Excited…

Hal ini yang kemudian muncul saat tahu level game Bunda Sayang Batch #5 sudah berada di angka V. Waktu sudah berjalan sebegitu cepatnya. Namun, ada kekeliruan yang saya jalani dan akhirnya berdampak pada semangat kelas.

Tadinya kupikir karena sama-sama berada dalam chapter Surabaya, maka kelas akan seheboh saat Matrikulasi. Nyatanya jauh dari ekspektasi tersebut. Bahkan sebagian yang ikut tidak semua fresh graduate. Ada gabungan dari mahasiswi yang tadinya cuti karena uzur masing-masing. Dan sedikit banyaknya, ritme kelas menjadi ikut berpengaruh.

Karakter Kelas yang Semakin Sepi

Saya masih ingat bagaimana kondisi kelas saya ketika masih ikut Bunda Sayang juga. Semakin tinggi level game, maka semakin berguguran orang-orang yang mengikutinya. Bahkan yang ikut wisuda tidak ada dari setengah jumlah peserta mahasiswi Bunda Sayang di kelas saya dulu. Saya jadi berpikir, apakah ada metode yang salah atau semakin majunya teknologi, justru keinginan belajar parenting menjadi terkikis hanya dengan sebatas mengamati media sosial dengan tulisan-tulisan nasehat menjadi orang tua bahkan diri sendiri?

Begitu juga dengan Kelas Surabaya Chapter 2 ini. Saya merasakan semangat semakin memudar. Ditambah lagi saya yang lebih banyak diam bahkan terlambat memberikan respon karena kondisi internal dalam rumah dan dalam diri saya sendiri.

Ingin menkambinghitamkan kehamilan? Rasanya tidak etis. Sebab, bayi dalam kandungan saya sejatinya justru menyukai banyak kegiatan. Tetapi diserang rasa “malas” dan inginnya rebahan saja sambil membaca dalam diam setiap chat yang masuk.

Belum lagi dengan aktivitas anak yang baru masuk RA, sungguh sudah menyita waktu. Karena si kecil juga butuh adaptasi bahkan untuk dua lingkungan sekaligus, yaitu:

  • Lingkungan Sekolah
  • Lingkungan Pribadinya yang akan kedatangan adik baru

Jujur saja, semuanya menguras energi sehingga makin melengkapi ketidakhadiran saya dalam WAG Bunda Sayang untuk sekadar memberikan motivasi. Memberikan motivasi sementara diri sendiri juga sangat membutuhkannya, sungguh berada di ujung antara ingin berhenti atau tetap terus bertahan.

Karena menjadi fasilitator bagi saya itu sebagai bentuk muroja’ah materi dan menjadi reminder agar saya tidak lupa tugas seorang ibu, istri dan perempuan di rumah tangga.

Ancaman Pengunduran Diri

“Kalau kinerja saya masih 80%, saya mengundurkan diri jadi sekretaris.”

Kalimat itu yang kemudian menampar saya. Memang tugas Perangkat Kelas selalu terhubung juga dengan kinerja Fasilnya. Ketika Fasil terlambat, otomatis juga tugas Perangkat Kelas ikut menggantung. Alhasil, kinerja mereka dinilai tidak maksimal, padahal bukan salah mereka.

Sejak mendapat kalimat itu, saya gusar. Ingin rasanya menangis karena melihat kondisi diri yang tidak berhentinya melemah karena usia kandungan semakin menua. Tetapi, saya kemudian tidak berhenti dan menyerah. Masih ada semangat yang tersisa dan harus terpakai di level terakhir bersama Bunda Sayang Batch #5 Chapter Surabaya

Saya bahkan tidak tahu next semester bakalan masih bisa menjadi Fasil atau tidak. Kesibukan menjadi ibu dengan anak kedua pasti tidak kalah.

Cancel Cancel Go Away…

Saya kembali mengudarakan slogan itu setiap malas datang. Sambil membaca tulisan-tulisan yang masuk, saya pun mencoba memperbaiki kesalahan demi kesalahan yang ada. Mereka mundur, tentu saya akan pincang dan tak ada lagi bantuan sukarela.

Ya, menjadi perangkat kelas memang hanya keberkahan dari Allah yang mereka dapat karena sudah mempermudah peserta lainnya dalam menuntut ilmu di Bunda Sayang.

Ancaman pengunduran diri sukses membuat saya sadar dan mengambil langkah untuk menjadi lebih baik dari level sebelumnya.

Pohon Literasi = Pohon Inspirasi

Sungguh menjadi fasil itu berkah luar biasa. Banyak hal yang bisa diperkaya dengan berada di tengah-tengah mahasiswi yang berjuang dalam Bunda Sayang. Dan untuk materi Menstimulasi Anak Membaca ini, saya dapat banyak inspirasi dengan bertaburnya banyak Pohon Literasi.

Ada yang membuatnya versi digital, ada juga yang bentuk nyata meskipun sebagian besar dalam bentuk dua dimensi saja. Tetapi saya bersyukur karena semuanya senang mengajak buah hati untuk membaca dan menjadikan sebagai salah satu habit yang baik.

***

Well… berharap virus literasi terus bertambah banyak di kalangan ibu-ibu Bunda Sayang, khususnya di Batch #5 Chapter Surabaya 2. Karena membaca adalah kebiasaan yang tidak akan pernah membawa pada malapetaka.