[Day 5] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Memasuki pertengahan waktu tantangan 10 hari kelas Bunda Sayang dan sepertinya tantangan baru secara nyata di rumah saya semakin banyak. Dan hari ini ada saja hal yang bisa membangkitkan emosi jiwa dan kelelahan raga. Haha… bahasanya lebay sangat ya.

To the story…

Jadi ceritanya hari ini adalah hari terakhir saya staycation dengan Salfa di salah satu apartemen di Surabaya. Saya sudah menduga bakalan ada “drama” yang memancing saya marah dan berkata-kata dengan nada tinggi. Tetapi, saya terus berusaha mensugesti diri sendiri agar mampu melaluinya tanpa kemudian menyisakan kenangan buruk pada Salfa.

Bunda: “Salfa, sejam lagi Bunda mau pesan Grab. Bunda sudah kangen Ayah di rumah. Jadi, Bunda sekarang beres-beres supaya supir Grab-nya nggak nunggu kelamaan.”

Salfa: “Tidak maaauuu, Nda. Fafa mau nonton dulu. Ini belum selesai.” (reaksinya langsung histeris seperti biasa ketika kesenangannya dihentikan)

Bunda: “Lha, kalau begitu Salfa mau tinggak di kamar ini sendirian? Tidak mau ikut Bunda ketemu Ayah?” (berusaha membangun dialog)

Salfa: “Fafa mau tidur di otel, Ndaaa. Fafa nggak mau pulang.” (masih menangis dengan mata yang tetap tertuju pada kotak sihir (baca: TV))

Bunda: “Lain kali lagi to, Nak. Besok bisa nginep lagi di hotel kalau Bunda punya uang atau dapat hadiah dari teman kerja.” (masih berusaha lembut padahal hati sudah nggak sabar lihat Salfa segera bergegas mengganti baju dan tempat tidur apartemen tidak lagi kusut)

Salfa: “Bundaaa, Fafa mau tidur sini. Fafa nggak mau pulaaaaangggg!” (makin histeris dan saya sudah yakin suara Salfa sudah mengganggu tetangga kamar)

Bunda: “Fa, tatap mata Bunda. Kamar ini mau dipakai om (petugas apartemen) yang tadi pagi Salfa ajak salaman di bawah. Kalau Salfa di sini, Om-nya nggak bisa tidur. Salfa mau di sini sendiri atau ikut Bunda pulang dulu?”

Salfa: “Pulang jemput Ayah? Terus tidur otel lagi, Nda?” (tangisnya sudah mereda tetapi wajah sedihnya masih sangat membuat hati saya terenyuh)

Bunda: “Iya, Nak. Tadi Bunda sudah bilang, kalau Bunda punya uang lagi, kita main ke hotel lagi. Salfa bisa nonton lagi.”

Singkat cerita, Salfa berhasil saya ajak pulang tanpa kemudian harus malu karena biasanya dia akan teriak-teriak plus sedikit diseret karena tubuhnya sengaja direbahkan ke lantai. Tadi Salfa dengan langkah biasa dia menemani saya menunggu Grab di lobby apartemen.

Nah, di dalam perjalanan menuju rumah kami, Salfa tidur dengan pulas. Tetapi, terbangun mendadak ketika mobil dirasanya berhenti karena memang sudah sampai di depan rumah kontrakan kami. Seketika Salfa bereaksi lagi. Berteriak dan menjadikan tubuhnya sulit digapai di dalam mobil. Kemudian kata-katanya terlontar bahwa dia tidak ingin pulang ke rumah. Padahal tadi di apartemen, sepertinya dia sudah sangat setuju.

Ya, namanya anak-anak sih ya. Berubah pikiran sesuai kehendaknya, hehe. Tetapi seringkali saya malah terpancing emosi. Cuaca sedang panas-panasnya, kondisi tubuh yang kurang fit ditambah suara rame dari anak yang tantrum, aduhai sungguh rasanya hati ikut menggila.

Tetapi, kekuatan latihan selama Ramadhan ini kemudian saya bisa menahan emosi dan “memberikan waktu” si Salfa untuk menyelesaikan tangisannya. Saya diam tanpa kata tetapi tangan saya tetap bergerak untuk membereskan barang-barang yang tadi saya bawa dari apartemen. Selang beberapa menit, Salfa pun kemudian berhenti meraung dan menangis. Akhirnya dia memilih meminta saya berbaring agar dia bisa melanjutkan tidurnya. Dalam hati saya sudah komat-kamit meminta kesabaran lagi dan lagi.

Ah, entah besok apalagi yang harus saya hadapi. Pastinya semakin kesini saya harus menata perasaan dan emosi karena boleh jadi tingkah Salfa akan lebih heboh lagi keesokan hari. Misi mengendalikan emosi hari ini berhasil dijalankan meskipun belum sempurna karena dalam hati masih ada rasa gregetan. 

Salam Bunda Sayang