Kekerasan terhadap anak sudah bukan lagi sesuatu yang langka dilihat kasat mata belakangan ini. Tak hanya kekerasan fisik, tetapi kekerasan verbal dan mental pun kerap terjadi di sekeliling kita. Hanya saja sikap acuh tak acuh yang kita tunjukkan membuat kekerasan terhadap anak seolah perisitiwa yang biasa saja. Bahkan berlalu tanpa adanya solusi yang membuat jera untuk tidak terjadi selanjutnya.

Sumber Kekerasan terhadap Anak

Boleh saya jujur bahwa sejatinya kekerasan terhadap anak terjadi justru di dalam lingkungan keluarga anak itu sendiri. Baik itu dari orang tuanya, saudaranya atau anggota keluarga lainnya. Namun, ketika mengatakan ini, hampir semua orang tua menolak dan mengatakan hal tersebut tidaklah benar.

Ya, memang. Tidak semua keluarga menjadi sumber kekerasan tersebut. Namun, saya boleh bilang kalau sebagian besar memang bersumber dari keluarga sendiri. Tanpa orang tua sadari, mulai dari perkataan, perbuatan hingga suasan rumah itu sendiri sejatinya bisa menjadikan anak merasakan kekerasan. Langsung atau tidak langsung.

Contohnya saja, ketika orang tua mengatakan sesuatu kepada anak dengan suara tinggi dan memberikan keputusan tanpa mendengarkan penjelasan atau keinginan anak terlebih dahulu tentang sesuatu hal.

Memang anak akan menuruti jika kemudian kebiasaannya seperti itu, tetapi tahukah orang tua kalau di dalam otak dan perasaan anak berkecamuk sebuah keinginan untuk segera tumbuh menjadi besar dan segera terbebas dari kondisi tersebut?

Memang kita yang mengandung, melahirkan dan membesarkan, namun sekali lagi mereka adalah anugerah dan manusia titipan Allah yang sejujurnya kita tidak pernah bisa paham dengan detail isi kepala dan pikirannya, bukan?

Pentingnya Membangun Bonding dengan Komunikasi yang Baik

Semua tahu tanggal 23 Juli 2019 adalah Hari Anak Nasional. Semua anak pun memahami bahwa mereka benar-benar makhluk Tuhan yang dihargai keberadaannya. Meskipun di belahan bumi tertentu, ada saja anak yang masih terkekang akan kebebasannya untuk mendapatkan pendidikan, kebahagiaan bahkan sekadar keinginan untuk berkreasi.

Nah, di Hari Anak Nasional ini, sebaiknya kita sebagai orang tua kembali memperbaiki komunikasi dengan anak. Tak hanya anak kita sendiri, tetapi semua anak-anak yang kita jumpai. Sebab, komunikasi yang baik akan selalu meninggalkan kesan yang baik juga pada anak.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk berbicara adalah salah satu cara berkomunikasi yang baik. Sehingga arus informasi tidak melulu dari kita (satu arah).

Hikmah Hari Anak Nasional

Kita sebagai orang tua diharapkan mampu kembali menjadi sosok yang didambakan kelak oleh anak. Kebijaksanaan kita untuk terlibat dalam setiap kegiatan anak sungguh akan mengukuhkan bonding antara keduanya. Tak hanya soal belajar, bermain bahkan sekadar bercanda pun adalah momen berharga,

Hari Anak Nasional dimaksudkan untuk kemudian kita menyadari bahwa tanpa kehadiran anak-anak tentu dunia tak akan indah dengan gelak tawa dan pemikiran abstrak mereka. Tentu kita tidak bisa belajar bagaimana mengendalikan diri tanpa mereka.

Sebab Tuhan menghadirkan mereka bukan sekadar menumpang lahir dan hidup. Tetapi menjadi jalan untuk kita kelak agar dipermudah jalannya ke surga.