Melatih Anak Cerdas Finansial (Day 7): “Salfa Pengen, Bukan Perlu!” – Tadi pagi, Salfa nangis karena ingin makan roti. Memang setiap pagi anak balita aktif satu ini selalu mencari roti buat sarapan dia (katanya). Kenyataannya, di rumah stok roti habis dan semalam saya belum bisa ke minimarket untuk membeli roti kesukaannya. Maka jadilah sedikit dialog drama di pagi hari, saat kepala saya diserang pusing hebat.

“Bundaaa… Salfa mau roti. Laper nih.”

Suaranya yang menggelegar membuat saya dan ayahnya kaget dan tentu saja kesal. Karena bingung mengapa anak ini tiba-tiba teriak begitu.

“Fa, kok teriak? Kan bisa ngomongnya pelan-pelan.” Saya masih berusaha tenang dan memang harus tenang supaya tidak terjadi kebakaran suara dan kata di pagi hari.

“Maaf, Bunda. Lupa.”

“Oke. Dimaafkan.”

“Bunda, rotinya mana? Salfa laper.” Sambil mengelus-elus perutnya dengan wajah yang Masyaa Allah memelas banget.

“Tunggu ya, kita beli di minimarket dulu. Bunda lupa semalam.”

“Oke.”

***

Setiba di minimarket, Salfa kemudian meminta saya untuk membelikannya playdough. Ya, saya paham betul kalau playdough di rumah sudah kering dan sulit untuk digunakan kembali. Namun, saya belum ingin membeli karena beberapa hari lalu sudah membelikan spidol 24 warna untuknya. Drama kedua pun terjadi:

“Bunda, mau ini, boleh?”

No, tadi katanya cuma mau roti kan?”

“Tetapi Salfa mau ini juga.”

“Tidak, Fa. Yang Salfa butuhkan saat ini itu adalah roti, bukan playdough.

“Bundaaa… tolonglah.” Kalimat maut kembali dilancarkan Salfa.

“Tidak. Bunda bilangnya tidak, Fa. Salfa butuhnya roti, bukan playdough.

“Bunda ini kok.” Bibirnya mulai manyun.

Tetapi tetap saya memegang kata-kata saya bahwa ke minimarket yang dibeli hanya kebutuhannya, yaitu roti. Selain itu no way. Maka jadilah Salfa semacam mengadukan kejadian tersebut ke ayahnya di rumah. Dan si ayah pun punya prinsip sama dengan saya, beli yang dibutuhkan bukan yang diinginkan. Karena kalau keinginan mah semua yang ada di minimarket bisa dibeli, haha.

Hari ini Salfa belajar satu hal antara keinginan dan kebutuhan. Besok akan belajar hal yang sama lagi sampai kemudian benar-benar berhasil tertanam dalam dirinya, bahwa kebutuhan jauh lebih di atas kedudukannya dibandingkan keinginan.