Kenali, Cegah dan Atasi Gangguan Pencernaan Pada Balita – Memiliki anak yang sudah memasuki usia mendekati 2 tahun, tentu akan diperhadapkan pada beberapa kompleksitas hal-hal yang berhubungan dengan tumbuh kembangnya. Apalagi jika si kecil sudah mengenal berbagai jenis bahan makanan, mau tidak mau akan berdampak pula pada sistem pencernaannya.

Kenali, Cegah dan Atasi Gangguan Pencernaan pada Balita

Saluran pencernaan yang masih peka akan menimbulkan berbagai macam reaksi saat disentuh oleh bahan makanan yang kebetulan memberikan efek samping, khususnya dalam kondisi perut dan sistem pencernaan si kecil sedang terganggu. Namun, pada saat kondisi normal, sistem pencernaan si kecil mampu menyerap semua nutrisi makanan yang diasupnya.

Selama menjadi ibu, setidaknya ada 5 (lima) hal yang berhubungan dengan kondisi sistem pencernaan yang kerap dialami balita, antara lain gumoh, diare, perut kembung, poop tidak lancar dan sering buang gas.

Gumoh                                                                          

Hampir semua yang memiliki bayi, tentu pernah melihat si bayi mengalami gumoh. Gumoh sendiri adalah muntah ringan atau sering disebut dengan regurgitasi makanan. Kalau di daerah saya disebut dengan challenge (bahasa Bugis). Pada umumnya gumoh ini terjadi pada bayi di usia kurang dari 12 bulan. Penyebabnya adalah karena sistem pencernaan dalam hal ini lambung masih berukuran kecil sehingga udara yang ikut masuk saat minum susu berusaha mencari posisi paling di atas. Dengan keadaan seperti itu, terjadi tekanan dan akhirnya muntah ringan (gumoh).

Perut Kembung

Si Kecil yang berusia 3-4 bulan kadang mengalami perut kembung. Karena memang sistem pencernaan yang masih belum sempurna. Meskipun adalah hal yang wajar, bukan berarti sebagai ibu membiarkan bayi mengalami perut kembung tanpa dicegah atau diatasi. Gejala perut kembung bisa diamati dengan melihat tingkah polah si kecil, misalnya rewel tanpa alasan yang jelas, kaki sering digesek-gesekkan, sering buang angin dan perut agak mengeras saat ditekan.

Oleh karena itu sebaiknya ibu sudah memahami bahwa perut kembung adalah gangguan yang pasti tidak menyenangkan pada bayi. Bukan hanya si kecil yang akan terganggu, orang tua pun akan cemas dan khawatir karena si Kecil belum mampu bicara dengan jelas apa yang dirasakannya. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah segera meletakkan si Kecil di kasur dalam keadaan telentang, kemudian kaki diangkat dan digoyangkan seperti sedang mengayuh sepeda. Dengan perlakukan seperti gas yang berlebih di dalam perut si kecil akan dikeluarkan. Nah, jika sudah terjadi perut kembung, bisa melakukan pijatan pada perut si kecil dengan menggunakan minyak telon atau minyak kayu putih. Pijatan dilakukan searah dengan jarum jam.

Poop Tidak Lancar

Gangguan lain yang dialami si kecil dengan sistem pencernaan yang masih sangat rentan adalah buang air yang tidak lancar. Hal ini bisa disebabkan oleh asupan makanan oleh si ibu, jika si kecil murni mendapat asupan ASI saja. Si Kecil yang non ASI pun bisa menderita gangguan serupa yang disebabkan oleh asupan susu formula yang dikonsumsinya. Maka ibu perlu cermat dalam memilih makanan yang baik, sehat dan tetap memperhatikan sistem pencernaan si kecil.

Sering Buang Gas

Hal ini bisa disebabkan oleh jenis dot yang dipakai dalam mengkonsumsi susu. Dot yang terlalu kecil atau terlalu besar bisa memicu masuknya udara berlebihan. Udara yang berlebihan akan berusaha mencari tempat keluar.

Diare

Di antara 5 (lima) hal yang berhubungan dengan sistem pencernaan pada balita, maka diare pada bayi menjadi salah satu hal yang paling mengkhawatirkan, khususnya saya sendiri. Apalagi jika terjadi di saat kondisi aliran air sedang ada masalah. Aduh, rasanya campur aduk sekali.

Bayi diare bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagai ibu yang menyusui atau memberikan full ASI kepada si bayi, tentu harus memperhatikan juga beberapa faktor, diantaranya:

  • Asupan makanan yang dikonsumsi; apakah ada yang memicu timbulnya diare
  • Kondisi kebersihan payudara saat menyusui; payudara yang tidak dibersihkan saat akan menyusui bayi bisa memicu munculnya diare, apalagi jika sedang berada di luar rumah.

Panik. Hal ini kemungkinan yang akan terjadi pada saya. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu kemudian harus belajar dan siap menghadapi hal demikian. Yap, namanya sistem pencernaan si kecil masih belum sempurna, diare bukan hal baru terjadi pada bayi.

Diare bisa terjadi karena awal-awal tahun kehidupan, enzim yang membantu mencerna protein dan laktosa belum bekerja sempurna. Hal ini menyebabkan protein susu dan laktosa yang dibutuhkan bayi tidak terserap dengan sempurna dan akhirnya masuk ke dalam usus besar, dimana di dalam usus besar ini menjadi rumah untuk berbagai macam bakteri hidup. Bertemunya sisa nutrisi dengan bakteri menyebabkan pembususkan sehingga menimbulkan ketidaknyamanan pencernaan seperti perut kembung, sering buang angin dan paling sering adalah diare yang dibarengi dengan rewel. Dan tentu hal ini akan mengganggu keceriaan si bayi.

Jika diare dibiarkan terjadi tanpa penanganan tertentu atau beranggapan diare pada bayi adalah masalah sepele, maka perlu diperbaiki pola pikir yang seperti ini. Seringnya anak mengalami diare justru akan mengganggu tumbuh kembangnya, karena secara otomatis akan mengalami gangguan tidur, tidak mau makan karena tersugesti akan buang air lagi. Jika sudah mengalami gangguan tidur, perkembangan otak pun akan mengalami gangguan juga.

Untuk itu, perlu penanganan khusus pada bayi diare. Salah satunya adalah pemberian asupan nutrisi yang tepat. Nutrisi yang tepat dan baik tidak akan menjadikan bayi mengalami gangguan, khususnya pada sistem pencernaan. Formula yang mudah dicerna, cocok untuk sistem pencernaan yang masih peka harus diketahui oleh para ibu. Mengetahui kondisi pencernaan si kecil sejak dini bisa di uji dengan menggunakan Wikipoop.

Kini sudah ada Enfagrow A+ Gentle Care, susu pertumbuhan untuk anak usia 1-3 tahun, dengan teknologi PHP yang diproduksi di Belanda sehingga memiliki protein halus yang mudah dicerna untuk perut si kecil yang peka. Diperkaya dengan nutrisi penting seperti Omega 3 dan 6, Kalsium, Zat Besi, Asam Folat, Vitamin B1, B6 dan B12 yang memang sangat dibutuhkan oleh si kecil.

Bagaimana? Masih ragu memberikan asupan nutrisi yang tepat untuk si kecil? Kalau saya sih sudah nggak ragu. Untuk informasi gangguan pencernaan, bisa mencari tahu banyak di Digestion Center.