Menulis Puisi, Me Time seorang IRT yang Tidak Biasa – Menjadi seorang ibu rumah tangga memang sebuah keputusan besar dan tidaklah mudah. Seorang perempuan yang harus siap siaga 1×24 jam setiap harinya adalah bentuk konsekuensi yang paling sederhana di antara tugas-tugas lainnya. Bahkan kalau boleh dibilang, tiada detik yang terlewat semuanya dilakukan demi seluruh anggota keluarga.

Namun, bukan berarti bahwa seorang Ibu Rumah Tangga (yang sering disebut dengan IRT), juga memiliki hak untuk melakukan “me time” alias sesuatu yang terlepas dari kewajibannya tersebut. Eits, tunggu dulu! Lepas bukan berarti selamanya lho ya… just relax for a moment to get fresh air… semacam itulah sepertinya.

Menulis Puisi

Nah, salah satu me time yang tidak biasa kutemukan dalam sebuah perjalanan hidup teman blogger saya (namanya Mbak Inuel) adalah menulis puisi. Memang sih Mbak Inuel yang bernama asli Husnul Khotimah tidak menuliskan “Label Puisi”sebagai “Me Time” di blognya. Tetapi saya menangkap aroma kebebasan mengungkapkan isi hati disana. Setiap puisi tidak panjang (karena memang puisi yang panjang seringkali membuat saya gagal paham) namun berarti.

Ibu dari Kinza ini memang terlihat tenang karena setiap rasa bisa dituangkannya ke dalam puisi. Saya juga jadi ingat kalau dulu pernah menulis puisi hingga berlembar dan dikumpulkan almarhum Bapak dalam sebuah buku. Sayangnya, buku itu hilang setelah Bapak harus dirawat bolak-balik ke rumah sakit. Kondisi rumah jadi tidak begitu diurus karena penyakit Bapak yang membuat kami sekeluarga shock to the max. Namun demikian, saya senang karena semua puisi tersebut sudah dibaca oleh Bapak. Soalnya banyak yang mengungkapkan isi hati saya. Bahkan seolah bercerita kalau saya butuh perlindungan yang lebih lama dari sosoknya sebagai Bapak.

Oiya, ngomong-ngomong soal puisi Mbak Inuel, sebagai seorang penyuka puisi juga, saya menyarankan puisinya dibukukan. Salah satu jalan untuk menghindari orang-orang jahil di dunia maya yang suka main copy paste seenaknya. Apalagi jika tidak disertai dengan sumber. Saya sudah baca beberapa puisinya, meskipun pendek tetapi tetap memiliki “rasa” dan “isi”.

Kalau bicara soal Mbak Inuel, beliau seorang penulis bahkan writing addicted. Saya mengatakan demikian karena pekerjaannya menyediakan jasa konten pasti bukan keputusan main-main. Soalnya, saya pernah menjalani kehidupan seperti itu juga saat masih di Kalimantan. Bagaimana dengan sekarang? Saya lebih fokus kepada tumbuh kembang Salfa, anak saya yang baru berusia 2 tahun. Karena waktu itu tidak akan kembali sehingga saya harus benar-benar melakukan yang terbaik saat ini, hingga Salfa sudah mampu melakukan semuanya sendiri.

Well, hari ini IRT melakukan me time dengan menulis puisi. Sebab tidak selamanya me time harus keluar dari rumah, menyendiri bahkan no touch sama sekali dengan keluarga, bukan? Kalau mau baca puisi sederhana Mbak Inuel, silakan mampir ke Dunia Jomblo-nya.