Jadi Mentor atau Mentee Dulu? – Pertanyaan ini muncul saat grup facebook kembali ramai karena tahap menjadi kupu-kupu tinggal selangkah lagi. Memang sih kurun waktu berada di Tahap Kupu-Kupu setelah tadinya ada di Tahap Kepompong, memakan waktu 2 bulan nantinya.

Namun, saya percaya bisa selesai jika ada kemauan, meskipun di dalam dada saya ada sedikit kepudaran semangat karena melihat sesuatu yang membuat bingung dengan aturan. Ah, sudahlah! Namanya aturan dibuat manusia, tetap saja bisa tidak sesuai praktiknya di lapangan. Eits, yang baca ini jangan baper yang tidak-tidak ya. Konfirmasi ke saya maksudnya sebelum berasumsi yang bisa jatuh terhadap fitnah.

mentorship bunda cekatan

Mentorship Bunda Cekatan

Pada tahap ini, kita semua diminta untuk menjadi mentor atau mentee.  Pekan pertama kalau jadi mentor, pekan kedua bisa jadi mentee. Namun saat membaca ini, saya sudah sepakat dalam hati bahwa menjadi mentor itu pilihan tepat bagi saya. Alasannya karena:

  • Saya butuh menuangkan ilmu yang selama ini ada di kepala
  • Butuh asupan list amal jariyah
  • Niat membantu sesama
  • Butuh aktivitas selama WFH (meskipun selama ini memang banyak di rumah)
  • Saya bingung mau belajar apa lagi sementara saya sudah ikutan kesana-kemari webinar, kuliah online, dan jenis menuntu ilmu lainnya yang saat pandemi ini banyak dilakukan orang
  • Saya bukan mentee yang bisa lepas begitu saja dengan mentornya, jadi kalau cuma 2 bulan rasanya tidak cukup

Jadi Mentor atau Mentee?

Mentor, dong!

Jawaban saya sudah bulat karena lagi-lagi dengan menjadi mentor, saya justru tidak bakal lupa dengan ilmu yang ada di kepala. Apalagi kalau memang selama ini dipraktekkan, tentunya sangat mudah untuk menuangkan kembali. Ditambah lagi, semuanya berjalan online. Tidak harus bertatap muka langsung karena saya bisa sambil momong bayi usia 7 bulan dan juga kids usia jelang 6 tahun.

Selain itu, saya bisa menunjukkan hasil dari apa yang akan saya mentoring-kan nantinya sehingga tidak semata ilmu saja tetapi juga ada buah dari hasil praktik selama ini.

Lalu, Jadi Mentor Apa Dong?

Bagaimana Menulis Artikel yang Search Engine Friendly?

Pertanyaan di atas mungkin sudah ada yang pernah baca di internet. Kalau sekadar baca dan tidak praktik, berhasil nggak? Ya nggak dong. Nah, makanya saya beruntung punya mentee yang mau.

Awalnya saya punya 8 calon mentee. Namun, saya harus memilih 2 mentee saja supaya tidak keteteran. Niatnya cari amal jariyah, pastinya harus benar sungguh-sungguh, bukan?

Nah, ini dia mentee saya:

  1. Alvin Tio
  2. Dian Kusumawardhani

Sama-sama keduanya kenal dan sering bertemu beberapa tahun lalu karena event Ibu Profesional regional Surabaya Raya (waktu itu). Sekarang lebih sering di dunia maya, WhatsApp atau Facebook. Tetapi sekarang harus ke messenger karena mentorship dipertemukan di grup FBacebook.

***

Well… seperti apa keseruan kami, semoga pekan depan mereka tidak kapok dan punya value baik terhadap saya dan kemampuan menulis mereka makin terasah.

Kalian mau jadi mentee? Yuk, sampai jumpa pekan depan, haha.