Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 14): Pengamen yang Menolak Uang Koin – Salfa yang semula paham bagaimana pekerjaan seorang pengamen, nyanyi lalu diberikan koin sebagai upah, kini harus bertanya lagi. Pasalnya, Salfa melihat ada pengamen yang datang ke rumah hari ini namun menolak uang koin. Kalau dengar ceritanya, pasti semua akan jengkel, hihi…

Sebenarnya kejadian ini bukan yang pertama kali. Jauh sebelum ada Salfa, beberapa pengamen sudah melakukan aksi ini di depan rumah kami. Alasannya, uang koin tidak dapat digunakan untuk makan hari itu. So unpredictable, right? Dan kali ini saya harus menjelaskan kepada Salfa perilaku pengamen yang kurang baik itu.

“Bunda, kok uangnya balik lagi?”

“Soalnya si Om nggak mau ambil, Fa.”

“Kok nggak diambil?”

“Om-nya nggak mau uang koin.”

“Kok nggak mau koin?”

“Om-nya nggak mau, maunya uang kertas.”

“Ooo…”

***

“Bunda, Salfa nggak mau uang koin juga.”

“Lho kok gitu, Fa?”

“Sama kayak Om ngamen itu.”

“Oalah, Fa. Uang koin dan uang kertas itu sama-sama uang, Nak. Nilainya saja yang beda. Ayo sini Bunda tunjukkan!”

Saya pun bergegas mengambil uang koin 1000 dan uang kertas 1000.

“Coba lihat, ini sama-sama uang 1.000 rupiah, Fa. Ini bentuk uang koin dan ini uang kertas. Tuh lihat angkanya sama, kan?”

“Ada angka 1 sama 0-nya banyak ya, Nda?”

“Iya. Coba dihitung 0-nya ada berapa?”

“Ada tiga.”

“Oke, kamu benar.”

“Tetapi, ada uang koin yang nilainya tidak bisa ditemui dalam uang kertas, contohnya uang 100, 200 dan 500 rupiah. Ini dia koinnya!”

Salfa terlihat memegang dan melihat perbedaan bentuk, gambar dan ukuran uang koin dengan berbagai nominal. Lalu tiba-tiba Salfa nyeletuk:

“Om itu ga syukur sama Allah ya, Nda?”

“Eh, kok Salfa tahu bersyukur?”

“Iya, Nda. Kalau orang nggak bersyukur nanti nggak disayang Allah.”

***

Mendengar jawaban di atas, haBunda mana yang tidak speechless dan memeluk anaknya?