Keluarga Multimedia Day 15: Plugin Steempress yang Memudahkan Bloger Menjadi Steemian Update – Sebenarnya saya bingung juga akan menulis apalagi soal tantangan level 12 kali ini. Sebab, rasanya semua aplikasi dan software yang saya gunakan sudah ditulis dari hari pertama hingga ke-14 kemarin. Namun, karena tidak ingin membuang kesempatan yang tinggal level terakhir ini, maka saya memutuskan untuk tetap lanjut. Dan Plugin Steempress menjadi pilihan saya untuk diulas kali ini. Yaa meskipun tidak begitu detail karena saya pun masih terus mempelajari.

5 Alasan Mengapa Blogger Harus Memakai Steempress

Terjun di dunia Steemit pastinya saya bukan orang yang mahir. Bahkan platform ini sudah ada tahun 2016 yang kemudian booming hingga sekarang dan saya pun menggunakan. Namun, profesi saya yang sudah menjadi blogger tentunya menjadi dilema karena dalam pikiran akan muncul statement ini: “Duh, reeek. Kudu nulis nang akeh platform kuwi nggarai ngelu. Siji blog ae mbingungi arep diisi opo. Opo maneh aku nduwe akeh blog. Yo opo terusan?” 

Install Steempress

Nah, kalimat itu awalnya menjadi perang batin di dalam diri saya. Makanya saya pun kemudian menyimak waktu demi waktu sejak bergabung bulan Juni 2018 lalu. Dan benar janji Allah, setiap jalan pasti ada saja bisa ditemukan kemudahan. Plugin Steempress kemudian dikenalkan pada kelas online yang membahas Steemit, dimana saya menimba ilmu soal Steemit ini. Dan inilah 5 alasan mengapa blogger harus memakai Steempress agar tetap menjadi Steemian yang update tulisan, setidaknya satu posting minimal dan 4 posting maksimal dalam sehari:

  • Steempress Gratis; sebagai emak-emak yang setiap hari disibukkan dengan keuangan keluarga, pastinya akan mikir kalau ada plugin berbayar untuk kelangsungan blog-nya. Hmm… setidaknya saya yang demikian, hehe. Gratisnya Steempress membuat saya tidak berpikir lama untuk segera meng-install. 
  • Update Blog – Steemit Otomatis; maksudnya di sini, sekali menulis di blog yang kita miliki, maka seketika itu juga blog Steemit kita bisa ikutan update. Terhubungnya Blog sendiri ke Steemit, membuat saya tidak perlu kehilangan waktu bersama anak karena harus menulis sekitar 6-8 artikel per hari.
  • Minimum Tulisan 500 Kata untuk Dapat Kurasi/Upvote; blogger pasti pahamlah minimal tulisan yang baik untuk blog, bukan? Nah beruntung karena kurator Steempress juga akan memberikan kurasi jika tulisan minimal 500 kata. Bisa dibayangkan bagaimana mudahnya, kan?
  • I am WordPress Lover; sebagai blogger yang sejak awal sudah cinta sama WordPress, hadirnya Steempress memberikan peluang tersendiri. Sebab Steempress memang diperuntukkan bagi pengguna WordPress, khususnya WordPress self-hosted.
  • Satu Steempress Bisa untuk Lebih dari Satu Blog WordPress; ini kabar bahagianya juga karena seperti yang saya bilang sebelumnya bahwa blog saya ada beberapa dan semua basic-nya WordPress Self-Hosted, maka saya pun menjadi tidak khawatir lagi untuk akun Steemit karena bisa menulis dengan berbagai tema dari beberapa blog tersebut. Ada yang tema parenting (seperti blog ini), lifestyle dan juga buku. Bahkan ada yang khusus pariwisata namun ini butuh update dulu domainnya, hehe.

Fitur Steempress yang Perlu Diketahui

Beberapa fitur Steempress yang perlu diketahui pun tidak begitu sulit. Langkah-langkah untuk mengaktifkan Steempress sendiri pun tidak akan membuat kita kebingungan. Yang diperlukan adalah:

  • Nama akun Steemit
  • Password yang berupa deretan kode panjang yang bisa diambil dalam Wallet Steemit kita sendiri (ada pada bagian Posting Key)
  • Default tag yang bisa diisi yang bisa diganti sesuai dengan jenis tulisan
  • Centang kolom yang benar-benar penting seperti dan sebaiknya tidak memberikan centang pada self vote.
  • Spare reward 50% Steem Power dan 50% Steem Dollar

Kaitannya Steempress dengan Keluarga Multimedia

Bagi saya pribadi, Steempress sangat bermanfaat bagi yang sedang berprofesi sebagai mommy dan meluangkan waktunya untuk menulis di blog. Ditambah lagi jika kemudian mengikuti sebuah Komunitas Ib Profesional. Sebab, tantangan yang diberikan dalam Komunitas IP ini bisa dituangkan dalam blog, khususnya pemakai WordPress – self hosted. Nah, secara otomatis, akun Steemit tidak akan pernah sepi dengan tulisan kecuali kalau memang dari diri sendiri yang malas. Bukan begitu?

Steempress Plagiasi Konten Blog?

Ada yang bertanya seperti itu? Ya, saya adalah salah satu orang terdepan yang mempertanyakan soal ini diawal pertama mengenalnya. Namun, setelah membaca keterangan bahwa kalaupun kedepannya mesin mendeteksi adanya duplikat konten, maka bukan blog utama wordpress kita yang akan di-banned namun akun Steemit kita yang akan terdeteksi demikian.

Bahaya kah? Hmm… di dunia ini mana ada sih yang nggak beresiko? Posting foto di di media sosial saja bisa beresiko besar, bukan? Tetapi tidak perlu khawatir. Di sinilah gunanya kolom delay post untuk memberikan sedikit jeda pada wordpress utama kita untuk terindeks lebih dulu di search engine.

Berkembang Pesat bersama Steempress

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa dalam Steemit ada banyak jalan menuju sukses, khususnya mendapatkan reputasi yang tinggi. Plugin yang dikembangkan oleh Martin Lees ini yang kemudian menjadi jalan mendapatkan reward berupa uang kripto berupa Steem, adalah bentuk kemajuan teknologi yang patut disyukuri oleh saya pribadi sebagai blogger. Memang sering terjadi beberapa kali maintenance namun pastinya akan terus membaik ke depan. Semoga tetap demikian.