Majalah BOBO yang Tak Pernah Kehabisan Ilmu – Setelah lagu anak-anak, kini kita beralih kepada majalan masa anak-anak yang tak hanya meninggalkan kenangan tetapi juga pengetahuan. Saya masih ingat ketika pertama kali berkenalan dengan majalah BOBO. Awalnya saya melihat tante setiap minggu mendapat paket kiriman majalah. Sekali dua kali saya cuek karena berpikir kalau itu bukan majalah yang bagus buat saya saat itu. Tetapi pikiran saya berubah ketika membantu tante untuk mempraktikan sebuah eksperimen yang ada ada salah satu halaman majalah BOBO.

Majalah BOBO yang Tak Pernah Kehabisan Ilmu

Waktu itu sedang membuat lampion dari sedotan plastik. Mungkin teman-teman sudah bisa membayangkannya, bukan? Sejak saat itu saya selalu menanti majalah baru datang. Karena setiap edisi akan menampilkan eksperimen baru. Ada eksperimen bagaimana membuat bunga dari kertas, tempat pensil dari stik es krim dan masih banyak lagi. Bahkan setiap akan menjelang ujian akhir semester, ada edisi khusus yang memberikan contoh-contoh soal (plus kunci jawaban) untuk bahan latihan di rumah. Akhirnya, saya pun bersahabat dengan BOBO hingga duduk di bangku kuliah. Karena tante sudah berhenti berlangganan.

Mengapa tidak langganan atas nama sendiri? Karena saya sejak duduk di bangku kuliah lebih fokus kepada eksperimen di laboratorium. Hingga kemudian waktu membawa saya sampai kepada kondisi memiliki satu anak perempuan, Salfa. Dan majalah BOBO pun menjadi sahabat saya kembali sampai sekarang.

Bagaimana caranya sehingga bisa menjadi sahabat majalah BOBO (lagi)? Hal tersebut terjadi karena diawali rasa penasaran saya untuk menembus media. Yap, saya mencoba mengikuti peatihan menulis cerita anak online yang medianya tidak lain adalah majalah BOBO. Semangat saya tidak pernah hilang meskipun seringkali yang didapatkan adalah karya tidak terbit tanpa kabar dari redaksi. Hingga ada sebuah edisi di majalah BOBO yang saya yakin mengambil inspirasi dari cerita saya, khususnya bertema Kartu Pos. (mungkin) saya terlalu Ge-eR, tetapi sepertinya memang benar. Alurnya mirip meskipun sangat dipersingkat oleh redaksi. Tetapi sudahlah, saya pun tidak ada hak untuk mempertanyakan. Pastinya, naskah saya masih ada di meja redaksi dan berharap suatu saat muncul, entah pada edisi majalah BOBO yang mana. Syukur-syukur jika tidak dibuang.

Nah, karena semangat menulis cerita anak ini, saya berlangganan majalah BOBO lagi atas nama Salfa Althafunnisa Santoso. Sesuai dengan tagline-nya: BOBO Teman Belajar dan Bermain, maka Salfa pun menjadikan BOBO sebagai salah satu media untuk berkembang. Sampai sekarang Salfa mengenal beragam hewan, tumbuhan, benda dan gambar-gambar menarik lainnya sebagian karena majalah BOBO. Bahkan Salfa senang jika dibacakan cerita yang ada di dalamnya. Kadang saya harus mengubah kata-kata dengan yang mudah dicerna oleh Salfa. Jadi, say abaca dulu keseluruhan dan memahami isi cerita lalu saya ceritakan kembali Salfa sambil memperlihatkan majalahnya juga tentunya. Bisa dibayangkan? Hehe…

Selama berlangganan lagi dengan majalah BOBO, ilmu yang disampaikan pun sepertinya makin beragam dan makin banyak ilmu baru. Perkembangan dunia pengetahuan saat ini tidak menghalangi tim redaksi majalah BOBO untuk menghasilkan bahan bacaan untuk anak-anak. Harga yang sekarang sudah berada di angka Rp. 11.000,- (Pulau Jawa) tidak akan menjadi hal yang memberatkan bila dibandingkan dengan ilmu dan hiburan yang diberikan pada anak-anak.

Majalah BOBO memang tidak seberapa menarik dengan cerita komik Candy-Candy atau Doraemon pada zaman saya masih kecil dulu. Tetapi, bagi saya pribadi kehadirannya cukup menjadi oase dalam situasi sekarang ini. Dunia anak-anak seolah direnggut dengan kecanggihan gadget tidak akan menjadi kekhawatiran karena majalah BOBO pun saat ini sudah bisa diakses ke beberapa akun media sosialnya. Tergantung bagaimana orang tua kembali mengontrol anak-anak.

Hmm… yuk baca majalah BOBO lagi! Salfa sudah menunggu untuk dibacakan cerita seru lainnya. Kalau teman-teman punya pengalaman masa kecil dengan majalah BOBO, sharing di kolom komentar ya.