Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 11): “Bunda Pelit” – Diajak banyak istighfar hari ini. Penyebabnya karena sedang mengunjungi rumah salah satu teman yang sama-sama senang dunia parenting. Sempat sedikit nyasar, saya pun kemudian menemukan alamatnya dan mulai mengajak Salfa masuk.

Sejak di gerbang rumah teman tersebut, saya sudah mbathin bahwa nanti akan kena sindrom sawang sinawang alias rumput tetangga selalu lebih hijau. Dan ternyata benar, saya harus menelan banyak pil istighfar agar tidak terjun dalam kufur nikmat. Karena jika Allah sudah memasukkan dalam kategori tersebut, maka hanya malapetaka yang akan dirasakan selanjutnya.

Semakin banyak istighfar juga ikut bereaksi seperti ini: “Bunda, Salfa nggak mau pulang. Mau di sini saja. Banyak mainan.” Betapa kalimat tersebut sebenarnya sudah mengganggu, namun saya tetap harus bersikap baik-baik saja karena menyangkut mental yang akan mengajarkan bagaimana membuat blog kepada tuan rumah dan beberapa teman yang hadir.

Saya kemudian berhasil menenangkan diri dan berujar bahwa all of that I see on my eyes, they have long story to be like that. Lalu berusaha fokus menggiring mba-mba cantik dan sholehah untuk paham soal blog dan konten. Namun, ekspektasi saya meleset. Si kecil malah menampakkan emosi yang sangat meluap ketika ada mainan kesukaan di rumah itu yang tidak boleh di bawa pulang. Dijelaskan dengan baik tetapi tetap saja histeris sambil menangis. Usianya juga memang masih proses mengendalikan emosi. Lalu emosi ini masih berlangsung di jalan, di atas mobil.

“Salfa kok nggak boleh bawa mainan sih?”

“Karena itu bukan punya Salfa.”

“Bunda beliin dokter dokter… ” (Mulai merengek lagi)

“Di rumah sudah ada.”

“Sudah rusak.”

“Siapa yang membuatnya rusak?”

“Salfa.”

“Lha iya, artinya Bunda tidak mau beliin lagi karena mainan dibuat rusak saja. Nggak dijaga dengan rapi.”

“Bundaaa…”

Saya masih berusaha diam karena kalau saya bicara, pasti di dalam mobil akan lebih rame. 

“Bunda ini kok pelit sih?”

“Bunda tidak pelit kalau Salfa juga bisa mengerti Bunda.”

“Salfa kan mau beli dokter dokteran. Buat periksa adek.”

“Bunda sudah bilang, mainannya dijaga tetapi Salfa tidak jaga. Akhirnya rusak. Malas Bunda beliin lagi.”

Tetiba terdiam karena melihat mobil polisi yang lewat. Salfa memang takut sama polisi. Dan ini PR saya selanjutnya setelah memahami mana kebutuhan mana keinginan. Dan itu bukan perkara mudah.