tetap bisa terjaga fitrahnya karena sering berjumpa dengan ibu bapaknya di rumah.

Nah, itulah kisah perjalananku hingga berprofesi sebagai blogger sampai saat ini dan nanti…