Pertukaran Pelajar Bunda Sayang (Bagian 1): Silaturahim ke Kelas Tangerang 1- Menjadi salah satu peserta dalam ajang pertukaran pelajar di Bunda Sayang Batch #2, sungguh tidak pernah saya mimpikan sebelumnya. Bahkan saya sempat terlewat informasi mengenai program ini. Setelah diinformasikan oleh salah satu teman satu kelas di Bunda Sayang Batch #2 Surabaya, barulah saya paham tentang prosedur dari Pertukaran Pelajar (kemudian disingkat PerPel) ini.

Menjalani perkuliahan Bunda Sayang memang bagai roller coaster, karena semangat kadang sedang tinggi sekali, kadang juga berada di paling bawah. Senantiasa harus men-support satu sama lain. Dan beruntung karena saat ini juga sedang berstatus sebagai fasilitator sehingga reminder itu selalu ada karena diingatkan secara tidak langsung untuk selalu disiplin dengan waktu.  

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mbak Fithrah Syawaliyah yang saat ini menjadi Fasilitator saya di kelas Surabaya, Bunda Sayang Batch #2. Orang pertama yang memberikan apresiasi untuk tugas saya selama menjalankan game atau tantangan sehingga saya makin semangat untuk benar-benar memberikan yang terbaik. Karena hidup ini sejatinya dikejar oleh waktu.

Kelas Tangerang 1 yang Menyenangkan

Jujur saja, saat diminta untuk masuk ke kelas Tangerang 1, saya deg-degan bahkan gugup. Saya juga bingung karena sedang berada di luar kota Surabaya (tepatnya Mojokerto). Koneksi internet pun membuat saya harus keluar dari kamar penginapan agar bisa tersambung. Untunglah pihak penginapan punya koneksi wifi meskipun tidak selancar di rumah saya, hehe. Bersyukur sekali bisa tetap bersilaturahim.

Ada yang menanyakan bagaimana kita saya sehingga terpilih menjadi peserta PerPel. Saya hanya mengatakan bahwa selama ini mayoritas game saya tulis di tengah malam (sekitar 1 atau 2 jam sebelum DL submit berakhir). Karena waktu itulah yang paling aman dan nyaman bagi saya. Anak sudah tidur dan suami juga masih sibuk di depan PC untuk mendesain pesanan undangan. Maka saya sangat enjoy di situ.

Saya juga mengatakan bahwa selama ini target menulis tantangan setiap level adalah minimal 200 kata, sehingga saya harus pastikan bahwa semuanya mencapai di angka itu sebagai target minimal. Dan jika ada kemauan insya Allah dipermudah oleh sang Maha Pemberi Waktu dan Tenaga.

Ada juga yang tanya: Traveling sebagai hobi itu dijalankan seperti backpacker atau bagaimana? Hmm… jujur saja selama ada anak, kemana-mana tidak akan bisa bergaya backpacker. Karena kebutuhan anak otomatis sudah memakan satu tas, belum lagi keperluan saya. Sehingga selama ini jika keluar kota, pasti selalu dengan minimal 2 tas. Kalau satu tas saja, bisa patah punggung saya, hehe. Dan traveling ke Mojokerto kemarin yang saya membawa anak sendiri tanpa suami, Alhamdulillah berjalan lancar dengan membawa dua tas.

Ah, teman-teman di Kelas Tangerang 1 memang antusias sekali. Semakin banyak saja yang bertanya, namun waktu yang diberikan hanya 30 menit. Jadi, saya hanya berpesan kepada teman-teman untuk tidak patah semangat. Selalu percaya bahwa kita adalah orang pilihan menjalani perkuliahan Bunda Sayang, maka bersungguh-sungguhlah… 

Terima Kasih Mba Rima (Fasil Tangerang 1 Bunda Sayang Batch #2)

Sekali lagi terima kasih atas apresiasinya untuk Mba Rima dan keluarga besar Kelas Tangerang 1 Bunda Sayang Batch #2. Semoga senantiasa semangat menjalani tugas dan kewajiban sampai tuntas.

Duyung Trawas Hill – Mojokerto, 4 November 2017