[Day 4] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Alhamdulillah tanpa terasa waktu terus berjalan. Banyak hal yang sudah terlewati selama puasa ke-9 ini. Tantangan menjadi ibu yang lebih baik pun makin terasa, seperti yang sudah saya jalani selama 4 hari berturut-turut. Apalagi kalau bukan bagaimana komunikasi produktif dijalankan sebagai salah satu indikator mendidik anak di rumah.

Nah, hari ini saya menghadapi adegan dimana Salfa tidak ingin tidur siang karena adanya siaran kartun di televisi. Ya, saya dan Salfa memang saat ini masih staycation di sebuah apartemen. Berdua saja tanpa si Ayah karena sibuk luar biasa.

Tahu sendiri kalau di apartemen sekelas hotel tentu ada TV LED layar lebar yang bisa memanjakan mata si kecil saat menonton kartun. Seolah terhipnotis oleh kotak yang menyajikan banyak tayangan menarik. Hal ini membuat Salfa pun tidurnya terganggu. Hanya tidur beberapa menit, eh sudah bangun karena ingat kartun. Akhirnya terjadilah percakapan antara keinginan saya agar Salfa ingat tidur dan tidak terus-menerus nonton TV:

Bunda: “Fa, ayo tidur!”

Salfa: “Nanti lho, Nda. Fafa belum ngantuk.” (jawaban polos sembari mata terus menatap layar TV)

Bunda: “Tidurrr!!!” (desak saya lagi tetapi intonasi suara tidak meninggi.

Salfa tidak menggubris dan akhirnya saya matikan TV. Otomatis Salfa nangis dan teriak-teriak minta TV-nya dinyalakan. Saya biarkan beberapa menit dengan harapan akan capek sendiri, eh ternyata Salfa masih saja menangis. Nggak tega? Tentu. Mendengar balita menangis lama sambil teriak-teriak mengeluarkan kata-kata itu adalah hal paling menjengkelkan karena situasi seketika jadi ramai.

Akhirnya saya menggunakan metode mengganti perintah menjadi pilihan. Awalnya saya ragu, namun berusaha untuk menerapkan.

Bunda: “Kalau Salfa masih mau nonton TV, coba tidur dulu beberapa saat kemudian baru bisa menonton TV lagi.”

Salfa: “Nggak, Nda.”

Bunda: “Salfa, kalau terlalu lama menonton TV, matanya jadi mudah sakit. Tadi kan sudah nonton lama. Sekarang tidur dulu kemudian besok lanjut nonton. Oke?” sembari memberikan pilihan dengan maksud sama tetapi kalimat yang sedikit berbeda.

Apakah berhasil? Hmm… sejauh ini berhasil Salfa tertidur tetapi sangat singkat sekali. Boleh dibilang paling lama tidur (apalagi tidur siang) hanya dalam hitungan menit. Akhirnya, matanya jadi sayu dan seringkali oleng ketika berjalan.

Tetapi, setidaknya sedikit berhasil dengan indikator mengganti perintah menjadi pilihan karena berusaha tidak menggunakan kalimat perintah lagi tanpa melihat situasi dan kondisi. Sebab, ada juga perintah yang memang positif untuk diperkenalkan kepada si kecil.

Well… semoga saya bertahan terus dengan indikator-indikator yang sudah saya tuliskan di blog ini.

Salam Bunda Sayang