Keluarga Multimedia Day 05: Snapseed, Aplikasi Edit Foto yang Friendly – Mencintai dunia fotografi bukan baru sebulan dua bulan ini. Saya masih ingat betul bagaimana kakak senior saya di jurusan kimia dengan sabarnya mendidik saya untuk bisa jepret yang tak sekadar jadi. Sampai-sampai suatu sore, saya dihubungi untuk segera menemuinya di pantai.

“Mau belajar motret? Segera ke sini! Pantai Losari…” Ucapnya singkat, padat dan jelas.

Saya yang waktu itu memang sedang berada di lokasi yang tak jauh dari Pantai Losari, tak mau membuang kesempatan. Dan akhirnya, seiring berjalannya waktu, saya mencoba mengikuti langkah demi langkah agar tetap bisa menghasilkan foto yang bagus. Nah, persoalan selanjutnya adalah bagaimana menampilkan foto di media sosial dengan cantik.

Kalau dulu belum familiar dengan photo editing, sekarang sudah banyak aplikasi yang berseliweran. Salah satunya adalah Aplikasi Snapseed. Tadinya saya benar-benar kaku menggunakan aplikasi ini apalagi memori ponsel yang sedikit sehingga menjadikannya sebagai aplikasi yang ter-uninstall. 

Barulah setelah mengenal dunia fotografi yang bersanding dengan dunia digital, saya pun harus terbiasa. Aplikasi ini pun terbilang aplikasi populer karena sudah lebih dari 50 juta yang mengunduh. Sudah bisa dibayangkan aplikasi ini dibutuhkan karena zaman sekarang adalah zaman digital dan visual yang sangat pesat.

Aplikasi Snapseed for Android 

Berbekal memori ponsel yang cukup, saya mencoba mengunduh kembali di ponsel. Berada di deretan aplikasi fotografi, Snapseed menjadi aplikasi yang paling sering saya gunakan. Apalagi saya selalu mencoba mengisi feed Instagram dengan mengikuti photo challenge. Mau tidak mau saya harus memasang watermark, edit foto dari segi tone, cropping ke bentuk square dan masih banyak lagi. Bahkan beberapa bulan lalu, saya menggunakan aplikasi ini untuk memberikan brightness pada foto saya yang sama sekali gelap gulita. Hasilnya? Not too bad.

Fitur-fitur yang ada di dalam aplikasi Snapseed sangat mudah dioperasikan. Tinggal bagaimana jari terbiasa saja. Dalam sehari saya biasanya menggunakan hingga dua kali untuk foto terbaru. Namun, kalau sedang banyak waktu senggang bisa beberapa foto. Tergantung mood sedang tinggi atau tidak.

Pengalaman Menggunakan Snapseed 

Penyimpanan hasil foto yang kita edit, otomatis akan tersimpan dalam folder bernama Snapseed. Namun, bisa kita hapus jika tidak ingin menambah berat memori. Kalau sudah posting di media sosial, biasanya saya langsung hapus. Kalau butuh untuk lihat yaa tingga buka Instagram.

Berikut adalah akun Instagram saya yang khusus posting fotografi dan Snapseed menjadi aplikasi penting untuk mempercantik feed saya di IG ini. Yaa meskipun ada yang nyinyir soal IG saya ini, whatever. Pastinya saya bertanggung jawab atas apa yang saya posting di sini. Dengan kata lain, semua hasil jepretan sendiri.

Foto yang diedit via Snapseed – Watermark

Sedangkan yang ini saya edit cropping dan watermark ditambah dengan sedikit pencahayaan:

“Kok fotonya kebanyakan kopi?” 

Ya, ada yang pernah bertanya seperti itu. Jawabannya sederhana, kopi selalu cantik di lensa dan mata saya plus kopi bisa membuat saya melek ketika mengerjakan tugas, contohnya tugas dari level 12 ini, hehe.

***

Well… kalau ditanya soal apakah ada hubungannya edit foto dengan keseharian saya sebagai ibu, pastinya ada. Tak hanya persoalan hobi motret saya, tetapi juga foto-foto anak yang sedang menjalankan pembelajaran dari stimulasi yang saya berikan pun selalu saya edit via snapseed sebelum publish di media sosial. Apalagi jika berurusan dengan pekerjaan saya sebagai influencer.