Menstimulus Anak dengan Matematika Logis (Day 7): Minum Susu – Hari ini sedikit di luar dugaan. Tidak biasanya Salfa harus mengajak saya berdebat hingga akhirnya saya kalah juga, haha. Debatnya dimulai sejak Salfa bangun tidur yang entah sedang habis mimpi apa sehingga sampai menjelang sore, mood anak dengan rambut keriting sungguh membuat saya sering menghela napas panjang. Persoalan yang kemudian menjadikan saya akhirnya mengalah dan Salfa bisa belajar dari situ adalah minum susu.

Lho kok minum susu saja jadi perdebatan? How come?  Ada yang bertanya demikian? Maka saya jelaskan kronologisnya. Jadi, sekarang ini Salfa sedang giat minum susu. Bahagia sih lihatnya karena artinya Salfa sudah bisa meminta apa yang dibutuhkannya. Namun, meminta untuk minum susu dengan jumlah berlebih, itu yang sama sekali mengkhawatirkan buat saya. Hmm… ini bukan persoalan dana kok. Hanya saja sistem pencernaan Salfa yang sedikit mengalami gangguan dengan jumlah asupan susu yang masuk ke tubuhnya.

“Nda, minta susu lagi, boleh?”

“Maaf, Fa. Hari ini sudah minum 2 botol.”

“Ndaaa, sekali ini saja. Boleh lah.” (merayu dengan kalimat dan style a la Upin Ipin)

“Salfa, tadi sudah minum dua botol lho. Itu sudah cukup untuk hari ini.”

“Salfa masih laper.” (sambil elus-elus perutnya)

“Tetap tidak bisa Bunda beri, Fa. Kalau lebih dari dua botol, perutnya nanti sakit seperti kemarin. Akhirnya BAB terus kan?”

“Jadi Salfa hanya boleh minum dua botol?”

“Iya. Karena itu sudah lebih dari 250 mL, Nak.”

“250 mL apa, Nda?”

“Itu volume susu yang Salfa sudah minum dan masuk dalam perut.”

“Salfa jadinya kenyang?”

“Iya, Nak. Kan nanti juga masih makan nasi, buah sama kerupuk.”

“Iyelah.” (mengakhiri dengan wajah yang saya yakin masih penasaran dengan susu)

***

Hari ini Salfa belajar bagaimana harus menahan diri untuk minum susu sesuai keinginan. Takaran jumlah susu yang harus diminum tidak boleh sembarangan karena akan berdampak dengan sistem pencernaannya, khususnya pada intensitas BAB. Jadi, hari ini lagi-lagi Salfa belajar bagaimana berpikir tentang kata “cukup dan berlebih lewat minum susu”