[Day 3] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Memasuki hari ketiga menjalankan misi komunikasi produktif. Rasanya benar-benar tidak percaya dengan langkah satu ini. Saya harus keluar dari zona yang selama ini saya lakukan. Padahal tidak semuanya berada dalam ruang kebenaran.

Jika kemarin saya mempraktekkan poin mengendalikan intonasi saat berbicara dengan si kecil Salfa, maka hari ini juga demikian. Saya masih membutuhkan untuk mempraktekkannya. Meskipun benar-benar butuh perjuangan dan pastinya banyak-banyak istighfar. Ya, tahu sendiri Salfa anaknya sangat aktif dan keingintahuannya besar sekali. Gregetan menghadapinya adalah sesuatu yang seringkali menjadi layar pertunjukan di rumah.

Kebetulan sekali hari ini saya dan Salfa diberi kesempatan sama suami untuk staycation berdua. Suami tidak bisa ikut karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum mudik ke Makassar akhir bulan nanti. Tadinya saya nggak mau tetapi karena terlanjur kamar sudah tersedia, ya sayang banget jika dilewatkan.

Staycation berdua tentu “seperti kesempatan” pada saya untuk bersikap seperti apa kepada Salfa karena tidak ada suami sebagai pengontrol. Namun, saya untungnya masih punya akal pikiran dan juga perasaan bahwa Allah Maha Melihat apa yang saya perbuat terhadap amanahnya ini.

Seperti biasa, Salfa melakukan aktivitasnya sebagai anak balita usia jelang 3 tahun. Jalan kesana-kemari, mengecek ini dan itu serta semua yang ada di kamar apartemen yang kami tempati hari ini. Hingga kemudian dia bermain air kran galon. Otomatis airnya mengucur ke lantai. Bajunya basah. Dengan keadaan seperti itu, saya biasanya akan berteriak:

Bunda   : “Salfaaa… kenapa main airrr? Basah noh bajunya! Bener-bener deh nih anak.”

Jika saya sudah teriak seperti itu, maka Salfa pun akan diam dengan wajah kaget plus lama-kelamaan akan menangis kencang juga. Maka ramailah seisi ruangan seketika. Namun, karena saya berada dalam masa pelatihan, maka saya pun berusaha untuk mengubahnya. Langkah yang saya ambil, mencoba tenang sambil dalam hati mengucap Astaghfirullah al adzim kemudian berkata:

Bunda   : “Ya Allah, airnya tumpah lho, Fa. Salfa minggir dulu ke samping. Bunda ambilkan kain lap dulu.”

Kalimat itu pertama kali tidak diindahkan sampai saya mengulangnya kembali. Hasilnya, Salfa mundur perlahan. Hmm… lumayan gregetan sih karena Salfa bergerak lambat, namun setidaknya saya berhasil untuk tidak menghasilkan tangisan. Karena jika Salfa menangis, maka ramailah seisi kamar dan kondisi tersebut bisa jadi membuat saya semakin kehilangan kendali. Bersyukur tidak terjadi, haha.

Hmm… misi hari ketiga selesai. Bagaimana besok? Let we see what Salfa will show something amazing or not.

Salam Bunda Sayang