Menstimulasi Anak dengan Matematika Logis (Day 10): “Salfa Umur Berapa?” – Sebenarnya ini bukan persoalan yang terjadi sekali dua kali. Sebab Salfa seringkali ditanya soal umur ketika bertemu dengan orang-orang. Hal ini dikarenakan Salfa begitu aktif, cerewet dan seringkali ada tingkahnya yang memancing perhatian orang yang melihatnya. Usia 3 tahun dengan kemampuan bicara yang sangat lancar bahkan sangat mudah bergaul dengan siapa saja yang ditemuinya, membuat daya tarik tersendiri memang.

Namun, jika Salfa ditanya soal usianya saat ini berapa, jawabannya masih sering keliru bahkan enggan menjawab karena dianggapnya sebagai pertanyaan yang membuatnya malu jika salah. Jadi tidak jarang kemudian pertanyaan itu ditepis dengan kata tidak tahu. Dan kalau sudah seperti itu, it means saya harus meluruskan agar Salfa memahami usianya.

“Eh, kamu umur berapa sih? Kok cerewet begini?” (salah satu kalimat yang terlontar dari beberapa orang selama ini)

“Mmm… segini.” (sambil menunjukkan jari yang kadang angka 2 kadang juga 5)

Lalu saya pun ikut menengahi:

“Fa, ditanya umur berapa tuh sama Tante. Ayo berapa?”

“Tiga taun.” (menjawab sambil tubuhnya yang tidak mau berhenti bergerak)

“Iya, betul. Salfa sudah umur tiga tahun. Tiga tahun itu seperti ini.” (menunjukkan 3 jari)

“Oke.”

“Salfa sudah sekolah?” (pertanyaan lanjutan yang biasanya dilontarkan orang)

“Belum. Kata bunda Salfa belum 5 taun.”

“O begitu. Belum sekolah tapi kok dah pinter?”

“Iyelah. Diajari bunda sama ayah.” (jawabannya polos dengan style Upin Ipin)

Jika sudah seperti ini, saya pun kadang merasa ngga enak dengan orang yang bertanya. Khawatir disangka jawaban Salfa itu settingan. Tetapi bersyukurnya karena memang Salfa entah dapat kekuatan darimana sehingga mampu menjawab pertanyaan yang kadang unpredictable. 

***

So, Salfa belajar bagaiman mengemukaan usianya masih perlu belajar. Kada hanya dijawab dengan kata “tiga” kadang juga hanya menunjukkan jari-jarinya berjumlah tiga, itupun seringkali meleset. Untuk itu tetap harus terus didampingi saat mengemukakan jawaban agar tidak berada dalam lingkungan yang keliru terus-menerus. Sebab anak kecil sangat cepat menyimpan kenangan di memori otaknya.