Jumlah Anak Obsitas di Indonesia Terus Meningkat – Angka obesitas pada masyarakat Indonesia terus meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Menurut studi global yang dilansir oleh New England Journal of Medicine, kasus obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes, jantung, dan kanker.

 

Meningkatnya kasus obesitas di Indonesia juga didukung dengan data Riset Kesehatan Nasional 2016 yang mengungkap bahwa 20,7% penduduk dewasa Indonesia mengalami masalah obesitas. Angka tersebut mengalami peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan kasus obesitas tahun 2013 yang menyentuh angka 15,4%, bahkan menurut jurnal ilmiah yang dilansir oleh Global Burden of Diseases, Indonesia berada di posisi 10 dalam daftar negara dengan tingkat obesitas tertinggi di dunia pada tahun 2014.

Penelitian lanjutan juga dilakukan oleh University of Washington di 195 negara. Hal yang sangat mengejutkan bahwa terdapat 107 juta anak-anak dan 603 juta orang dewasa di seluruh dunia yang mengidap obesitas. Dengan kata lain, kasus obesitas telah menimpa 1 dari 10 penduduk dunia, termasuk Indonesia.  

Terkait hal tersebut, beberapa peneliti menemukan bahwa penyakit obesitas menjadi penyebab dari 4 juta kasus kematian pada tahun 2015.

“Implikasi globalnya sangat besar,” ucap Barry Popkin selaku Guru Besar Ilmu Gizi di University of North Carolina ketika diwawancarai oleh majalah New York Times.

“Studi ini membuktikan tidak ada negara di dunia yang berhasil menurunkan angka pengidap obesitas, meski kerugian ekonomi yang ditimbulkannya.” Lanjut Barry Popkin.

Dokter spesialis gizi klinik, Dr. Stella Bela MGizi SpGK, berpendapat bahwa penyakit kronis ini disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. “Obesitas adalah awal berbagai penyakit kronik,” ucap Dr. Stella dalam diskusi media Asupan Serat Sejak Dini Cegah Penyakit Kronis (16/11).

Menurutnya, obesitas dapat menyebabkan inflamasi dan mengganggu kerja insulin dan berakhir pada diabetes. “Lemak viseral atau lemak perut adalah sumber inflamasi dan memicu berbagai masalah kesehatan dan penyakit kronis,” lanjur Dr. Stella.

Selain itu, obesitas juga dapat menyebabkan penyakit sleep apnea, sakit pinggul, GERD (asam lambung naik), hipertensi, nyeri lutut atau osteoarthritis, dan penyakit berbahaya lainnya.

“Obesitas dapat dicegah dengan hidup sehat. Caranya dengan makan sehat, cukup minum air, mengurangi stres, dan olahraga cukup,” jelasnya.

Di sisi lain, bagi penderita obesitas yang ingin menurunkan berat badan, disarankan untuk mengatur pola dan jenis makan yang dikonsumsinya. Dr. Stella menganjurkan untuk mulai menganalisis dan mengurangi jenis makanan yang tinggi kalori.  

“Makan sebaiknya teratur tiga kali sehari dan dua kali makanan selingan. Sebaiknya, seluruhnya hanya berjarak tiga jam saja agar ketika lapar langsung mendapatkan asupan makanan. Makanan yang dipilih pun sebaiknya lebih banyak asupan buah dan sayur, sedangkan untuk makanan selingan sebaiknya tidak boleh dari 100 kalori,” ujarnya.

Pasalnya, kasus obesitas lebih rentan terjadi pada anak-anak ketimbang orang dewasa. Hal ini tentu sangat memprihatinkan, bahkan menurut pengakuan orangtua dari anak pengidap obesitas, ia merasa khawatir akan kesehatan putrinya. Ia pun mengaku kesulitan mencarikan baju anak perempuan untuknya. Kasus obesitas pada anak juga terjadi di daerah Karawang, Indonesia. Bocah berusia 10 tahun bernama Arya Permana memiliki bobot 188 kilogram.

Menurut psikolog Ayoe Sutomo MPsi, kebiasaan tidak sehat pada orang tua berpotensi menurun kepada anak mereka karena anak akan meniru segala hal yang dilakukan oleh orang tuanya.

“Untuk itu, dalam pemenuhan asupan dan pola hidup harus dari orang tua dahulu yang melakukannya, salah satunya adalah pola makan sehat dan asupan bergizi, dengan mengenalkan sayuran dan buah pada anak,” ucap Ayoe Sutomo.

Melihat permasalahan ini, pemerintah diharapkan dapat memberi edukasi terkait nutrisi dan pola hidup sehat, khususnya kepada para orangtua, secara merata di Indonesia. Kasus obesitas juga terjadi di negara-negara yang terancam rawan pangan seperti Somalia dan Afrika. Ironisnya, beberapa studi mencatat Burkina Faso, salah satu negara di Afrika Barat, memiliki pertumbuhan obesitas tertinggi di dunia.