Perempuan yang Banyak Menginspirasi Perjalanan Hidupku Setahun Terakhir – Bukan maksud untuk mengelu-elukan manusia ciptaanNya. Bukan maksud pula untuk menjadikannya sebagai kiblat ibu-ibu di seluruh dunia. Sebab, sebelum saya menuliskan ini, beliau sudah berada di dalam posisi itu. Dan saya menulis ini pun karena sejatinya karena teringat di hari International Woman’s Day.

Jika ada yang mengenal seorang perempuan yang resign dari dunia kerja dan beralih untuk menjadikan keluarganya lebih tertata dan menjalankan fungsi sebagaimana seharusnya, isteri dari Bapak Dodik Mariyanto, pasti semua bisa menebak beliau. Ya, beliau adalah Bu Septi P. Wulandani.

Bagaimana Bu Septi Menginspirasi Saya?

Sekitar satu tahun yang lalu, suami sedang gencarnya mencari informasi seputar gaya parenting di internet. Ternyata diam-diam suami saya belajar bagaimana mengasuh anak, menjalankan peran ayah dan pastinya bagaimana menjadi pemimpin dalam rumah tangga kami.

Pola pengasuhan yang saya lakukan ternyata masih tidak terlepas dari bayang-bayang masa lalu (baca: pendidikan orang tua dulu). Mulai dari mengancam, bersuara keras bahkan pernah sampai menyakiti fisik anak (baca: mencubit) hingga gadget menjadi solusi paling aman agar anak diam dan tenang. Melihat kondisi ini, suami akhirnya memberikan informasi bahwa apa yang saya lakukan sejatinya bukanlah sebuah pola pendidikan anak yang benar. Dan dari sinilah awal saya mengenal sebuah komunitas parenting bernama Ibu Profesional.

Dari video youtube yang diberikan oleh suami, saya pun akhirnya pelan-pelan belajar bagaimana seharusnya menjadi ibu dengan anak balita aktif. Apa yang sudah terlewatkan oleh saya dan apa yang harus saya lakukan sekarang juga. Saya pelan-pelan mengikuti hingga kemudian saya masuk ke dalam komunitas tersebut sampai sekarang.

Allah Maha Baik karena akhirnya di awal 2018 lalu, saya diberikan kesempatan berdiri tepat di hadapan Bu Septi. Entah darimana energi bahagia, sedih dan haru itu datang. Saya memeluk tubuh beliau dengan maksud ingin membisikkan: “Terima Kasih, Bu. Ibu sudah membawa saya ke jalan yang seharusnya menjadi ibu. Saya yang tadinya benar-benar dihinggapi rasa galau untuk bekerja atau stay at home membersamai anak, akhirnya bisa saya jalani dengan berusaha enjoy dan mengharap banyak pahala.”

Namun, belum juga bibir saya bisa mengeluarkan kata, saya malah hanya menangis dan memeluk erat beliau. Saya benar-benar bahagia sudah mencoba memilih jalan yang sekarang meskipun I know that many people judge me with negative statements. Dan mereka pun bukan orang yang jauh hubungan kekerabatan dengan saya. Ya, banyak pernyataan negatif justru datang dari keluarga besar sendiri. Apalagi jika diperhadapkan dengan metode saya mengasuh anak saat ini. But, I could not make them agree with my choice, could I? Jadi, biarlah mereka dengan persepsinya sendiri.

Pesan Bu Septi yang Selalu Jadi Motivasi

Rezeki itu Pasti. Kemuliaan yang harus Dicari.

Banyak yang salah kaprah dengan ini hingga kemudian meninggalkan statusnya sebagai ibu untuk mencari sesuatu yang sudah pasti. Memang rezeki itu dicari, tetapi bukan dengan meninggalkan hak-hak Allah yang menjadi pencipta diri. Allah sudah menentukan tujuan hidup kita di dunia ini dengan berbagai jenis amanah, maka sudah sepantasnya memberikan penghambaan dengan menjadikan tujuan tersebut sebagai sesuatu yang selalu harus dicari.

Duh kok mbulet ya! Haha. Intinya saya tidak takut lagi akan rezeki Allah. Tidak khawatir tertukar atau diambil orang. Sebab semua sudah diberikan sesuai kadarnya. Bahkan sekalipun orang berusaha untuk menghalangi, tetap saja Allah yang memilihkan jalan lain. The next door will be opened!

***

Well… thanks a lot, ya Bu Septi. Saya belum bisa memberikan apa-apa sebagai rasa terima kasih selain doa agar semua ilmu parenting yang ibu sebarkan bisa terus bermanfaat jadi ladang amal jariyah. Salam juga buat anak-anak hebat yang selalu menginspirasi dan kelak menjadikannya contoh untuk Salfa (anak balita aktif saya) di masa depan.

Selama Hari Perempuan Internasional…