Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 15): “Beli Nasi sama Telur Saja, Nda.” – Setiap hari selalu ada kejutan. Mungkin itu yang saya rasakan selama membersamai si kecil, Salfa. Ada banyak hal yang ibarat roller coaster dan pastinya emosi jiwa benar-benar harus diredam hingga jatuh tersungkur paling bawah. Mudah? Oh tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua ada masa dimana sangat bersemangat, ada juga yang membuat saya harus meminta bantuan suami untuk mengontrol saya agak tidak lepas kendali. Apalagi mengasuh anak aktif yang maasyaa Allah sungguh membuat saya merasakan “nano-nano” kehidupan.

Dan hari ini menjadi salah satu cerita yang membuat saya begitu greget dengan permintaan anak kecil usia 3,5 tahun ini. Tadinya biasa saja, namun karena ada keinginannya yang tidak tercapai, saya pun menjadi partner yang pas untuknya diajak berdebat hingga sampai pada persoalan makan siang.

“Fa, mau makan siang apa hari ini?”

Nggak mau makan, Nda. Salfa puasa.”

“Lho, kalau puasa kok minum susu sama makan roti?”

“Iya, Nda. Tapi Salfa sekarang puasa.”

“Ya udah, bunda sama ayah makan berdua saja ya.”

***

Didiamka dan kemudian terjadi lagi interaksi sebelum tidur siang.

“Nda, Salfa mau nasi sama ayam kriuk-kriuk.”

“Hari ini menunya ganti ya, Fa. Kemarin kan sudah makan itu.”

“Bundaaa… Salfa mau nasi sama ayam kriuk-kriuk.” Suaranya mulai meninggi dan saya paling tidak suka dengan sikapnya yang seperti itu.

Lalu saya minta tolong suami untuk membantu menyampaikan perihal Salfa yang ingin menu sesuai seleranya. Maka saya berbincang dengan ayahnya di ruangan depan.

“Ayah, hari ini Salfa makan nasi sama telur saja ya. Uangnya belum cukup untuk nasi sama ayam kriuk-kriuk. Soalnya nanti malam juga Bunda diundang pihak hotel untuk dinner. Salfa bisa makan ayam sama nasi kriuk-kriuk di sana. Maksud saya, uangnya ditabung dulu buat besok.”

Si ayah kemudian ingin mencoba ngomong sama Salfa. Namun, belum sempat berdiri, Salfa kemudian mendatangi kami dan bilang:

“Bunda, bei nasi sama telur saja. Nanti malam kan ke hotel.”

Deg. Ini anak bisa saja menguping pembicaraan kami (yaa gimana nggak mau si anak ngupi sementara rumah tak bersekat dan kedap suara). Kemudian si ayah bertanya:

“Kenapa kok nggak mau makan nasi sama ayam kriuk-kriuk? Katanya tadi minta…”

“Bunda uangnya tidak cukup. Besok saja, ayah.”

***

Hari ini Salfa pengertian sekali. Semoga kelak seperti itu terus. Saya yang tadinya biasa saja pun akhirnya memeluknya dan berterima kasih karena dia mau mengerti tentang kebutuhannya bukan keinginan semata.

Apakah Salfa memahami? Saya berharap ini bukan kebetulan. Toh selama 14 hari kemarin dan sebelumnya sudah ditemani kondisi dimana seringnya ngempet keinginan karena kebutuhan yang jadi prioritas.