Karena Sejatinya Hidup Diisi dengan Ilmu – Manusia di muka bumi ini diberikan waktu oleh Allah dalam menjalani hidup sejatinya adalah untuk mencari ilmu. Sebagaimana yang diketahui oleh seluruh ummat Islam bahwa ayat pertama turun pun berkenaan dengan ilmu: “Iqro’ yang artinya Bacalah”. Dengan begitu, makna yang tersirat bagi ummat manusia dalam kehidupan ini adalah menggali pengetahuan pada petunjuk sekaligus mukjizat Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Nah, dengan dasar itulah menjadikan saya tidak pernah berhenti menuntut ilmu. Bahkan saya bersyukur karena almarhum bapak saya telah berjuang menyekolahkan hingga ke jenjang magister. Pastinya beliau memahami betul bahwa ilmu itu tidak akan pernah rugi jika dimiliki apalagi diamalkan. Bahkan profesi beliau sebagai guru ketika masih hidup sudah menjadi landasannya secara tidak langsung.

Karena Sejatinya Hidup Diisi dengan Ilmu

Kalau saya pribadi ditanya tentang ilmu yang akan ditekuni dalam kehidupan setelah beberapa ilmu yang sebelumnya sudah ditekuni, maka selanjutnya adalah saya ingin menekuni ilmu bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa al Quran yang begitu indah dan memiliki pola grammatical yang unik. Untuk itu, alasan ingin menekuni ilmu bahasa Arab adalah agar memudahkan saya dalam menghafalkan ayat-ayatNya. Karena menurut asumsi saya, ketika bahasa Arab sudah dikuasai, maka akan sangat mudah menghafalkan ayat al Quran plus maknanya. Dengan demikian, lisan yang mengucap, telinga yang mendengar, otak yang berpikir dan hati yang merasakan akan lebih mudah saling bersinergi satu sama lain.

Namun, kondisi saya saat ini adalah seorang ibu rumah tangga dengan balita aktif plus masih tinggal di kontrakan kecil, menjadikan saya berada dalam kebingungan untuk menuntut ilmu bahasa Arab di luar rumah. Padahal di Surabaya ini pasti ada banyak institute atau lembaga kursus bahasa Arab. Strategi saya dalam usaha menuntut ilmu bahasa Arab tersebut satu-satunya adalah mencari kursus online bahasa Arab. Mungkin terdengar aneh atau bisa jadi tidak ada, tetapi saya tidak akan berputus asa untuk tetap mencari. Bahkan saya mencoba menggunakan kosakata bahasa Arab tertentu ketika berbicara dengan sesama teman yang memahami bahasa Arab. Seperti kata “afwan” untuk “maaf”, dan lain-lain.

Bertambah ilmu otomatis akan berpengaruh pada pola sikap. Pastinya, selama menuntut ilmu, sikap harus tetap rendah hati, tidak mudah menyerah, sumber ilmu tidak dijadikan alasan untuk di-share sembarangan tanpa persetujuan pemberi ilmu, tidak menggandakan modul pelajaran yang diberikan (baik softcopy maupun hardcopy) tanpa ijin pengajar/penulis modul, dan sikap-sikap yang harus sesuai dengan adab penuntut ilmu.

Well… itu ilmu yang ingin saya kejar selagi umur masih diberikan. Tetapi, ada ilmu yang lebih penting sebenarnya yang harus saya kuasai (seharusnya) sejak sebelum dinyatakan hamil oleh dokter obgyn. Apa itu? Jawabannya adalah ilmu ikhlas menjalani takdir sebagai perempuan, istri sekaligus ibu di dalam keluarga.

Pasti semua orang tahu bahwa ikhlas itu adalah merelakan dengan hati yang lapang. Kalau lihat arti mengikhlaskan dalam KBBI, maka mengikhlaskan adalah memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati. Yup, sama!

Ilmu satu ini memang terbilang pelajaran yang paling sulit untuk saya kuasai. Alasan untuk menekuni ilmu ikhlas ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadi ibu profesional. Hmm… terlalu tinggikah cita-cita saya untuk menjadi ibu profesional? I think it is wanted by all women in this world, isn’t?

Saya akui bahwa menjadi ibu benar-benar bukan profesi mudah. Bahkan mengerjakan 1.000 soal kimia pun tidak akan sama sulitnya dengan menjalani kehidupan sebagai seorang ibu. Belum lagi ketika anak sangat aktif, mau tidak mau menuntut tenaga harus ekstra lebih besar dibandingkan sebelum dirinya hadir. Masih sering merasakan kegalauan saat menerima telepon dari ibu di kampung yang selalu menginginkan saya bekerja dengan alasan sudah sekolah sampai magister. Belum lagi ketika diperhadapkan pada kondisi teman-teman sekolah dulu yang kini sudah banyak yang sukses meniti karir. Melihat semua itu mau tidak mau menantang rasa ikhlas saya dengan takdir yang saya jalani sekarang.

Lantas bagaimana saya harus menekuni ilmu ikhlas tersebut? Strategi apa yang harus saya jalankan untuk menggapai keikhlasan tersebut? Maka jawaban saya saat ini adalah berusaha untuk kembali mengingat tujuan Allah menciptakan saya di bumiNya, mengingat kembali kenikmatan yang Allah berikan sejauh ini, bahkan flashback dengan niat awal saya menikah hingga saat ini sudah berjalan hampir 5 tahun.

Proses mencari dan mempelajari ilmu ikhlas sejatinya membawa perubahan signifikan dalam diri saya. Namun, seperti yang saya katakana sebelumnya bahwa ilmu ikhlas ini adalah ilmu tersulit untuk saya pelajari, maka perubahan sikap yang saya rasakan sejauh ini adalah lebih banyak diam dan merenung bahkan menghela nafas panjang. Apalagi ketika dada mulai terasa sesak, saya pasti melampiaskannya dengan menangis lalu mencoba lebih tenang dengan membaca motivasi-motivasi hidup orang yang gigih berjuang sebagai ibu.

Hmm… betapa kompleksnya hidup saya. Namun, saya tetap berusaha memperbaiki diri dengan terus meng-upgrade ilmu-ilmu yang ada sebelumnya sembari memberikan ruang untuk ilmu lainnya. Jadi, sudah sepatutnya hidup ini harus terus diisi dengan ilmu-ilmu bermanfaat dan pastinya berkah.

***

Di sudut ruang penuh asa, 26 January 2017 pukul 00.46

*Bunda Salfa, Surabaya*