Mengambil Hikmah dari Metode Parenting Dokter Iswiyanti Widyawati – Pekan lalu saya diberi informasi oleh teman blogger bahwa ada seorang perempuan inspiratif yang siap berbagi pengalaman soal mendidik anak. Soalnya teman tersebut tahu kalau saya sedang getol-getolnya mempelajari ilmu parenting. Maka saya pun menerima tawaran tersebut karena menurut saya, mengambil hikmah dari sebuah metode parenting tidak ada salahnya jika langsung interview yang bersangkutan.

Apalagi mendengar profesi beliau adalah seorang dokter, tentunya ada hal menarik pastinya dalam hal time management, saat bersama anak dan pengabdian sebagai seorang dokter. Ditambah suami beliau juga salah seorang dokter spesialias anastesi. Tentunya kesibukan tersebut harus disiasati agar anak-anak tetap mendapatkan porsi perhatian khusus agar kelak tak salah jalan.

Saya pun bertemu beliau, dr. Iswiyanti Widyawati, di sebuah restoran di Surabaya. Awal melihat sosoknya, saya sedikit segan karena usia yang tidak lagi muda plus datang dengan keluarganya (anak-menantu-cucu). Namun, seketika saya tepis itu ketika mulai bersalaman dengan beliau. Senyum dan sapaan yang ramah langsung menggugurkan deg-degan saya.

Kemudian mulailah perbincangan dengan beliau. Teman-teman seprofesi dengan saya, freelancer of writing, pun menggali informasi sesuai dengan genre tulisan yang mereka senangi. Dan tentunya saya mencari sisi pendidikan anak yang perlu saya tuliskan di sini sebagai bahan refleksi untuk saya pribadi (dan Alhamdulillah jika demikian adanya bagi pembaca).

Berikut poin-poin besar sebagai hikmah mengulik metode parenting dari dr. Iswiyanti Widyawati:

dr. Iswi dan suami yang menemani cucu bermain di Playground

Anak Mengenal Pekerjaan Orang Tua

“Saya sering ajak anak ketika saya bekerja. Yaa supaya mereka tahu profesi ibunya seperti apa.” Ucap dr. Iswi dengan nada suara yang sebagaimana nada perempuan yang sudah lama menjalani kehidupan di dunia.

Bagi dr. Iswi, mengajak anak untuk mengenal dunia pekerjaan orang tuanya menjadi salah satu jalan agar mudah memahamkan kepada mereka. Sehingga tak ada anak yang memaksakan kehendak di suatu waktu dimana orang tuanya sedang benar-benar harus melakukan kewajibannya sebagai dokter. Sebab kita tahu sendiri dokter sudah memegang sumpah profesi sebelum melaksanakannya, bukan?

Di samping itu, dr. Iswi juga menjadikan perkenalan dunia pekerjaan kepada anak sebagai salah satu jalan motivasi agar tidak takut bekerja untuk membantu yang membutuhkan. Apalagi fokus dr. Iswi memang lebih kepada pendidikan kesehatan.

Anak Harus Hafal Alquran

Beruntung sekali menjadi dr. Iswi karena 4 dari 5 anaknya mengenyam pendidikan di pesantren. Hal ini sebagai jalan dr. Iswi agar anak-anak mengenal agamanya lebih dalam lagi plus sangat mengharapkan mereka menghafal ayat-ayat suci Alquran. Karena menurut dr. Iswi, menghafal Alquran lambat laun akan mengarahkan pribadi anak itu sendiri untuk tetap berada dalam kebaikan. Untuk itu, dr. Iswi ikut memberikan penjelasan kepada anak-anaknya terkait makna dari ayat-ayat Alquran tersebut.

Ilmu agama yang dimiliki oleh dr. Iswi pun bukan seketika diperoleh sejak lahir begitu saja. Tetapi pendidikan dari orang tuanya yang hidup di daerah Nganjuk, Jawa Timur, telah menanamkan kepada dr. Iswi untuk tidak jauh dari agama. Ditambah lagi dr. Iswi rutin mengisi ruhiyah-nya dengan mengikuti kajian Islam rutin yang dinaungi oleh PKS.

Mendahulukan Kebutuhan Di Atas Keinginan

Untuk persoalan mengajarkan smart financial kepada anak-anak, dr. Iswi selalu mengajak anak untuk mendahulukan kebutuhan di atas kepentingan. Bahkan sekalipun barang ber-merk. Dr. Iswi memberikan gambaran bahwa sejatinya kita memiliki barang-barang tidak lain untuk mendukung aktivitas. Bukan sekadar ikut-ikutan trend barang branded meskipun sebenarnya bisa saja membelinya.

“Sakjane sing penting barang’e opo merek’e?” celetuk dr. Iswi, ibu dari 6 anak.

Dengan pola pikir seperti itu, anak-anak dr. Iswi tidak silau dengan hal-hal kekinian yang justru bisa jadi tidak ada manfaatnya. Naudzubillah kalau hanya buang-buang uang sebab prinsip hidup dr. Iswi ini yang paling membekas di kepala dan hati saya adalah segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini AKAN dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah.

Be Yourself!

Satu lagi yang menarik dari metode parenting dr. Iswi yaitu tidak membebankan anak harus menjadi ini dan itu. Apalagi meminta anaknya untuk menjadi dokter sebagaimana profesinya dan suami saat ini. 6 anaknya, 4 perempuan dan 2 laki-laki, diberikan kebebasan untuk menjadi apapun yang mereka sukai asalkan tetap positif.

“Saya tidak mau membebani anak-anak. Silakan pilih yang sesuai minat masing-masing. Tapi hafalan Alquran tetap harus ada.” Tegas dr. Iswi.

Seperti yang saya pahami juga bahwa anak-anak terlahir dengan skill dan keisitimewaannya sendiri. Sebab ketika itu dipaksa, maka milyaran sel di otak seketika akan mengalami kekacauan. Maka membiarkan anak mencari apa yang menjadi passion-nya menjadi solusi terbaik.

***

Well.. itulah sedikit poin hasil interview saya dengan dr. Iswiyanti Widyawati beberapa hari lalu. Dengan kapabilitas yang mumpuni dalam pekerjaan, pribadi yang santun, cerdas dan pastinya memperhatikan pendidikan anak-anaknya, maka sudah wajar kalau dr. Iswiyanti dilamar oleh Partai Keadilan Sejahtera sebagai Caleg Dapil Surabaya & Sidoarjo.

Bincang-bincang Pagi bareng dr. Iswiyanti Widyawati

Karena menurut informasi, di PKS itu sendiri bukan anggotanya yang mencalonkan diri melainkan dicalonkan. Hmm… semoga tetap amanah ya beliau ketika lolos dalam pesta demokrasi nanti. Kita doakan!