Harapan di Hari Anak Nasional – Yeay! Sampai juga kita di bulan Juli di tahun 2017. Ada apa dengan bulan Juli? Hehe, bagi saya bulan Juli itu istimewa. Pasalnya, buah hati kesayanganku si Salfa merayakan hari kelahirannya. Nah, sepekan setelahnya, seluruh anak-anak di Indonesia merayakan hari kebanggaan mereka, apalagi kalau bukan Hari Anak Nasional.

Di hari istimewa ini kebetulan sekali saya dan suami memang merencanakan mengajak Salfa untuk lebih dekat dengan lingkungan, khususnya lingkungan dimana saya “bekerja”. Yap, kebetulan sekali saya mendapat undangan untuk mengikuti Fun Walk yang diselenggarakan oleh Sari Husada di Surabaya. Dengan tema yang sangat bagus, yaitu #TanggapAlergi maka saya pun mengajak Salfa untuk berkonsultasi soal alergi. Bahkan kegiatan yang diramu sedemikian rupa membuat Salfa tidak bosan, malah tidak mau pulang.

Namun sejatinya di Hari Anak Nasional ini bukan semata-mata hal yang sebutkan di atas adalah inti perayaan yang kami lakukan. Banyak harapan yang membubung tinggi untuk anak-anak di seluruh penjuru negeri ini. Karena mereka adalah anak-anak kita juga, generasi yang akan membangun Indonesia di masa depan.

Dengan banyaknya peristiwa yang memilukan hati dan menjadikan anak sebagai subjek bahkan objek, tentu selalu ada kewaspadaan yang meningkat dari satu level ke level berikutnya. Bersyukur jika anak kita di rumah tidak pernah bersentuhan dengan hal negatif. Tetapi bukan berarti kemudian tinggal diam ketika mendapati anak saudar-saudara kita jauh di sana yang sedang tertimpa problem. Setidaknya doa panjang dan gerak sosial membawa rasa empati kita untuk membantu.

Nah, di Hari Anak Nasional 2017 kali ini, saya sebagai ibu dari satu orang puteri sangat berharap, TIDAK ADA LAGI:

  • Anak yang Kekurangan Gizi
  • Anak yang Minim Kecerdasan Emosional
  • Anak yang Haus akan Perhatian Kedua Orang Tua
  • Anak yang Jadi Korban Kekerasan Seksual
  • Anak yang Diperjualbelikan
  • Anak yang Putus Sekolah
  • Anak yang Jadi Korban broken home

Dan masih banyak lagi harapan terhadap anak Indonesia, yang sekiranya membutuhkan uluran tangan kita sendiri untuk mewujudkannya. Sebab di tangan mereka lah nasib orang tua akan masuk ke surge atau neraka. Mereka menjadi amanah paling besar dan tak ternilai dari Allah yang kelak diminta pertanggungjawaban. Bahkan mereka lah menjadi penentu akan di bawa kemana nasib bangsa ini, setidaknya 20 tahun yang akan datang.

Jika sampai hari ini masih saja ada anak yang berada di luar dari harapan-harapan saya di atas, mari sama-sama memikirkan langkah kongkrit apa yang harus kita lakukan sekarang, bukan nanti. Sebab semakin berjalan waktu, maka mereka pun semakin membentuk sebuah karakter tersendiri. Seperti apa kemudian? Tergantung bagaimana kita menyentuh dan mengedukasinya sejak dini.

Selamat Hari Anak Nasional. Jangan Lupa Bahagiakan Anak-Anak Kita.