Family Project Day 1: Menumbuhkan Semangat Cinta Qur’an – It’s so amazing because we are in 3rd Level of Bunda Sayang Games. Benar-benar nggak nyangka jika sudah masuk bulan ketiga menjalankan aktivitas sebagai siswa Bunda Sayang di IIP Surabaya.

Nah, untuk game level 3 kali ini kembali menguras pikiran dan tenaga untuk memikirkan family project apa yang akan kami lakukan. Dan beruntungnya karena Allah lagi-lagi membantu kami dengan selalu menyentuh hati-hati kami agar ingin dekat kepadaNya.

Ya, saat ini anak kami sudah memasuki usia 3 tahun 1 bulan. Artinya, sudah cukup usia untuk mulai mendekatkannya dengan Al Qur’an. Sebenarnya sih sudah melakukan pendekatan saat usianya masih 1 tahun, seperti memberikannya Hafidzah Doll agar senantiasa mendengar ayat-ayat suci. Namun, lambat laun, si kecil malah lebih senang mendengar kisah nabi dan kosakata yang disebutkan dalam 3 (tiga) bahasa, yaitu Indonesia-Arab-Inggris.

Sejak saat itu saya membiarkan saja si Salfa mendengar, namun lambat laun jadi malas untuk mengulang huruf Hijaiyyah. Melihat fenomena itu, saya pun tidak tinggal diam dan akhirnya mulai mengajarkan kembali huruf Hijaiyyah dengan irama dan media seperti robopen. Maka dari itu saya ingin memulai Family Project ini dengan kembali mendekatkan Salfa dengan al Qur’an.

Nama Proyek: Menumbuhkan Semangat Cinta Qur’an

Langkah Awal: Mencari TPA/TPQ yang Bisa Dijadikan Tempat Belajar

Pelaksanaan: Kamis, 10 Agustus 2017 (Ba’da Ashar)

Lokasi: Sekitaran Rumah wilayah Petemon Barat, Surabaya

Aspek Komunikasi Produktif

Si kecil saya pacu semangat agar mau belajar al Qur’an, salah satunya dengan mengajak ke TPA/TPQ. Seputar hal yang harus dilakukan Salfa saat memulai proyek ini saya sampaikan.

Bunda: “Salfa, hari ini Bunda ajak Salfa ke tempat belajar Qur’an ya. Di sana ada Bu Ustadzah yang nanti akan belajar bersama Salfa.”

Salfa: “Baeklah.”

Aspek Kemandirian

Salfa dengan semangat mengganti pakaian, memakai jilbab dan juga memakai sandal sendiri tanpa perlu diperintah berulang-ulang. Bahkan seolah tidak sabar bertemu dengan lingkungan baru.

Aspek Kecerdasan

Setelah tiba di lokasi, Salfa tidak serta-merta berbaur begitu saja. Diam mengikuti langkah saya dan saat bertemu ustadzah langsung disalami. Salfa pun mengatur cara duduknya mengikuti anak-anak santri lainnya.

Aliran Rasa:

Sebenarnya ini adalah kali kedua saya menjumpai Ustadzah yang mengajar di TPA/TPQ di dekat rumah. Hanya saja responnya masih seperti kemarin. Tidak menerima anak saya yang masih usia 3 tahun. Saya pun sangat kecewa ditambah lagi sangat terluka ketika mendapati Salfa menangis. Di perjalanan pulang Salfa pun terus bertanya: “Salfa kok pulang lagi? Kan belum ngaji.”

Dan setelah kejadian tersebut, seketika Salfa jadi terlihat tidak suka ketika membahas soal ngaji. Bahkan saat saya berdiskusi dengan Ayahnya di rumah untuk langkah selanjutnya, Salfa tiba-tiba nyeletuk: “Salfa tidak mau ngaji, Nda. Bu gurunya suruh pulang Fafa. Ngga usah ngaji, Nda.”

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan saya hari ini, bukan?

Semoga Allah menjawab ikhtiar saya dan suami ini demi menjadikan Salfa sebagai anak sholehah. Aaamiiin…