[Day 7] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Masuk pekan ketujuh menjalan misi komunikasi produktif dengan anak. Dan benar-benar yang paling menyita energi adalah mengendalikan emosi saat anak sedang tidak stabil kondisinya. Banyak mau dan harus dituruti. Di situ saya merasa benar-benar merasa paling diuji Allah dengan anak. Padahal masih ada pasti di luar sana yang ujiannya lebih berat disbanding saya. Pasti!

Mengapa kok mengendalikan emosi lagi yang jadi bahan komunikasi produktif di hari ketujuh ini? Ya, karena usia Salfa memang masih belum bisa ditebak kapan stabil terus. Nah, kali ini adalah perkara Salfa yang meminta macam-macam, salah satunya adalah menonton TV.

Jujur saja, kami punya TV. Tetapi kami tidak menjalankan fungsinya sebagaimana umumnya. Usia Salfa dijejali TV maka semua akan menjadi buyar. Buyar dalam artian, Salfa tidak lagi ingin berinteraksi dengan siapa dan apapun. Posisinya akan duduk serius mengamati setiap gerak-gerik tokoh yang ada di layar TV. Memang sih jika Salfa demikian maka pekerjaan saya bisa beres semua, khususnya dunia blogging. Tetapi, suami sudah mewanti-wanti agar hal tersebut tidak membuat saya terlena dan mengambil kesempatan hingga akhirnya asik duduk berlama-lama di depan laptop atau ponsel pintar.

Nah, tadi siang entah mengapa Salfa terlihat bête. Semua yang saya lakukan tidak diterimanya dan mengaduh-aduh kecil. Jujur suara seperti itu membuat saya tidak nyaman sehingga saya sampaikan untuk tidak melakukannya. Eh, saat diberitahu, Salfa malah bangkit dan membanting barang-barang di sekitarnya, termasuk ponsel pintar saya yang berada tidak jauh dari posisinya saat itu.

Saya kaget dan khawatir jikalau ponsel saya kemudian mati karena rusak. Alhamdulillah tidak. Tetapi saya sudah jengkel dengan sikap Salfa yang seolah tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Jika dulu saya akan bernada tinggi dan mengeluarkan kata-kata yang sebenarnya percuma dikatakan karena toh Salfa nggak bakalan mengerti, namun selalu siap di-copy. Saya geram sekali hingga kemudian saya teringat kalau sedang puasa. Maka saya masuk ke toilet dan membasuh wajah saya banyak-banyak. Saya pun mengepalkan tangan saya agar emosi dalam hati saya segera keluar daripada disimpan bawa penyakit. Dan berkata pada Salfa:

Bunda: “Fa. Bunda tidak memahami Salfa saat ini kenapa. Sakit atau jengkel sehingga bisa purikan seperti ini. Salfa itu mau apa?”

Salfa kemudian sudah berhenti dari aktivitasnya dan melihat ke saya:

Salfa: “Bunda sudah tidak marah-marah?”

Saya kemudian memeluknya dan berkata:

Bunda: “Bunda tidak akan marah kalau Salfa bisa bekerja sama dengan baik. Bunda tidak paham Salfa ingin apa jika mengaduh seperti itu. Jadi kalau menangis sebaiknya tidak bicara karena nggak jelas.”

Sejak itu, Salfa kemudian kembali main seperti biasa. Sesekali bermain Play-Doh, boneka dan bahkan bermain interview dengan saya.

Hmm… hari ini hasilnya masih belum memuaskan bagi saya. Tetapi besok saya harus coba.

Salam Bunda Sayang