Hari ini saya kehabisan stok roti lagi. Kok nggak nyetok sekalian sih, Mba? Ada yang bertanya seperti itu? Jawaban saya sederhana, karena stok roti di tempat saya selalu beli itu tidak menentu. Ada yang sekali datang saya bisa belanja untuk keperluan 3 hari, ada juga yang hanya cukup dimakan sekali. Jangan tanya saya brand produk rotinya, ya. Khawatir disangkan sponsored post, haha. 

Maka pergilah saya dan ditemani si kecil Salfa. Salahnya saya, lupa meminta si ayah untuk berpesan kepada si Salfa agar ketika belanja di toko, hanya membeli yang perlu saja. Biasanya kalau ada sounding terlebih dahulu sebelum ke toko, ingatan Salfa akan semakin kuat bahwa ke toko hanya membeli yang dibutuhkan, yaitu roti.

Maka sesampai di toko, mata Salfa sudah mulai terlihat goyah. Sesekali mengubah pandangan ke saya setelah melihat apa yang menarik di toko. Hingga kemudian saat di kasir, ada anak laki-laki yang belanja dengan ayahnya. Si anak merengek minta dibelikan cokelat sementara si ayah masih bingung karena sedang mencari uang yang dibawa. Mereka tampak membeli keperluan si anak karena di meja kasir semuanya produk untuk anak-anak.

Akhirnya si ayah membelikan setelah si anak nangis sampai menarik bajunya ayahnya. Adegan itu dilihat Salfa seluruhnya dan akhirnya ditiru. Salfa juga merengek persis seperti model anak laki-laki itu. Karena saya sudah terlanjur berusaha melatih anak cerdas finansial, maka saya dengan tegas mengatakan: “Nggak, Fa.” 

Lalu masih seolah menangis (saya sudah mencoba tidak luluh akan air mata acting-nya lagi) sembari tangannya mulai menarik cokelat yang diinginkan. Saya hanya menatapnya dan mengatakan: “Nggak. Butuhnya tadi cuma roti, kan?” Melihat saya yang semakin tegas padanya di di depan kasir, akhirnya si Salfa nyeletuk, “Bunda ini kok!” dan melipir ke pintu toko. Apakah sikap tersebut kemudian dia sudah memahami? Setidaknya dia sudah paham bahwa konsisten membeli roti sebagaimana yang dibutuhkan harus dijalankan. Suka atau tidak suka, harus dijalani.

Keras? I think I have done my best for her. Persoalan dia kecewa berat dan mengatakan saya pelit, pelan-pelan si Salfa akan memahami. Kelak dia akan paham mengapa saya seperti ini. Rezeki itu memang sudah pasti namun mengelolanya tidak hanya membutuhkan sekadar ijazah sarjana.