Keluarga Multimedia Bagai Pisau Bermata Dua – Siapa sangka jika kemudian kita hidup di zaman dimana semua serba teknologi. Saya jadi flashback masa kecil ketika menonton sebuah film anak-anak kesukaan setiap hari Ahad, yaitu Doraemon. Dalam kisahnya saat itu, saya diperlihatkan sebuah kisah dimana ada negeri yang seluruh aktivitasnya dikerjakan oleh robot. Manusia yang hidup di zaman itu sungguh terbantu dengan robot tersebut.

Saya jadi berangan-angan, jika kelak 10 tahun mendatang anak-anak kemudian ditemani robot-robot dalam proses tumbuh-kembangnya. Akan seperti apa kehidupan di saat itu?! Hmm…

keluarga multimedia

Pikiran di atas muncul ketika saat ini telah menemani peserta Bunda Sayang Batch#5 regional Jawa Timur Merger. Dimana tidak semua dari mereka yang begitu bahagia dengan keberadaan materi Multimedia. Alasannya pun beragam. Namun saya sangat menghormati keputusan mereka, apalagi yang sama sekali mundur untuk mengerjakan game. 

Padahal kalau dipikir, tantangan mencari aplikasi yang penting dan bermanfaat untuk dijadikan sebagai salah satu media belajar atau untuk upgrade ilmu, rasanya tidak mengapa. Hanya saja memang membutuhkan sedikit pengorbanan seperti kuota internet saat melakukan proses pengunduhan. Namun saya percaya bahwa pengorbanan itu akan terbayar suatu saat di masa mendatang. Contoh sederhananya adalah keluarga saya sendiri.

Mengenalkan anak dengan aplikasi seperti Instagram, membuatnya yakin bahwa aktivitasnya bisa terekam baik di sana. Selain saat ini, dikerjakan untuk tugas sekolah pastinya perjalanan setiap hari yang dilakukannya bisa menjadi nilai tersendiri untuknya saat kelak dewasa. Salah satunya adalah percaya diri untuk bicara atau tampil di depan kamera. Berani mengutarakan isi hati saja, bagi saya itu sudah sangat luar biasa sehingga saya terbantu dalam menata emosi saya pribadi ketika menemani si anak tersebut.

Back to the own perspective…

Ya, saya kembalikan semuanya kepada mereka, peserta Bunda Sayang Batch #5 Jawa Timur Merger ini. Karena saya yakin bahwa mereka bukan lagi anak-anak yang harus saya dikte satu per satu. Apalagi ini sudah level 12, lebel terakhir dalam Bunda Sayang. Dan besar harapan saya untuk kemudian mereka memanfaatkan aplikasi tersebut sebagai media agar terus semangat menjadi perempuan, istri dan pastinya ibu.

Keluarga Multimedia Bagai Pisau Bermata Dua itu kembali lagi kepada pribadi masing-masing keluarga bagaimana menyikapi arus perkembangan zaman yang ada di depan mata. Pastinya saya sangat salut kepada yang sudah bisa mengasah dan memacu dirinya untuk terus semangat dalam mengerjakan game kali ini, apalagi ada beberapa nama baru yang masuk di jajaran Outstanding Performance.

Saya akui, saya bukan Fasilitator yang baik untuk mereka karena tidak mampu menghadirkan semuanya dalam Zoom Meeting. Tetapi, saya percaya bahwa yang hadir akan semakin memantapkan diri dan yang tidak sempat bergabung menjadi salah satu masukan untuk saya agar ke depannya bisa lebih semangat lagi dalam membimbing.

Selamat semuanya, teman!

Sampai jumpa di tahap Bunda Cekatan ya…