[Day 1] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Wow wow… rasanya sudah lama tidak menuliskan lagi sesuatu di blog ini. Dan hari ini berusaha sekuat mungkin untuk menulis. Meskipun kondisi masih sangat tidak fit karena badan rasanya remuk redam berantakan (*mulai lebay bin alay).

Oiya, kali ini saya sudah  selangkah di atas Level Matrikulasi IIP, yaitu Bunda Sayang. Untuk itu, tantangan demi tantangan masuk ke dalam kehidupan saya sebagai Bundanya si Salfa, anak perempuan berambut kriwul plus ceriwis. Dan kali ini tantangannya adalah Komunikasi Produktif.

Komunikasi dengan Anak

Di antara semua tahapan Komunikasi Produktif yang dipaparkan oleh Fasilitator saya di kelas, maka saya mulai dengan Pola Komunikasi Produktif: BISA! Mengapa? Karena saat ini anak saya yang menjelang usia 3 tahun selalu ingin melakukan ini dan itu. Selalu berusaha dan menunjukkan dirinya kalau dia mampu melakukannya. Padahal tidak semuanya. Hanya karena dia melihat apa yang dilakukan oleh Ayah dan Bundanya, maka dia berpikir juga bisa melakukan hal yang sama. Dan untuk pertama kali ini adegan yang saya ambil adalah soal bisa tidaknya dia bermain gadget di rumah.

Selama ini saya selalu terjadi dialog seperti ini:

Salfa      : “Nda, Fafa mau main “hape kecil”

Bunda   : “TIDAK BISA, Fa. Fafa main yang lain saja. Itu mainannya banyak ada sekardus.”

(kemudian Salfa dengan spontan akan cemberut, kata orang Jawa namanya purik, kemudian menangis dengan nada tinggi)

Alasan saya melakukan itu adalah sengaja mematahkan dari awal kalau bermain gadget bukan hal yang begitu bagus untuk anak seusianya. Namun, setelah berada di kelas Bunda Sayang, maka saya pun tertantang mengatakan BISA tetapi Salfa tetap TIDAK BERMAIN gadget. Bagaimana kalimatnya? Semoga yang saya katakana di bawah ini benar dan sesuai dengan harapan bagaimana melakukan komunikasi produktif:

Salfa      : “Nda, Fafa hape kecilnya mana? Fafa mau main.”

Bunda   : “Fafa BISA main hape kecil jika nanti usianya Salfa di atas 3 tahun. Sekarang Salfa masih kecil dan lebih bagus kalau main mainan seperti ini.” (sembari mengambilkan mainan kartu yang terdiri atas gambar-gambar yang bisa menambah perbendaharaan katanya)

Hasilnya bagaimana? Lumayan masih ngambek. Tetapi, seketika berubah seolah melupakan karena melihat saya asyik dengan kartu itu yang memang sengaja saya mainkan bersama bonekanya yang lain. Sehingga dia merasakan bahwa bonekanya asyik bermain kartu sehingga dia pun akhirnya ikut bermain.

Komunikasi dengan Suami

Setelah dengan anak, maka lanjut komunikasi produktif hari ini bersama suami. Ya, saya akui bahwa selama ini komunikasi sering terjadi kesalahan disebabkan oleh metode yang saya dan suami gunakan. Nah, untuk mencoba tantangan dari Bunda Sayang IIP ini, maka saya menggunakan metode Choose The Right Time. 

Berhubung ada hal yang harus saya bicarakan terkait dengan rencana mudik ke Makassar akhir bulan nanti, maka saya ingin membahas tentang oleh-oleh yang akan dibawa pulang. Asumsi saya adalah ingin menjadikan daster sebagai oleh-oleh karena ada salah satu keluarga saya menelepon tadi pagi dan menginginkannya. Jujur saja, saya kemudian berpikir keras karena dana yang saya pegang pun terbilang masih sangat mengkhawatirkan. Uang tiket balik dari Makassar saja belum ada lho. Lalu ini akan membawa pulang oleh-oleh yang tentu mengeluarkan uang banyak. Maka saya mencoba mengkomunikasikannya dengan suami.

Saya pun kemudian memilih waktu bicara tidak pada saat suami sedang di depan pekerjaannya (baca: komputer). Saya menunggu suami sedang berbaring rehat sembari menunggu waktu Shalat Dzuhur tiba. Alhasil, pembicaraan pun menghasilkan titik terang. Suami setuju saja, meskipun dalam hati saya takut suami merasa keluarga saya di kampung terlalu banyak mau. Tetapi, dengan metode choose the right time ini, saya akhirnya bisa lebih tenang. Keputusan suami pun menenangkan karena sepenuhnya mengembalikan urusan rezeki pada Allah.

“Bunda catat saja apa-apa yang kiranya ingin dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Urusan terealisasi atau tidak, opo jare Gusti Allah sesuk.” 

Kalimat suami di atas menutup pembicaraan kami karena adzan pun berkumandang.

***

Hmm… hari ini misi Komunikasi Produktif selesai. Perubahan yang saya alami? Sedikit tertantang saja untuk mengeluarkan kata-kata ketika berbicara dengan Salfa. Suami pun ikut mendukung.

Bagaimana dengan besok? Kita lihat saja apa yang terjadi. Semoga ada yang bisa saya tuliskan lagi.

Salam Bunda Sayang…