Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 2): Koin untuk Pengamen – Karena demam Salfa masih agak terasa, maka hari ini diputuskan tidak jadi keluar rumah. Tadinya sudah planning kalau setelah lunch akan keluar ke salah satu mall ternama di Surabaya. Tujuannya adalah untuk redeem kupon belanja saya yang sudah hampir expired. Namun, benar Tuhan yang menentukan. Salfa badannya masih anget dan si ayah dengan tegas mengatakan untuk tetap di dalam rumah saja.

Kami pun menuruti dan akhirnya agenda diubah seketika. Salfa yang masih dalam keadaan sedikit demam sudah tampak sangat aktif dan mengajak saya untuk bermain piknik. Ya, dengan imajinasi anak seusia Salfa, napkin di gelar di atas lantai, mainan masak-masakannya ditata dengan rapi di atas napkin dan siap untuk bermain. Ceritanya, Salfa piknik tetapi sambil berjualan burger. 

Di tengah permainan, tiba-tiba dari luar terdengar ada suara pengamen. Seketika Salfa langsung berdiri dan berlari ke depan menemui ayahnya sambil meminta koin.

“Ayah, minta koin, boleh?”

“Buat apa?”

“Itu ada pengamen. Salfa mau kasih koin.”

Ayahnya memberi dan kemudian setelah pengamen pergi, bertanya pada Salfa:

“Kenapa kok dikasih koin?”

“Kasihan Ayah. Sudah nyanyi, jalan kaki, capek.”

Baca: Masukin Koin ke Kotak Amal

Ayahnya kaget anaknya bisa menjawab seperti itu. Sangat tidak menyangka secerdas itu kalimat yang mencuat dari bibir anak balita usia 3,5 tahun. Maka kemudian ayahnya bertanya lagi:

“Dikasihnya cuma koin ya, Fa?”

“Iya.”

“Kenapa bukan uang kertas seperti ini?” Sambil menunjukkan uang dua ribuan.

“Uang koin saja, Ayah. Kan di gelasnya juga uang koin.”

Ternyata selama ini Salfa memperhatikan pengamen yang sering mampir di rumah itu membawa gelas dimana isinya selalu ada koin. Salfa berpikir bahwa hanya koin yang cocok untuk pengamen. Lalu tugas saya meluruskan pastinya.

“Salfa, kalau kasih ke pengamen nggak harus selalu koin. Kalau ada uang kertas yaa nggak apa-apa.”

“Ooo begitu. Baeklah.”

“Besok-besok kalau nggak ada koin, uang kertas juga boleh diberikan kepada pengamen.”

***

Well… setidaknya Salfa sudah diajak untuk memahami bahwa koin tidak selamanya untuk pengamen. Tergantung keikhlasan yang memberi. Ah, semoga saja kelas besok tangannya selalu mudah memberi dibandingkan meminta. Terlepas dari banyaknya selentingan yang mengatakan bahwa pengemis tak perlu diberi banyak uang karena sejatinya mereka bisa bekerja lebih giat dibandingkan menyanyi dengan menggunakan alat musik. Tetapi prinsip kami, beda orang akan beda cara pandang. Termasuk memilih koin atau uang kertas untuk pengamen.