Mendidik dengan Kekuatan Fitrah – Menjalani peran sebagai Bunda dari satu anak memberikan banyak pelajaran pada saya sampai saat ini dan pastinya hingga ke masa depannya. Dan bahagianya bisa berkumpul pada satu komunitas yang memang concern dalam hal pendidikan keluarga, khususnya anak-anak yang merupakan titipan Allah.

Anak adalah amanah yang sejatinya hanya dititipkan berada di dalam rahim, kemudian lahir ke bumiNya bersama dengan janji yang sudah disepakatinya bersama IlahNya. Begitupun juga kita, sebelum menginjakkan kaki di bumi Allah ini, pasti sudah melewati perjanjian tersebut yang tidak lain adalah hidup hanya untuk beribadah kepadaNya.

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Nah, bicara soal pendidikan anak, saya sendiri baru mengetahui jika ternyata mendidik anak sebaiknya sesuai dengan fitrahnya. Apa saja itu? I will explain it more, then… Karena saat ini saya harus flashback ke beberapa pecan sebelumnya mengenai bidang ilmu yang ingin saya kuasai saat ini. Artikel saya tentang Hidup ber-Ilmu, menitikberatkan pada dua ilmu yaitu, ilmu bahasa Arab dan ikhlas. Ya, saat menulis artikel itu menurut saya adalah ilmu yang paling ingin dikuasai sebagai bekal mendidik anak di rumah.

Namun semakin hari saya semakin memahami bahwa kedua ilmu tersebut bagian dari ilmu pengembangan diri. Alasannya lebih kompleks, karena saya sedang berada di Universitas Kehidupan yang sebentar lagi akan mencapai akhir dari perjalanan. Dan waktu akhir tersebut yang sampai saat ini masih menjadi rahasiaNya.

Aktivitas Sehari-hari sebagai Schedule yang Wajib Diikuti

Dengan menekuni ilmu pengembangan diri tersebut secara otomatis menjadikan kehidupan saya semakin tertata. Segala macam aktivitas yang saat ini sudah saya jadwalkan bersama suami dan anak, harus terus berjalan sebagaimana komitmen yang sudah dibuat. Jika ada halangan dan rintangannya, itu semua harus dihadapi dan suami siap memberikan solusi sebelum akhirnya pasrah dan tawakkal pada kehendakNya. Pastinya, saya harus memantaskan diri untuk menjadi pembentuk sebuah peradaban di masa yang akan dating dengan mendidik anak saya sebaik mungkin.

Tujuan Saya Dihadirkan di Tengah Keluarga dan Masyarakat

Hal ini membuat saya semakin memahami makna sejatinya penciptaanNya berupa wujud seperti ini (berdiri di depan cermin). Saya disekolahkan tinggi, tentu sangat bermanfaat sebagai pencegah ragam informasi buruk sampai di telinga anak. Mengapa anak saja? Karena usia balita masih sangat rentan untuk otaknya merekam dan kemudian mengaplikasikan apa yang dilihat dan didengarnya.

Saya dihadirkan Allah sebagai istri dari seorang designer plus internet marketer. Karena suami membutuhkan murid yang bisa diajari kelak soal bidang tersebut. Bahkan sampai sekarang saya berprofesi sebagai mommy blogger karena kemampuan menulis dibantu dengan ilmu dari suami soal blogging. Karena blogging tak melulu soal menulis, namun ada sesuatu yang perlu dikuasai tentang blog itu sendiri. Saya yang bisa berbahasa Inggris, menjadikan suami bisa terbantu dalam menerjemahkan maksud dari istilah-istilah dalam pemograman.

Bagaimana dengan Salfa, anak saya? Well, kehadiran saya sepertinya memacu kecerdasannya dalam hal visual, audio dan juga linguistik. Usianya yang masih 2,5 tahun namun sudah lancar mengucapkan kata-kata adalah perkembangan yang sangat  maksimal menurut saya. Sebab, saya sadar bahwa memberinya stimulasi yang sesuai dan bermanfaat, tentu hadir dari pemikiran orang-orang yang berwawasan. Karena tidak akan puas dengan ilmu dimiliki sendiri tetapi akan mendapatkan keberkahan ketika berbagi.

Milestone Hidup Saya

Saya sangat berharap di usia 40 tahun, saya sudah mampu menguasai segala jenis tahap pengembangan diri, khususnya menjadi peran sebagai ibu. Selain itu, saya sudah bebas financial sebagai blogger sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan effort menulis yang terkadang membuat letih bertambah-tambah.

Untuk segala jenis schedule harian, bulanan dan tahunan yang sudah saya targetkan sebelumnya sebagai indikator dalam membentuk peradaban dari dalam rumah, lambat laun akan saya perbaiki dengan tampilan bagan menarik agar lebih terpacu dalam merealisasikannya.

Talk Less, Do More

Lakukan, lakukan dan lakukan. Hanya kata-kata ini yang bisa dijadikan acuan agar semua yang tertulis di atas dan artikel sebelumnya bisa terwujud. So, mari kita kembali ke fitrah masing-masing. Karena menjadi ibu professional membutuhan itu.