Dear, Istana Cintaku

Hari ini saya ingin berbagi lagi tentang betapa rintangan dalam berumah tangga itu ada dan harus dihadapi dengan sikap yang legowo. Mengatur keuangan bagi saya adalah sesuatu yang sangat sulit. Sebab semakin banyak kebutuhan sehingga keinginan dan harapan harus rela ditekan sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pokok kami.

Saya yang tinggal di daerah Palangka Raya harus rela hampir setiap hari berpuasa untuk menekan angka pengeluaran setiap hari. Bukannya suami tidak memberikan nafkah tetapi butuh kerja keras untuk mencari sekeping rupiah dalam hidup ini.

Berbekal ilmu yang saya miliki, saya mencoba mengikhlaskan untuk bekerja di sebuah bimbingan belajar, Primagama di Palangka Raya. Sementara suami saya di Surabaya harus sibuk mencari orderan desain, printing dan souvenir pernikahan untuk dikerjakan. Tidak lain adalah untuk sekeping rupiah.

Jarak dari kos-kosan saya menuju tempat mengajar bimbel tersebut memakan waktu lebih kurang 20 menit dan saya harus menempuhnya dengan sepeda ontel. Awalnyasaya mengayuh sepeda itu dengan air mata tetapi semakin hari aku yakin dengan kayuhan sepeda ontelku tersebut akan bernilai pahala dan juga rupiah nantinya.

Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Itulah harapan kami. Kami berusaha sekuat mungkin untuk mengumpulkan kepingan-kepingan rupiah untuk masa depan kami, masa depan generasi penerus kami.

Jika saat ini ada diantara pembaca yang hidup dengan kebahagiaan harta yang melimpah maka nafkahkan di jalan yang benar agar tidak sia-sia di kehidupan yang kekal nanti.

Bagi pembaca yang juga merasakan hal yang sama dengan saya, yakinkan diri bahwa setiap badai itu pasti akan berlalu. Langit cerah akan datang serta tenangnya laut akan nampak segera. Jika masih ada rasa penyesalan dalam hati, buanglah jauh-jauh sebab rezeki itu selalu datang dari tempat yang tak pernah kita duga asalkan kita juga yakin akan janjiNya.