Harapan di Hari Anak Nasional – Sudah lama rasanya tidak lagi bisa merasakan menjadi anak-anak yang sesungguhnya. Diberi perhatian penuh, dimanja, ditemani bermain dan belajar sampai pada dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga di dunia ini tentunya pernah dilewati oleh kita semua yang kini sudah dewasa (baca: “mungkin” tua), hehe. Sejak 2014 lalu, saya pun seolah kembali menemukan dunia tersebut meskipun posisinya bukan lagi saya, tetapi Salfa, anak perempuan yang sangat istimewa, titipan dariNya.

Saya jadi banyak belajar lagi tentang “ilmu anak”. Tak sekadar memberikan kasih sayang, waktu dan seluruh perhatian untuknya, tetapi juga bagaimana membentuk karakter seorang manusia yang ibaratnya seperti kertas putih. Berjuta harapan yang baik serta doa pengiring agar kelak tumbuh menjadi manusia bermanfaat bagi sesame dan Negara serta tidak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai hamba.

Sebagai orang tua tentu selalu berupaya untuk mewujudkannya dengan banyak belajar, sharing, dan mengamati setiap peristiwa di sekeliling. Sungguh dalam hati saya seringkali menangis dan seperti teriris ketika melihat di media sosial banyak berita memilukan tentang anak. Entah itu anak sebagai korban sebuah tindakan kejahatan ataupun sebaliknya, justru menjadi pelaku. Bibir tak berhenti memohon ampun bahkan selalu meminta Allah agar senantiasa membantu saya dalam mendidik Salfa. Sebab, saya sendiri pun rasanya belum memiliki ilmu, kekuatan dan kesabaran yang memadai untuk dijadikan contoh oleh anak saya sendiri.

Jujur saja, di kala raga letih dengan urusan domestik dan ditambah dengan tidak mampunya anak bahkan suami kooperatif dalam urusan lain, emosi mudah terpancing dan akhirnya menghasilkan mata yang lembab serta rongga dada yang begitu sesak. Benar-benar nggak mudah menjadi Ibu. Namun, seiring dengan kondisi tersebut, Allah dengan santunnya melayangkan gambaran demi gambaran kondisi anak-anak di sudut bumiNya yang lain.

Yap, tidak semua anak bisa merasakan kehangatan bersama orang tuanya, khususnya ibunya, meskipun memiliki karakter sensitive seperti saya. Tidak semua anak bisa mendapatkan kebahagiaan berupa kepemilikan benda seperti mainan atau kesenangan jiwa karena mampu diajak tamasya oleh orang tuanya. Dan tidak semua anak-anak memiliki kesempurnaan fisik, mental dan juga perilaku di luar sana. Bahkan ada saja anak di usia dini harus terampas haknya sebagai anak-anak karena tuntutan hidup, demi sesuap nasi.

Harapan di Hari Anak Nasional

Bertepatan dengan Hari Anak Nasional tahun ini, banyak harapan yang terhaturkan untuk anak-anak Indonesia di negeri ini. Banyak doa kebaikan yang terucap dari bibir-bibir orang tua dengan harapan beragam di setiap bait doa. Pastinya saya berharap:

  • Tak ada lagi anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual di negeri ini. STOP kekerasan seksual pada anak.
  • Tak ada lagi anak-anak yang diberdayakan di perempatan traffic light.
  • Tak ada lagi anak-anak putus sekolah karena faktor ekonomi orang tuanya
  • Tak ada lagi anak-anak yang menjadikan media sosial sebagai “pelampiasan” kekecewaan mereka terhadap pendidikan keluarga
  • Tak ada lagi anak-anak yang “kebablasan” bergaul karena tidak adanya benteng agama dari orang tuanya sendiri
  • Tak ada lagi anak-anak diperdagangkan dengan alasan apapun
  • Tak ada lagi anak-anak korban dini dari barang menyesatkan, NARKOBA
  • Tak ada lagi anak-anak yang mendominasi lorong-lorong pasar, panggung-panggung saweran, dan berbagai aktivitas lain yang tujuannya mendapatkan penghasilan tambahan saat dimana mereka seharusnya bersekolah

Dan masih banyak lagi harapan agar anak-anak Indonesia benar-benar menjadi perhatian kita semua, pemerintah dan masyarakat. Mereka terlahir sejatinya tidak pernah meminta. Hanya saja Allah yang memberikan karuniaNya dengan amanah yang sungguh mampu menjadi jalan kita kelak ke surga. Hanya dengan memberikan hak serta mengajarkan kewajibannya di dunia.

Selamat Hari Anak Nasional…

Selamat Hari Anak ya anakku, Salfa. Bantu Bunda untuk selalu menyadarkan akan hak dan kewajibanmu setiap saat.