Learning How To Learn – Sudah memasuki pecan kelima saya posting tentang proses menjadi ibu profesional. Sudah lima pekan pula berarti saya mempelajari ilmu yang harus direalisasikan dalam kehidupan rumah tangga, baik itu sebagai perempuan, istri maupun ibu. Dan semua proses tersebut tidak lain adalah bagaimana saya belajar untuk memahami konsep terciptanya saya di muka bumi ini.

Jika membaca postingan saya tentang ILMU, maka terlihat bagaimana saya ingin sekali menguasai bahasa Arab. Hal ini bertujuan untuk lebih memudahkan dalam mengajarkan si kecil menghafal alQur’an kelak. Serta ilmu ikhlas yang masuk ke dalam tahap pengembangan diri. Dari sini saya kemudian berpikir bagaimana cara saya mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Karena di dalam universitas kehidupan, ilmu menjadi ibu profesional akan sangat diperlukan untuk diamalkan.

Learning How to Learn

Nah, sampai di titik ini kemudian saya ditanya bagaimana dengan desain pembelajaran yang diterapkan untuk mewujudkan ilmu-ilmu yang sedang dipelajari. Tentunya kita ketahui bahwa banyak sekali desain pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli, namun yang saya sukai sejak mahasiswa sampai sekarang adalah menggunakan ADDIE of learning method.

Apa itu ADDIE of Learning Method?

Bagi saya, sebelum menentukan ilmu yang akan dipelajari, maka harus melalui banyak tahapan sehingga diputuskan untuk didalami lebih lanjut. Desain ADDIE sangat pas untuk saya terapkan terus-menerus. ADDIE of Learning Method adalah desain pembelajaran yang terdiri dari 5 (lima) poin, yaitu:

  • Analysis (Menganalisa)
  • Design (Merancang)
  • Development (Mengembangkan)
  • Implementation (Mengimplementasikan)
  • Evaluation (Mengevaluasi)

Nah, kelima tahapan dari metode pembelajaran di atas jika dikaitkan dengan ilmu yang sedang saya pelajari sebagai ibu rumah tangga adalah yang sangat pas. Untuk penjelasannya, bisa disimak terus tulisan saya ini. So, keep calm and stay tune!

ADDIE dan Profesi Saya sebagai Ibu Rumah Tangga

Kali ini saya ingin memberikan contoh penggunaan ADDIE dengan ilmu yang saya ingin pelajari, yaitu Bahasa Arab dan Pengembangan Diri dalam mewujudkan Keikhlasan terhadap profesi Ibu. Jika memungkinkan, akan saya bahas juga dengan ilmu lainnya.

Tahapan 1: Menganalisa

Masuk ke dalam tahapan awal ini tentu akan ada pertanyaan seperti ini:

  • Tujuan mempelajari ilmu tersebut apa?
  • Sejauh mana kebermanfaatannya di lingkungan keluarga?
  • Seberapa kuat kondisi lingkungan mendukung?
  • Seberapa maksimal usaha yang ingin dikerahkan dalam mempelajarinya?
  • Jika terjadi halangan dan rintangan, seperti apa saya harus mengatasinya?

Dan masih banyak lagi hal yang menjadi pertanyaan sebagai bahan untuk menganalisa tentang penting tidaknya ilmu tersebut dipelajari. Jika semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas mampu dijawab dan diyakinkan, maka masuk ke tahapan kedua.

Tahapan 2: Merancang Pembelajaran sesuai Gaya Belajar

Tentu kita masih ingat bagaimana cara kita belajar saat masih kecil dan ketika masih berstatus sebagai peserta didik di sekolah. Untuk menguasai materi, ada gaya belajar yang senantiasa dilakukan sebagai model gaya belajar. Sebagaimana diketahui bahwa gaya belajar dibagi menjadi Audio, Visual, dan Kinestetik. Tentu masih ingat bukan dengan hal tersebut?

Saya sendiri senang belajar dengan menggabungkan ketiga hal tersebut. Karena ketika bertahan pada satu gaya saja, pasti memiliki kekurangan. Dan setelah ini adalah membuat blueprint sebagai rancangan proses pembelajaran. Sekilas sudah dijabarkan pada tulisan saya soal Indikator Perempuan Profesional. Hanya saja masih belum detail dan belum semua tercakup di dalamnya. Pastinya, saat ini saya harus merancang dimana pembelajaran memperhatikan tujuan SMART (Spesific, Measureble, Achieveable, Realistic, Times) yang hendak dicapai ke depan. Perlu dibuatkan semacam skema dalam bentuk check list ketika setiap harinya dikerjakan.

Tahapan 3: Mengembangkan

Dalam tahap ini dibutuhkan semangat untuk maju dengan ilmu yang dipelajari. Menambah indikator dari waktu ke waktu ketika dirasakan masih ada yang kurang. Selain itu, membuka diri terhadap ilmu tambahan sebagai pelengkap proses belajar. Baik dengan mengamati diskusi tema yang sama, browsing di internet untuk mengetahui sekiranya ada perubahan teknik dan metode dalam mempelajari sebuah ilmu atau cross-sharing dengan orang yang lebih memahami soal hal tersebut. Intinya bagaimana agar tujuan dari SMART tercapai.

Tahapan 4: Mengimplementasi

Sejatinya dalam tahapan sebelumnya pun adalah proses implementasi. Indikator-indikator yang sudah disusun sebelumnya sebisa mungkin diterapkan dalam kehidupan. Pun dengan bahasa Arab. Harus mencari komunitas dimana di dalamnya menerapkan bahasa ini sebagai bahasa sehari-hari. Dengan begitu bisa terlatih sebagaimana saat ini sudah bisa diandalkan untuk bidang bahasa Inggris.

Tahapan 5: Mengevaluasi

Ini adalah tahap yang paling penting. Setelah diberikan rentang waktu, perlu dievaluasi hasil akhirnya. Apakah terwujud sesuai harapan atau tidak. Memang sih semuanya sudah diatur oleh Allah, namun bukan berarti bahwa kita sebagai manusia tidak berusaha.

Seperti hal yang saya tuliskan di dalam tulisan indikator bahwa saya harus menahan amarah ketika merawat anak, maka saya mengevaluasinya setiap hari. Tepatnya sebelum tidur. Apakah dalam seharian saya menjadikan amarah mayoritas atau minoritas ketika menghadapi si kecil yang aktif.

***

Jadi, saya belajar menjadi ibu yang profesional itu mengharuskan kerjasama dari semua kecerdasan dalam diri yang ada. Sebagaimana Allah menciptakan saya pasti dengan kelebihan yang menjadi senjata saya dalam berusaha. Tidak akan pernah berhenti belajar dan belajar. Karena jujur saja, semakin banyak mempelajari sesuatu, maka justru saya semakin haus dan ingin terus belajar sampai akhir hayat. Demi siapa? Tentunya adalah untuk mencapai keberkahanNya, kebahagiaan suami, anak dan keluarga.