Disclaimer: Tulisan ini dibuat khusus dalam rangka mengikuti agenda WAG IIP Surabaya Raya, 22 Februari 2018

Ketika Anak Sering Berbicara Sendiri – Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah melihat anak bicara sendiri saat main. Berperilaku seolah-olah dia sedang bermain dengan teman-temannya. Ya, saya sedang mengalami fase tersebut. Usia anak yang masih 3,5 tahun ternyata memiliki kemampuan komunikasi yang sangat cepat. Karena menurut beberapa ahli menyebutkan bahwa masa berkomunikasi sendiri itu biasanya berada di range usia 4 hingga 8 tahun.

Awalnya saya mengalami rasa takut ketika si kecil seringkali melakukan hal ini, berbicara sendiri bahkan sampai tertawa. Kemudian saya mengangkat masalah ini ke beberapa teman yang anaknya sudah berada di atas usia Salfa, kemudian ada yang berpendapat bahwa anak saya memiliki kemampuan berbeda dibandingkan dengan yang lainnya. Intinya anak saya dikatakan mampu melihat dunia lain.

Nah, pendapat itu pun kemudian saya benarkan dalam hati karena beberapa kali saya melihat si kecil mengatakan sesuatu yang aneh.

“Bunda, ada tante yang main di dinding itu.”

Saya mendiskusikan hal tersebut kepada suami dan beberapa pakar yang memahami soal ini, jawaban mereka sedikit melegakan:

“Usia anak ibu memang masih mampu melihat makhluk yang tak kasat mata oleh kita yang dewasa. Lumrah terjadi. Namun, sebisa mungkin tidak dibiarkan begitu saja. Perlu diajak komunikasi.”

Mendengar saran tersebut, kemudian saya mencoba melakukan pendekatan lagi ke si kecil. Mencoba menanyakan kalimat yang diucapkan jika terjadi indikasi ada keanehan. Namun, jawabannya memang selayaknya anak seusianya. Mengatakan apa yang dilihatnya. Tetapi, ketika si kecil berbicara sendiri, bukan berarti kemudian semata-mata karena persoalan bisa melihat sesuatu yang kita belum tentu melihatnya.

Namun, apakah kemudian si kecil tidak boleh dibiarkan berbicara sendiri? Atau ketika mendapati si kecil berbicara sendiri haruskah dihentikan? Oh tentu tidak. Karena beberapa hal yang kemungkinan sedang terjadi pada si kecil saat berbicara sendiri adalah si kecil:

Mengasah Kemampuan Daya Ingatnya

Pernah sekali waktu saya mendengar si kecil bicara tanpa henti. Berdialog dengan boneka bahkan beraktivitas layaknya sedang bermain dengan beberapa orang. Suara ramai dikeluarkan, mulai dari tertawa hingga berpura-pura menangis. Ternyata, si kecil sedang mengasah kemampuan daya ingatnya karena semua yang diucapkan adalah kalimat-kalimat yang pernah saya lontarkan ketika membacakan buku kepadanya. Bahkan percakapan saya dengan suami, teman dan dialog video yang pernah ditontonnya pun dikeluarkan. Nah, dari situ saya berpikir bahwa si kecil sedang melakukan proses pengulangan apa-apa yang sudah terekam di kepalanya.

Dengan melihat hal ini, maka sudah sepantasnya saya belajar agar betul-betul memperhatikan apa yang saya ucapkan. Karena plek kalimat yang saya keluarkan, baik didengar maupun tidak, seketika diucapkan seolah-olah taka da masalah yang timbul di telinga kita saat mendengarnya.

Mengalami Perkembangan Internal dan Eksternal

Berbicara sendiri yang dilakukan oleh si kecil saat bermain, ternyata merupakan proses perkembangan internal dan ekternal pada si kecil itu sendiri. Hal ini pun dibenarkan oleh seorang psikolog bernama Le Vgotsky. Beliau mengatakan bahwa pada fase ini memang si kecil belum memahami perbedaan saat bicara dengan diri sendiri dan orang lain. Sehingga kelak nanti akan ada masa dimana si kecil akan berdialog dengan dirinya sendiri tanpa diucapkan dan didengarkan orang lain.

Merangsang Kemampuan Verbal

Di usia seperti anak saya, memang adalah masa dimana senang berbicara. Siapa saja diajak untuk berkawan bahkan banyak yang bilang “tidak punya rasa malu” untuk bertegur sapa dengan siapa saja. Istilahnya humble. Namun sayangnya, belum semua orang yang ditemuinya itu mampu memberikan timbal balik yang baik ketika diajak berbicara oleh si kecil sehingga terkadang terkesan anak saya memaksa untuk diajak bicara.

Tugas saya di sini adalah memberikan pemahaman kepada si kecil untuk tetap berperilaku sopan meskipun yang diajak bicara tidak memberikan respons yang baik. Apakah mudah? Oh tentu saja challenging karena anak saya tipikal yang tidak akan puas sebelum mendapatkan jawaban yang “masuk akal” sesuai porsinya.    

***

Well… intinya adalah ketika anak berbicara sendiri itu tidak perlu panik atau takut berlebihan seperti saya, karena semua perlu penanganan agar terlihat jelas. Jangan sampai anak terlalu merasa dikekang dengan sikap kehati-hatian kita yang berlebihan tersebut. Selama tidak memberikan efek samping pada tumbuh kembang anak, maka tetaplah menjadi partner yang baik untuk anak berkomunikasi.