Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 12) : Kebutuhan vs Keinginan – Sudah memasuki hari ke-12. Bagaimana hasil 11 hari sebelumnya? Adakah kemajuan? Ya, namanya melatih anak usia balita, 3.5 tahun, tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Hari ini dipahami, besok harus diulangi. Begitu seterusnya. Dan masalah finansial yang crusial saat ini adalah bagaimana anak saya memahami arti kebutuhan dan keinginan.

Masih belum menemukan sebuah kondisi yang statis bahwa si kecil memahami untuk tidak merengek minta ini dan itu saat di minimarket. Masih membutuhkan sabar yang ekstra menghadapi negosiasi anak kecil yang sangat-sangat pandai ini. Bahkan seringkali ada kalimat yang keluar dari bibirnya sementara hal tersebut adalah bahasa tingkat tinggi.

Saya pun harus berusaha dari diri sendiri untuk menentukan mana kebutuhan dan keinginan kemudian membuatnya ada untuk dipatuhi. Sebab yang namanya emak, tergiur produk buku yang diskon, seminar atau workshop parenting, atau potongan harga di supplier, membuat saya kemudian harus merasakan roller coaster perekonomian. Ditambah lagi saya sampai detik ini masih mengharapkan rumah kontrakan yang lebih besar dari sekarang. Alasannya, kami butuh dapur dan kamar karena si kecil sudah besar.

Banyak jalan mencoba memberikan pemahaman kepada Salfa. Baik dari video anak, cerita ayahnya sampai kepada saya yang benar-benar harus bicara tegas, tidak yaa tidak. Dan itu membuat saya harus konsisten juga di hadapan si kecil. Sekali saya lemah, si kecil memanfaatkan itu sebagai senjata. Beruntung karena semuanya masih bisa berjalan dengan baik sampai saat ini.

Keinginan memang seringkali berwujud dengan kebutuhan. Bahkan saya sendiri sangat percaya bahwa jika tidak menanamkan niat lebih dalam akan pengelolaan butuh dan ingin ini, ikut pelatihan apapun tidak akan berhasil. Semoga saja si kecil paham suatu saat nanti mengapa cerdas finansial ini sangat dibutuhkan olehnya.