Karena Menulis itu Tak Sekadar Menyusun Huruf – Sebenarnya bingung harus menulis apa dalam Tugas NHW#10 ini. Alasannya sederhana, saya sama sekali belum tahu seberapa banyak yang membutuhkan RB Menulis ini di Surabaya, khususnya di kalangan IIP. Namun kemudian saya merasa termotivasi untuk membentuk RB Menulis karena setelah memperhatikan, ternyata banyak yang “bi(a)sa menulis”.

Nah, kebiasaan menulis ini sudah terlihat dari tugas-tugas Matrikulasi hingga Bunda Sayang yang membutuhkan laporan dalam bentuk tulisan. Sayangnya, masih banyak yang belum sepenuhnya memahami bagaimana menulis sesuai dengan kaidah yang sebenarnya.

“Aduh, Mbak Amma. Menulis saja dibawa serius. Santai saja dong. Toh menulis yang baca juga kan teman IIP juga. Santai.”

Mungkin saja ada celetukan seperti itu dari dalam hati sebagian emak-emak di IIP Surabaya. Tetapi, saya pribadi tetap merasakan gusar ketika sebagai calon ibu profesional, mengaku diri kuliah di IIP, tetapi pola penulisan kata tidak sesuai dengan ejaan yang seharusnya.

“Kan hanya chat WhatsApp, Mbak Amma. Biasalah ketika menggunakan kata yang singkat supaya cepat untuk menyampaikan pesan.”

Big No. Kalau saya flashback, saya juga termasuk orang yang suka sekali mempersingkat kata saat SMS, BlackBerry Messenger (dulu masih ramai menggunakan BBM) dan chatting lainnya. Hasilnya, beberapa kali menimbulkan kesalahpahaman sehingga berujung pada hubungan sesama teman menjadi tidak harmonis. Lalu saya kembali berkaca, bahwa sejatinya menulis kata yang baik dan benar itu tidak hanya berlaku saat menulis skripsi atau tesis. Di dalam segala hal apapun harus dibiasakan.

A la bisa karena biasa.  Pepatah yang tidak pernah salah dan sampai detik ini saya terus menggunakannya. Apakah kemudian kebiasaan ini tidak menghadapi tantangan? Jangan salah. Justru protes datang dari pihak terdekat. Seperti suami, teman dan beberapa keluarga lainnya. Namun, saya menjelaskan dengan baik bahwa saya hanya berusaha membiasakan diri saya untuk menulis sebagaimana harusnya sekaligus menjadi contoh yang akan pertama kali ditiru oleh anak saya yang semakin bertumbuh dan berkembang. Kalau bukan dari saya sendiri yang mengubah kebiasaan baik, lalu siapa lagi?

Nah, saya sangat berharap RB Menulis bisa terbentuk di Surabaya. Bahkan sampai saat ini sudah ada yang meminta saya untuk diajarkan menulis di blog. Well… menulis di blog memang tidak ada aturan baku sampai sejauh ini. Namun, setiap tulisan yang ada di blog, kebolehjadian dibacanya oleh seluruh penduduk dunia maya itu sangat besar. Jika penggunaan kata saja kita kurang memahami harus menggunakan yang seperti apa, bagaimana mungkin orang mau bersusah payah menyediakan waktu sekian menit untuk membaca tulisan kita?

Apalagi saya melihat kebanyakan teman-teman di IIP Surabaya sangat antusias ingin membuat buku setiap tahunnya namun terkendala pada metode dan juga jalurnya. Maka saya sangat berharap dengan adanya RB Menulis, teman-teman bisa terbantu untuk menghimpun seluruh ide yang saat ini mungkin masih di dalam benak masing-masing. Sungguh sangat bahagia jika setiap tahunnya ada buku antologi yang lahir dari ide-ide segar para ibu profesional Surabaya.

Kendala tentunya akan terus menghadang. Keberadaan RB Menulis yang sudah lebih dahulu ada di IIP kota lain akan menjadi cerminan untuk berbuat hal serupa atau lebih baik lagi. Karena metode ATM (Amati – Tiru – Modifikasi) bisa sangat membantu untuk berjalan dan menggapai tujuan masa yang akan datang.

Soal agenda, kami berharap setiap yang bergabung nantinya sudah memahami bagaimana penggunaan kata baku, menulis di media sosial dan blog bahkan media cetak. Bahkan kami akan mencoba menghadirkan guest star yang mumpuni di bidang kepenulisan sebagai cambuk dan motivasi untuk tetap menulis.

Because writing is sometime as self-healing, refreshing and also the evidence that we have been life…