Termenung.

Satu kata ini yang muncul pertama kali setelah membaca ulang hasil chat-ku dengan buddy yang memilihku. Ya, saya mungkin peserta Bunda Cekatan yang paling ngenes karena menjalani dan mengerjakan tugas-tugas boleh dibilang tidak sepenuh hati.

Malas? Oh, bukan!

Saya hanya selalu didera pertanyaan tentang: “Sudah berapa mantap niat dan langkahmu menjalankan hidup sebagai telur dan kini ulat?”

Jawabannya juga selalu menggantung. Sebab terus-terang saya seperti telur yang berubah menjadi ulat dalam kondisi terasing sekali. Tak ada yang merasa bahagia saya tumbuh dan berkembang di level ini. Bahkan saya yang mengemban tugas sebagai Ketua Kelas seolah hanya sekadar nama. Namun, saya masih tetap berusaha positive thinking. 

Ah, kenapa saya yang jadi curhat ini, haha. Baiklah lanjut ya cerita tentang buddy-ku.

Nura, itu nama sapaan yang sudah melekat sejak saya mengenalnya sejak bergabung di Institute Ibu Profesional cabang Surabaya Raya (kini kami berkumpul di Surabaya Madura). Kesan pertama bertemu dengannya, perempuan dengan dua anak (saat bertemu waktu itu) adalah tegas, cuek dan komitmen dengan keputusannya. Maka ketika saya berada di dekatnya, saya merasa aman karena ketegasan yang ditampilkannya. 

Seiring berjalan waktu, kami pun lama tidak saling bertemu meskipun sesekali bertegur sapa di WhatsApp. Bahkan saya terharu karena beliau masih sempat datang menjengukku saat lahiran anak kedua, Shanum. Saya merasa bahagia karena toh waktu menanti level Bunda Cekatan dari Bunda Sayang yang sangat lama (untung ubanku belum tumbuh semua) membuat semangat belajar Mba Nura menjadi kendor.

Tetapi, bukan teman kalau tidak mengingatkan. Saya pun berusaha membantu apa yang dia butuhkan. Bahkan sesekali saya ingatkan agar tetap berusaha menjaga sehingga tidak keluar dari Bunda Cekatan. Saya ingin punya teman di Bunda Cekatan yang berada se-kota. Banyak sih yang lain tetapi hanya menjadi teman sekadar teman.

Di minggu ke-8 ini sebenarnya saya excited dengan informasi yang diberikan kepada saya tentang kondisinya saat ini. Mengasuh anak balita dan dua kakak sebelumnya, sibuk mempersiapkan diri juga untuk tes CPNS dan ternyata sedang mengandung calon anak keempat. Seketika itu saya termenung. Lamaaa…

Betapa Allah dengan mudah memberikan amanah kepadanya berupa anak. Sementara di luar sana banyak yang harus mengeluarkan uang ratusan juta itupun kalau berhasil. Dan di situlah dilemanya karena “kesundulan” ini menjadikan dirinya tidak nyaman. Ada rasa denial yang menghantui bahkan pikiran yang saya yakin hanya sekadar asumsi saja, seperti orang tuanya yang akan berkata-kata kurang berkenan dengan kondisinya hamil tetapi masih dalam masa menyusui.

Ah, Mba Nura. Andai dirimu tahu seberapa banyak orang di luar sana yang sulit mendapatkan anak, tentu tidak akan tumbuh rasa itu. Tetapi, lagi-lagi saya juga harus berdiri di posisimu yang pasti akan semakin kompleks isi pikiran. Anak jelang empat, otomatis butuh tambahan bujet dan segala keperluan lainnya. Bahkan kesiapan emosional juga perlu untuk selalu dijaga.

Aku hanya berpesan padamu, Mbak:

Percayalah ada Allah yang Maha Mengatur

Hanya Dia yang Menganggapmu Mampu Melalui Semuanya

Maka AmanahNya Dititipkan Untukmu dan Keluargamu

Pegang kuat dan hujamkan di dalam dadamu, All is Well

Karena aku tahu kondisi buddy-ku seperti apa, maka saya coba memberikannya bekal 30 Hari sebagai berikut:

Kenapa hanya 4 bekal? Hmm… karena saya tahu 4 bekal di atas sudah sangat mampu membuat ulat Nura menjadi kenyang dan melahap semuanya untuk menjadi kupu-kupu cantik.

Tidak percaya? Tunggu saja setelah Bunda Cekatan ini selesai…