Edukasi Fitrah Seksualitas Day 8: Fatherless, How to Solve? – Seringkali saya bersyukur karena sejak lahir di dunia ini, ada sosok Ayah yang menemani Mama untuk mengurus saya dan adik-adik. Meskipun saya tahu betul kalau Mama masih banyak hal yang dilanggarnya dalam pola didik, tetapi bukan berarti kemudian saya harus mengikut. Malah harusnya saya memperbaiki pada anak saya selanjutnya.

Karena kita masih bahas soal Fitrah Seksualitas nih. Maka kelompok 7 hari ini mengangkat tema soal fatherless. Sebagaimana yang saya singgung di awal bahwa kehadiran bapak dalam diri seorang anak itu benar-benar berarti. Lalu, bagaimana jika seandainya sosok ayah itu antara ada dan tiada? Apa dampaknya? Tentunya tidak lain adalah pendekatan yang seharusnya dilakukan jadi tidak ada. Bahkan menumpulkan fitrah seksualitas yang menjadi hal urgent bagi semua anak.

Sesibuk apapun sosok bapak dalam pekerjaannya, ketika sudah berumah tangga dan dianugerahi seorang anak, maka tidak ada kata untuk lebih memprioritaskan ego atau pekerjaan dengan alasan yang sebenarnya bisa dikaji ulang. Sosok bapak yang bisa menempatkan diri sebagai teman, motivator bahkan teladan yang baik untuk anaknya, kelak akan mendapati anaknya tumbuh dengan fitrah yang benar-benar sudah dioptimalkan.

Nah, kehadiran Bapak ini dianggap penting dalam hal mengoptimalkan fitrah sesksualitas. Khususnya bagi anak laki-laki dan perempuan, masing-masing memiliki hak sesuai dengan porsinya untuk mendapatkan pendidikan tersebut dari seorang Bapak. Bagi anak laki-laki, sosok bapak akan menjadi role model utama untuk kelak menentukan cita-citanya. Sedangkan untuk anak perempuan menjadi percaya bahwa laki-laki di dunia ini memang sengaja diciptakan Tuhan untuk melengkapi perempuan (dalam hal ini ibu/istri).

So, bisa dibayangkan bukan kalau kemudian bapak tidak ada di tengah keluarga? Masalah yang berhubungan dengan fitrah akan muncul saat dewasa kelak.

Lalu, bagaimana jika sudah tidak ada ayah alias meninggal dunia? Ibu harus mencarikan sosok pengganti peran ayah sebagai laki-laki. Bukan berarti mutlak harus kawin lagi lho ya. Bisa dengan mendekatkan anak dengan saudara laki-laki (baca: paman/om/pakdhe/paklek/kakek) atau orang yang dianggap bisa.

Lalu, sejauh mana kita mempersiapkan diri agar fatherless bukan jadi alasan anak tidak tumbuh optimal dalam hal fitrah seksualitas-nya?