[Day 8] Games Bunda Sayang: Komunikasi Produktif – Kemarin tepat sepekan menjalankan Komunikasi Produktif. Itu berarti sedikit lagi Tantangan 10 Hari di level Bunda Sayang selesai. Namun, bukan berarti bahwa kemudian selesai juga untuk menjalankan misi komunikasi produktif ke anak. Sebagai Bunda dengan anak yang sudah sangat aktif dan cerewet ini, saya justru membutuhkan komunikasi semacam ini untuk lebih membuat saya mampu berdialog yang bermanfaat dengan anak.

Untuk hari ke-8, saya pun lagi-lagi berhadapan dengan kondisi harus menjaga emosi. Karena benar-benar si Salfa seringkali membuat saya gregetan ketika berkomunikasi dengannya. Apalagi di saat kondisi perasaan dan pikiran saya sedang kalut. Banyak dipikirkan namun belum menemukan solusi serta harus membersamai si kecil juga di rumah, full time.

Salfa: “Bunda, Fafa mau renang.” Pinta Salfa yang tiba-tiba membuat saya heran dan bertanya apakah gerangan yang membuatnya seperti ini.

Bunda: “Iya, renangnya nanti kalau kita staycation lagi di hotel.” Jawab saya santai.

Salfa: “Fafa maunya sekarang, Nda. Mau renang.” Kemudian menangis sambil berjalan ke tempat dimana pelampungnya disimpan.

Bunda: “Fa, belum waktunya, Nak. Bunda belum ada rencana ke hotel lagi. Tunggu Bunda dapat rezeki dulu.” Makin nggak sabar karena suaranya memekakkan telinga dan saya benar-benar khawatir tetangga terganggu.

Salfa: “Bundaaa… renaaanggg!”

Makin menjadi-jadi dan saya pun mulai ikut terbawa arus emosi. Tetapi, saya berusaha untuk diam. Seolah tidak memperdulikannya. Saya pun pura-pura sibuk menata piring dan sebagainya. Setelah beberapa menit melakukan aksi seperti itu, Salfa kemudian mendekati saya dan mulai melakukan gerakan tangan (baca: memukul-mukul pundak saya).

Apakah saya emosi? Jujur saja, dalam hati saya sudah bergejolak, panas. Pukulan Salfa sudah sakit lho, Bunda. That’s why I have to stop it before hurting me more. Maka saya berusaha istighfar berkali-kali. Kemudian berkata:

Bunda: “Salfa mau Bunda sakit lagi? Kalau sakit, Salfa main sendiri.”

Kalimat itu seketika menghentikan pukulannya plus tangisannya. Kemudian dia menjatuhkan badannya ke kasur (tanda dia masih marah). Tetapi setelah itu kemudian perhatiannya pun teralihkan karena di atas kasur dia lihat ada majalah Bobo-nya yang berserakan. Akhirnya dia sibuk membuka satu demi satu halaman majalah tersebut.

Aduh… emosi di dalam dada akhirnya saya keluarkan dengan menggigit ujung baju sendiri. Ingin teriak tidak mungkin. Menangis pun akan menyisakan sakit di kepala saya. Lalu saya mengambil jalan pintas yaitu berwudhu.

Salam Bunda Sayang