Gaya Belajar Pun Bisa Berubah – Speechless. Inilah yang pertama kali saya tunjukkan di depan layar laptop ketika mendapatkan japrian mengenai badge pada game ke-4 di level Bunda Sayang IIP kali ini. Why? Hmm… I think mistakes that should not happen, even repeated. Ya, pasti beberapa fasilitator juga mendapatkan persitiwa ini di kelas yang dikelola. Kesalahan apa itu? Lupa submit tugas, tugas tidak lengkap dan beragam alasan lainnya. Dan koneksi internet menjadi salah satu biang kerok akan permasalahan ini. Lalu sikap saya? Hanya berusaha untuk tetap stay cool dengan keputusan no mercy for the cases like that.

Back to Gaya Belajar…

Terlepas dari permasalahan klasik di setiap akhir game (baca: pembagian badges), sejatinya saya kembali mengulang kepastian bagaimana gaya belajar sebenarnya pada anak dan saya sendiri. Dalam materi menjelaskan bagaimana gaya belajar Visual, Audio dan Kinestetik (bahkan ada Global dan Analitik sebagai tambahannya) dengan beragam stimulasi dan indikator untuk mengetahuinya. Dan saya pun mulai melakukan pengamatan lagi selama lebih kurang 17 hari. Hasilnya, saya tetap senang belajar memadukan visual dan audio. Sementara anak saya, masih sama rata antara ketiga gaya belajar tersebut.

Apakah kemudian ada yang salah karena tidak menemukan sesuatu yang paling dominan? Rasanya tidak akan semudah itu kemudian memvonis bahwa saya masih kurang stimulasi apalagi jika mengatakan ada yang kurang dengan indikatornya. Karena terlalu banyak pengaruh yang bisa membuat seseorang berubah gaya ketika belajar akan sesuatu hal. Lingkungan, kondisi fisik, bahkan support dari orang-orang terdekat menjadi faktornya.

Pertanyaannya, apakah ada nilai lebih yang diperoleh setelah gaya belajar itu berubah? Jika saya yang ditanya, maka jawabannya adalah “ya”. Apalagi jika diperhadapkan pada kondisi kehidupan rumah tangga yang boleh dikatakan tidak semudah pasangan berkeluarga pada umumnya. Saya belajar memahami hidup, membersamai anak, melayani suami dan mengurus rumah tangga bahkan mendampingi peserta Bunda Sayang IIP Sumatera 1 Batch#3 bukan tanpa drama, air mata dan tawa.

Saya mampu membaca dan melihat gambaran betapa banyak peserta yang berhasil “keluar” dari permasalahan hidupnya karena metode belajar yang membuatnya nyaman. Saya bisa mendengar bagaimana jeritan hati peserta lewat tulisan chat meski tanpa menggunakan voice not. Bahkan lewat hasil ukiran tangan peserta (laporan game), saya tahu bagaimana mereka berproses sampai sekarang sehingga masih bertahan di game 5.

Penetapan satu gaya belajar itu bukan hal keliru. Namun bukan berarti kemudian menutup untuk mengembangkan diri dengan bantuan gaya belajar yang berkembang saat ini. Gaya belajar kita sejak kecil bisa berubah sesuai faktor yang sudah saya sebutkan di atas. Namun, untuk kemudian konsisten pada satu gaya belajar, maka semua semesta pun harus mendukung penuh akan hal tersebut.

Fokus meninggikan gunung. Terkadang kita sudah mampu merasakan bagaimana gaya belajar yang nyaman untuk kita jalani. Nah, kesempatan itu kemudian bisa dijadikan media untuk terus mengasah apa yang sedang kita pelajari. Tidak perlu pusing memikirkan hal yang tidak disukai sehingga membuang waktu. Tidak perlu ragu juga ketika tadinya senang belajar dengan gambar kemudian seiring waktu menjadi audio atau kinestetik. Sebab manusia berproses. Bukankah di dunia ini tak ada yang abadi? Bahkan teori air mendidih pada suhu 100 derajat Celsius pun tidak selamanya seperti itu. Ada faktor yang mempengaruhinya.

So, bagaimana gaya belajar kita hari ini? Sudah berhasil mencapai cita atau hanya sekadar angan yang bertumpuk di alam bawah sadar? Mari kita lihat penerapannya pada game berikutnya!