Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 4): “Nggak Usah Beli, Sudah Punya.” – Hari ini saya dan ayahnya si Salfa memutuskan untuk sejenak melipir ke kampung halaman. Pagi yang hectic karena persiapan ke rumah mertua yang harusnya disiapkan sejak semalam tetapi qaddarullah, saya ketiduran. Suami yang melihat saya lelah setelah pulang dari belajar bisnis, tidak tega juga membangunkan saya. Alhasil, si ayah juga ikut tertidur di samping saya setelah shalat Subuh.

Beruntung karena keperluan tidak harus selengkap saat pulang ke Makassar. Karena paling kami di Kertosono paling lama 3 hari. Tergantung seberapa selesainya kangen si ayah pada ibunya. Dan berita akan rencana kami ke Kertosono disambut antusias oleh si kecil Salfa yang memang sudah rindu juga dengan saudara sepupunya.

Maka tibalah kami di terminal seperti biasa. Naik bus PATAS CEPAT AC dengan brand yang menjadi pilihan sejak dahulu, membuat Salfa pun sudah semakin hafal. Bahkan tidak rewel dan gelisah karena memang sudah kami latih saat masih dalam kandungan. Ya, Salfa jika diajak traveling memang sangat senang sekali. Banyak cerita yang bisa dituliskan. Contohnya dalam bus tadi siang saat ada penjual buku mewarnai menawarkan dagangannya di tempat kami duduk.

“Bu, bukunya Bu. Murah 10.000 dapat 3 buku.”

Salfa sudah mendengar itu dan diam tetapi matanya melihat semua sampul buku yang ada di depan matanya. Ayahnya sudah paham bahwa nanti si Salfa akan minta. Namun, entah kalimat apa yang akan keluar dari bibir mungilnya.

“Bunda, boleh?”

“Salfa kan sudah punya. Kok mau beli lagi?”

“Bunda, di rumah kan Salfa belum punya yang gambar Tayo. Boleh?” Dengan tangannya dikepal lalu kepalanya dimiringkan plus wajahnya memelas sungguh siapapun akan iba. Dan kami orang tuanya paham kalau Salfa memang suka sekali acting. 

No, sudah ada di rumah. Gambarnya saja yang beda.”

“Bunda, tolonglah.” Kata ini yang membuat saya dan si ayah seketika tertawa. Kok bisa anak balita mengatakan seperti ini.

“Salfa, di rumah sudah punya. Tayo itu untuk anak laki-laki.”

“Bunda ini kok… ” Wajahnya sudah nampak sedih dan akan nangis. Tetapi saya tetap tak bergeming. Dan penjual buku mewarnai itu pun menjauh.

Saya tahu betul bagaimana kecewanya Salfa. Namun tetap saja dia harus mengerti bahwa di rumah sudah ada barang yang sama. Dan tidak mungkin harus membeli lagi dan lagi. Kecuali memang jika itu hadiah dari kami…