Facilitating Journal: Mengambil Pelajaran tentang Kemandirian Anak – Tanpa terasa sudah berjalan dua materi Bunda Sayang. Sebagai Fasilitator di Kelas Sumatera 1, saya sangat bersyukur mengenal dan di tempatkan di sana. Tak hanya soal menjalankan tugas, tetapi juga mengambil banyak ilmu dari peserta Bunda Sayang yang beranggotakan 88 orang yang tadinya hampir mencapai 100 orang. Berikut beberapa hal yang saya ingin bagi selama menjadi Fasilitator:

Apa yang Dirasa?

  • Lebih rileks karena deg-degan sudah tidak seperti pada pekan pertama.
  • Antusias peserta (selanjutnya disebut dengan “mereka”) bertanya masih sangat tinggi, bahkan diskusi masih berjalan sebagaimana biasanya pada waktu-waktu selain diskusi. Ingin meminta mereka diam, tentu tidaklah bisa karena boleh jadi ada hal urgent baru bisa diungkapkan pada saat itu juga.
  • Pertanyaan yang masuk, Alhamdulillah menjadi bahan diskusi lanjutan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya curhat tentang kondisi mereka masing-masing akan satu case yang diangkat oleh peserta yang bertanya.
  • Sampai detik ini, mereka masih sangat solid. Saling support untuk problema yang diangkat oleh salah satu dari mereka, bahkan saling mengingatkan tentang game atau tantangan yang sedang mereka jalani.   
  • Sedih dan terus bertanya akan kekurangan diri saya sendiri sebagai Fasilitator, karena sudah ada beberapa yang mengajukan cuti hingga mengundurkan diri.

Apa yang Dipikirkan?

  • Banyak. Karena semakin kesini, materi Bunda Sayang pun semakin kompleks. Saya sendiri banyak belajar dari cerita pengalaman mereka. Saya kemudian kembali berpikir bahwa ternyata setiap orang punya cara untuk mengatasi apa yang ada di depan matanya sendiri.
  • Berbekal ilmu, tentu hasilnya akan lebih baik. Apalagi materi kali ini adalah berupa “Kemandirian” yang ingin diterapkan pada anak, pasangan bahkan diri sendiri. Saya kemudian bertanya dalam diam, “Sudahkah saya benar-benar menjadikan Kemandirian sebagai tolok ukur saya membersamai anak dan pasangan?”

Apa yang Dipelajari?

  • Bahwa membentuk “Kemandirian” dan kemudian “Disiplin” dalam melakukannya tidak hanya sekadar kata-kata, jawaban pertanyaan dan nasehat untuk peserta. Semuanya kembali pada diri saya, sudah sampai sejauh mana mengamalkan kemandirian yang diharapkan untuk anak usia 3,5 tahun.
  • Metode melatih Kemandirian Anak untuk Toilet Training yang diceritakan oleh peserta dalam sesi diskusi menjadi referensi saya untuk diterapkan di rumah. Maka beruntung sekali berada di lingkungan yang memiliki latar belakang problem dan solusi. Karena sedikit banyaknya akan menjadi bahan pelajaran. Bahkan boleh jadi menjadi momen AHA bagi pribadi orang lain, contoh nyatanya adalah saya sendiri.
  • Belajar mengemukakan pendapat berdasarkan realita yang dijalani, itu juga saya pelajari dari diskusi pada tema kali ini. Karena menyampaikan pendapat juga perlu hati-hati, salah satunya bagaimana memposisikan diri tidak menjadi sumber segala kebenaran, melainkan umpan balik agar peserta lainnya ikut mengemukakan argumen. Dan ini tidak mudah bagi saya.  

Apa yang Bisa Diperbaiki?

Kalau ditanya seperti di atas, maka jawaban saya, banyak. Terkhusus pada diri pribadi dan juga kepada anak. Sebagaimana yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa salah satu PR besar saya saat ini adalah toilet training, dimana di lingkungan saya ada beberapa yang menyebabkan proses ini terkendala.

“Ah, itu alasan saja. Usaha dong!”

Mungkin juga ada yang akan nyeletuk seperti itu. Tetapi saya tidak akan baper dalam konteks negatif (baca: bawa perasaan). Melainkan sebaliknya, bawa perubahan. Ya, saya harus mencari cara untuk mengubah pola untuk kemandirian anak saya satu ini. Berharap jawabannya sangat baik di tahun 2018 mendatang.

Apa yang Harus Disiapkan Ke Depan?

  • Pastinya saya benar-benar harus memisahkan antara baper yang produktif dan non produktif. Karena jika keduanya sudah jelas terpisah, maka tantangan selanjutnya, khususnya pada materi Bunda Sayang selanjutnya tidak akan memberikan signal negatif bahkan menjadi lebih semangat untuk menghadapi.
  • Perlu private chatting sesekali dengan peserta Bunda Sayang, karena siapa tahu ada yang sedang menghadapi masalah tetapi sungkan untuk mengungkapkan di ruang WAG.
  • Mencoba lebih menyemangati peserta bahwa Belajar di Bunda Sayang memang sedikit lebih menantang dibandingkan dengan saat Matrikulasi. Ketika semangat masih ada, maka berusaha sesuai kemampuan itu jauh lebih baik dibandingkan menyerah (jika benar-benar tidak ada pilihan lain).

Mencoba pelan-pelan untuk membiasakan menulis dengan kaidah yang benar. Alasannya adalah a la bisa karena biasa. Apalagi ibu adalah sosok yang menjadi madrasah pertama seorang anak, tentu harus mempunyai ilmu yang boleh dibilang sangat dasar ini. Contoh sederhana sekali, kata “sekedar” yang harusnya “sekadar”.