Mengajak Salfa ke Goa Margo Trisno – Signal selalu jadi hal yang membuat kepala mumet bin wajah mecucu sejak berada di kampung sebelum lebaran sampai sekarang. Harus melawan rasa kantuk yang luar biasa untuk bisa posting ODOP (One Day One Post) meskipun banyak yang masih di draft dan menunggu signal bersahabat untuk di-publish sekaligus. Tak apalah jika dianggap menyalahi aturan, tetapi bagi saya pribadi tantangan tetap harus diselesaikan.

Nah, kali ini ingin bercerita tentang aktivitas setelah lebaran dengan mengajak Salfa jalan-jalan. Tepatnya sih bundanya yang kepingin jalan-jalan, haha. Untunglah Salfa senang diajak kemana-mana. Lebih banyak tidak rewelnya karena selalu excited dengan hal-hal yang baru dilihatnya. Seperti halnya pada momen beberapa minggu lalu, tepatnya H+3 setelah lebaran. Ayahnya Salfa mengajak saudara-saudaranya ke Kecamatan Ngluyu, Kab. Nganjuk, Jawa Timur.

Mengajak Salfa ke Goa Margo Trisno, Nganjuk

Ada apa di sana? Sebenarnya sih ayahnya Salfa hanya ingin hunting kuliner khas Nganjuk yaitu Asem-Asem Ngluyu. Masakan yang dibuat dari bahan dasar daging kambing dan daun kedondong. Tetapi karena sudah terlanjur ada di Ngluyu, ya sayang sekali jika tidak sekalian menjejak di Goa Margo Trisno yang posisi tepatnya di Dusun Cabean, Desa Sugih Waras.

Awalnya saya sama sekali tidak ada bayangan jika mencapai Goa ini akan membutuhkan energi yang luar biasa besar. Menuju mulut gua ini, harus ditempuh perjalanan kaki dan menanjak sekitar 650 meter. Saya dan suami yang berwajah tak kurus, ngos-ngosan banget menuju mulut goa ini. Tadinya ingin berhenti tetapi sayang sekali jika melewatkan kesempatan waktu yang ada. Yap, jarak dari Kertosono (rumah mertua) ke daerah ini lumayan jauh dan lama. Biarkan capeknya diurus belakangan.

Lalu, Salfa apa kabar? Di sinilah ujian saya dan ayahnya dalam rangka menyusuri jalan menuju Goa Margo Trisno. Andai saja nggak menanjak, tentu tidak ada drama ngos-ngosan, bahkan muntah-muntah saking letihnya. Tetapi benar-benar jalan menanjak ini yang membuat perut buncit, badan berlemak dan salah kostum menjadi tantangan tersendiri. Ya iyalah, jalan menanjak lalu pakai sandal casual yang biasa dipakai ke event-event blogger apa nggak mati gaya namanya? Haha. Belum lagi harus menggendong Salfa yang saat ini sudah makin ceriwis.

Awalnya Salfa nggak mau digendong. Ingin jalan sendiri dengan menaiki satu demi satu anak tangga. Apalagi memang Salfa suka naik turun tangga (di mall). Tetapi sepertinya rasa lelah yang menyapa tubuhnya tidak bisa dihindari sehingga minta digendong. Dan juga kami memburu waktu agar cepat sampa ke mulut gua. Semakin diperlambat jalannya, waktu terus berjalan dan semakin sore. Perjalanan tidak hanya melewati jalan besar, tetapi juga jalan kecil yang di samping kiri-kanannya masih berupa hutan. Nggak kebayang deh malam-malam lewat situ.

Soal sejarah Goa Margo Trisno, nanti saya akan bahas lebih lanjut di blog wisata saja. Nanti Salfa merasa blog khusus untuknya dicampuraduk dengan berita wisata milik bunda dan ayahnya, hehe. Kami bahagia karena Salfa menikmati perjalanan sekaligus refreshing ini.

Hmm… kalau teman-teman sekalian liburan lebarannya kemana saja? Sharing ke Salfa, yuk! Siapa tahu jadi referensi lagi tahun depan.